Bocah-bocah Pendulang Emas di Pantai Pohon Batu Maluku

CNN Indonesia | Kamis, 15/04/2021 20:16 WIB
Para penambang emas di Maluku Tengah membawa anak mereka lantaran dianggap memberi keberuntungan. Warga yang berburu emas di Pantai Pohon Batu, Desa Tamilou, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, Rabu (15/4/2021).(CNN Indonesia/Said)
Ambon, CNN Indonesia --

Meski sempat ada insiden bocah tenggelam, tambang emas rakyat di pesisir pantai Pohon Batu, Desa Tamilouw, Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, tetap dihiasi anak-anak pencari logam mulia, terlebih jelang lebaran 2021.

Para orang tua pun tetap membawa anak-anak mereka lantaran dianggap membawa keberuntungan. 

Ahmad Irsan (10), siswa kelas 5 Sekolah Dasar (SD), mengaku mengikuti orang tuanya mencari emas demi bisa menabung untuk membeli baju lebaran.


"Sehari bisa 5 kaca atau setengah gram emas, itu kalau tekun dari pagi hingga sore," tutur dia--yang terlihat gemetar usai berendam lama di air laut untuk mendulang emas-- saat ditemui di lokasi tambang emas, Rabu (14/4).

"Mumpung masih libur sekolah jadi mengisi hari libur dengan mencari emas, biar nambah-nambah uang beli baju lebaran," akunya, yang meruiswa yang masih duduk

Di tempat yang sama, seorang perempuan penambang emas mengaku membawa buah hatinya ikut menyisir tambang karena menganggap anak kecil membawa keberuntungan.

"Iya, anak-anak kecil itu punya sisi bagus kalau cari emas. Mereka per hari bisa mendapat 5 kaca atau setengah gram emas," ucapnya, sambil mendulang pasir emas.

Sebelumnya diberitakan seorang bocah 5 tahun tenggelam saat mengikuti orang tuanya, yang merupakan Dusun Ampera, Desa Tamilouw, mendulang emas di Pantai Maluku Tengah, Senin (5/4) pukul 16.30 WIT.

Balita tersebut sempat mendapatkan pertolongan warga yang sedang mendulang emas di bibir pantai.


Kebutuhan Pokok

Penambang emas lainnya, Ferdi (23), mengaku perolehan warga dari mendulang logam mulia ini tak sebanyak yang diberitakan. Selama sepekan mencari emas, ia mengaku baru mengumpulkan 12 gram atau senilai Rp5 juta.

"Jadi awal Puasa emas yang dijual 12 gram senilai Rp5 juta lebih. Emas itu kita kumpul selama seminggu atau pertama temukan tambang emas," ujar warga Desa Tamilouw itu, di lokasi tambang, Rabu (14/4).

Sejauh ini, kata Ferdi, warga baru bisa mengumpulkan 2 hingga 5 kaca atau setengah gram emas per hari. "Itu pun kalau tekun mencari emas dari pagi hingga sore," ucapnya.

"Jadi belum ada warga yang mendapat hingga puluhan juta, kalau mereka kumpul-kumpul mungkin iya bisa sampai 12 gram atau lebih,"tuturnya.

Dari hasil penambangan emas ini, lanjutnya, warga hanya memakainya untuk kebutuhan dasar, seperti makan dan minum.

"Jadi kalau ada pemberitaan yang memberitakan bahwa warga sudah mendapatkan belasan gram hingga kilo per hari itu tidak benar, kalau itu benar warga di sini sudah kaya mendadak," imbuh Ferdi.

Dia juga menyebut aktivitas penambangan belum sempat terkendala. Warga, katanya, sedang menggalakkan pembatasan terhadap orang luar ke lokasi tambang karena khawatir dengan sianida dan merkuri.

Infografis 10 Provinsi dengan Izin Tambang Ilegal Terbesar

Tambang emas itu sendiri diketahui ditemukan oleh warga bernama Syarifah saat bersama dua saudaranya sedang mendulang pasir. Warga kemudian beramai-ramai mendulang emas dengan menggunakan peralatan tradisional seperti sekop, kuali, hingga karpet.

Ahli Geologi dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Maluku menyebut tambang emas itu memiliki potensi kandungan emas sedikit. Pasalnya, tambang emas itu kategori emas sekunder (pleser), bukan emas primer yang terbentuk langsung.

Kepala Dinas ESDM Maluku Fauzan Chatib sempat menyebut akan menyetop penambangan emas tanpa izin ini demi menghindari penggunaan sianida dan merkuri. Meski begitu, hingga kini tambang tersebut masih digarap warga.

(sai/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK