Peneliti Jamin Harga Vaksin Nusantara Setara dengan Lainnya

CNN Indonesia | Senin, 19/04/2021 07:44 WIB
Peneliti Utama Vaksin Nusantara dari RSPAD Gatot Subroto, Jonny menyatakan harga vaksin nusantara akan setara dengan harga vaksin lainnya. Ilustrasi vaksinasi. (CNN Indonesia/ Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti Utama Vaksin Nusantara dari RSPAD Gatot Subroto, Jonny menjamin harga vaksin yang dibesut pihaknya bersama eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto sebanding dan bersaing dengan sejumlah merk vaksin lain yang telah beredar di Indonesia.

Pernyataan Jonny merespons tudingan sejumlah pihak yang menyebut vaksin Nusantara akan berbiaya mahal sebab menggunakan metode modifikasi sel dendritik.

"Saya bilang akan sebanding dengan harga vaksin lain," ujar Jonny lewat sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Minggu (18/4).


Dia membantah pernyataan pihak yang menuding vaksinnya akan berbiaya mahal. Jonny mengakui vaksin Nusantara memang dikembangkan dengan memodifikasi sel dendritik.

Menurutnya, modifikasi sel dendritik dalam pengembangan vaksin Nusantara berbeda dengan modifikasi sel dendritik untuk kanker. Jonny menerangkan, pihaknya hanya mengambil sebanyak 40 mililiter dalam setiap sampel darah yang diambil.

Jumlah itu, katanya, jauh lebih sedikit dibanding sampel darah yang diambil untuk pengembangan sel dendritik untuk kanker.

"Nah itu mungkin yang mahal karena untuk pengobatan sel kanker dan tidak bisa sekali. Yang sampai ratusan juta. Ya itu untuk kanker. Kok disamain sama kita. Wong yang ini cuma sekali dengan pengambilan darah 40 mililiter," kata Jonny.

Meskipun demikian, pada kesempatan tersebut Jonny tak menyebutkan kisaran harga yang dipatok dari setiap suntikkan vaksin Nusantara. Dia malah menyebut hargaya tak jauh dari vaksin yang sudah dinyatakan digunakan pemerintah untuk vaksinasi massal. Iamerinci variasi harga vaksin yang saat ini digunakan di Indonesia, seperti Sinovac USD30, Pfizer US$70, atau AstraZeneca senilai US$10.

"Ya sekitar mirip-mirip situ lah. Ya di antara itu aja, yang jelas kita akan sebanding dengan mereka," katanya.

Pengembangan vaksin Nusantara saat ini mandek setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum mengeluarkan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) uji klinis fase II Vaksin Nusantara karena tak memenuhi sejumlah syarat, di antaranya syarat cara pembuatan obat yang baik (CPOB).

BPOM juga merilis beberapa temuan mereka yaitu komponen yang digunakan dalam penelitian Vaksin Nusantara tidak sesuai pharmaceutical grade, kebanyakan impor, hingga antigen virus yang digunakan bukan berasal dari virus corona di Indonesia.

(thr/ugo)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK