Pria Diduga Paspampres Usir Wartawan Hendak Wawancara Bobby

CNN Indonesia | Kamis, 15/04/2021 15:01 WIB
Video Satpol PP, polisi, dan orang yang diduga Paspampres disebut mengusir wartawan menunggu Wali Kota Medan Bobby Nasution untuk wawancara viral di medsos. ksi unjuk rasa wartawan di lingkungan kota Medan, Sumatera Utara, mengkritisi pengamanan berlebihan yang diduga menghalangi kinerja jurnalis untuk di lingkungan Pemkot Medan sejak Menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Bobby Nasution menjadi wali kota, Medan, Kamis (15/4/2021). (CNNIndonesia/Farida)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang yang diduga anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), seorang anggota polisi hingga Satpol PP melarang sejumlah wartawan yang hendak melakukan peliputan di lingkungan Pemerintah Kota Medan, Sumatera Utara.

Rekaman kejadian itu pun viral di media sosial. Saat itu, awak media hendak mewawancarai Wali Kota Medan Bobby Nasution yang merupakan menantu dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Kejadian berawal saat sejumlah wartawan menunggu Bobby Nasution di depan pintu masuk kantor Pemkot Medan. Saat itu datang petugas Satpol PP yang menanyakan keperluan para wartawan menunggu Bobby Nasution. Namun, setelah mendapat penjelasan dari awak media, petugas Satpol PP tersebut meminta wartawan keluar.


"Liputan di sini harus sesuaikan jadwal [wali kota]. Di luar saja, jangan di sini. Kami disuruh Paspampres. Enggak etis di sini. Di luar saja," ucap seorang petugas Satpol PP itu.

Atas permintaan tersebut, awak media pun mempertanyakannya, dan kembali menjelaskan bahwa kedatangan mereka hanya untuk melakukan wawancara Wali Kota Medan Bobby Nasution.

Awak media kemudian menjelaskan bahwa menghalang-halangi tugas pers termasuk pidana sebagaimana diatur dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Mendengar penjelasan dari wartawan tersebut, petugas Satpol PP tersebut pergi.

Selanjutnya, datang petugas kepolisian. Petugas yang memegang portofon (handy talkie/HT) tersebut kembali meminta awak media meninggalkan lokasi.

Alasannya tidak boleh ada seorang pun yang menunggu Wali Kota Medan di depan pintu masuk. Saat itu, awak media kembali menjelaskan bahwa kehadiran di Balai Kota sekedar ingin wawancara.

Setelah mendengarkan penjelasan awak media, seperti petugas Satpol PP sebelumnya, aparat kepolisian itu masuk kembali.

Tak lama, seorang pria berkemeja safari hitam diduga Paspampres kembali meminta awak media meninggalkan Balai Kota. Dalam video yang beredar dan viral di media sosial, pria tersebut meminta wartawan tidak mengambil gambar atau merekam video.

"Dimatiin dulu lah (ponselnya), dimatiin. Biar sama-sama enak. Saya pun orang intelijen," ucap pria tersebut.

Pria tersebut juga meminta agar wawancara harus meminta izin terlebih dahulu, termasuk melakukan wawancara cegat pintu (doorstop)

"Ya enggak bisa sekarang dong, yang masalah doorstop kan kita punya aturan mas. Mas pasti ngerti enggak bisalah seperti itu. Kalau mau doorstop itu pagi prosedurnya diikuti," ujar petugas bersafari hitam itu.

"Sampeyan doorstop sudah ada izin atau belum, ke umum atau seperti apa. Jangan tiba tiba doorstop, itu enggak bisa juga," ucap pria bersafari hitam tersebut.

Selain itu, ia pun menegaskan kepada para wartawan bahwa saat itu masih jam kerja pemkot Medan.

"Inikan kerja dari kantorkan. Mas dan mbak juga tahu, kalau mengganggu ketenangan dan kenyamanan orang juga ada pasalnya kan. Jadi, enggak sembarangan. Jangan hidupkan handphone, sikit-sikit jangan direkam, hapus itu. Matiin dulu." ucap Paspampres tersebut meminta wartawan mematikan ponsel.

Setelah itu, awak media kemudian meninggalkan lokasi.

Atas pengusiran tersebut, Ilham salah satu wartawan media lokal yang diusir mengaku kecewa dengan perlakuan petugas pengamanan Balai Kota Medan.

"Kami sudah jelaskan mau wawancara, tapi malah mendapat perlakuan yang tidak baik. Bahkan polisinya pegang bahu saya meminta saya keluar. Jadi saya bilang jangan sentuh, karena ini masih Corona," ujar Ilham.

Terpisah, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut, Hermansjah, mengkritik tindakan pengusiran tersebut. Dia mengatakan polisi, paspampres hingga Satpol PP tidak boleh menghalangi tugas jurnalis.

"Seharusnya menantu Presiden Jokowi itu lebih welcome atau terbuka dengan wartawan. Tidak boleh polisi, paspampres menghalangi tugas jurnalistik wartawan, karena wartawan bekerja juga dilindungi UU," kata Hermansjah, Kamis (15/4).

Hermansjah bahkan membandingkan sikap Bobby Nasution dengan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi. Menurutnya, Edy yang merupakan mantan Pangkostrad atau pensiun TNI berpangkat jenderal bintang tiga justru lebih terbuka dengan keberadaan wartawan.

"Harusnya Wali Kota meniru apa yang dilakukan Gubernur. Sebagai Wali Kota Medan yang baru, dan status sebagai menantu orang nomor satu di Indonesia wajar mendapatkan perhatian lebih dalam merealisasikan visi misinya. Seharusnya dia juga kalau enggak mau doorstop buat kegiatan yang bisa menjadi saluran untuk wartawan bertanya visi misinya sebagai wali kota," kata dia.

Halaman berikutnya: Klarifikasi Pemkot Medan

Klarifikasi Pemkot Medan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK