Nenek Pencari Emas Tenggelam di Tambang Ilegal Maluku Tengah

CNN Indonesia | Senin, 19/04/2021 10:54 WIB
Sejumlah kecelakaan warga saat menambang emas di tambang tanpa izin kerap terjadi, mulai dari seorang nenek hingga bocah tenggelam. Tambang Pohon Batu di Desa Tamilouw, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Jumat (15/4) (CNN Indonesia/Said(CNN Indonesia/Said)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang nenek dilaporkan tenggelam di lokasi tambang emas tanpa izin temuan warga pesisir pantai Pohon Batu, Desa Tamilouw, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah.

Seorang warga Desa Tamilouw Kamarudin Tubaka (36), menerangkan peristiwa nenek tenggelam itu terjadi Senin (5/4) pukul 16.30 WIT. Warga lanjut usia itu berhasil diselamatkan warga yang sedang mendulang emas di sekitar bibir pantai.

"Soal nama dan umur nenek itu belum sempat tahu," ujarnya, Minggu (18/4) malam.


Dia mengatakan, berselang beberapa jam, dua bocah juga dilaporkan tenggelam namun warga lebih dulu menyelamatkan nyawa sang bocah tersebut.

"Jadi dalam sehari tiga orang tenggelam," ucapnya. 

Dalam kesempatan itu, Kamarudin membantah warga menggunakan air raksa di lokasi tambang. Menurutnya, penggunaan raksa hanya dilakukan di rumah warga untuk memisahkan emas dengan pasir.

"Kemungkinan air raksa digunakan di rumah masing-masing. Kalau di lokasi tidak ada," ujarnya, Minggu (18/4) malam.

Ia mengatakan kemungkinan warga mendapat air raksa itu lewat jaringan masing-masing seperti punya kenalan di tambang emas gunung Botak Pulau Buru dan tambang Batu Sinabar di Desa Luhu, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat.

Kebanyakan, mereka yang menambang emas di pesisir pantai Pohon Batu itu punya kenalan dengan pemilik air raksa saat mendulang emas di Gunung Botak dan tambang Sinabar.

"Jadi kalau punya air raksa bisa saja. Karena mereka banyak kenalan di tambang emas. Dan air raksa itu tidak digunakan di lokasi tambang tetapi di rumah,"ucapnya.

Syarifudin (55) warga Desa Tamilouw, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah mengaku pakai cairan air raksa untuk memisahkan butiran emas yang berukurab kecil yang tercampur material pasir.

"Iya pakai air raksa, air raksa kan kurang berbahaya," kata Syarifudin, saat ditemui CNNIndonesia.com di lokasi tambang emas tanpa izin, Sabtu (17/4).

Ia mengaku warga terpaksa memakai cairan kimia tersebut karena butiran emas yang semakin kecil-kecil sulit didapat. Ia menyebut air raksa menjadi medium yang bisa memisahkan material pasir dan emas.

Kapolsek Kecamatan Amahai Iptu Irwan mengutus personel mencari tahu bahan baku merkuri itu digunakan di lokasi tambang emas temuan warga pesisir pantai Pohon Batu.

"Saya perintahkan anak buah cari tahu barang itu diselundup dari mana, bukan soal air raksanya tapi soal barang itu dari mana," kata dia.

Per Jumat (15/4) Wakil Bupati Maluku Tengah Marlatu Leleury mengatakan kemungkinan air raksa atau merkury sudah digunakan di tambang emas Pohon Batu Desa Tamilouw, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah.

"Masyarakat di sana belum tahu apa itu air raksa. Air raksa itu merkuri, karena mereka tidak tahu. Dan mungkin saja mereka sudah gunakan," ujarnya.

"Dampaknya besar kalau air keras digunakan, terutama berbahaya bagi penambang hingga anak cucu bisa cacat,"ucapnya.

Leleury langsung mengirim pesan singkat kepada Kapolres AKBP Rositah Umasugy guna menggelar rapat koordinasi membahas langkah-langkah antisipasi pencegahan merkuri dan melakukan penertiban untuk meminta penambang mengosongkan area tambang emas tanpa izin.

---

Update redaksi: Pada Selasa (20/4), Pejabat Negeri Tamilouw, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah Rajak Pawae melayangkan klarifikasi bahwa kabar nenek tenggelam tidak benar. Menurut keterangan Rajak, tidak ada insiden nenek tenggelam selama warga melakukan aktivitas menambang emas di pesisir pantai.

(sai/ain)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK