KSAD Sebut Tak Ada Produksi Massal di Studi Sel Dendritik

CNN Indonesia | Rabu, 21/04/2021 02:25 WIB
KSAD Jendral TNI Andika Perkasa mengatakan penelitian sel dendritik akan diarahkan untuk peningkatan imunitas Covid-19 dan tak perlu izin edar. Ilustrasi penelitian vaksin. (Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jendral TNI Andika Perkasa mengaku optimistis bisa mewujudkan imunitas terhadap Covid-19 lewat penelitian sel dendritik, yang sebelumnya berlabel penelitian Vaksin Nusantara.

Diketahui, Andika, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito, dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menandatangani nota kesepahaman (MoU) soal perubahan penelitian Vaksin Nusantara menjadi penelitian vaksin dendritik, kemarin.

Alhasil, penelitian yang sempat menuai polemik ini tak memerlukan izin edar dari BPOM dan tak bisa dikomersialisasikan.


"Tidak ada hubungannya dengan vaksin sehingga tidak perlu izin edar karena menggunakan metode yang autologus dan tidak ada produksi massal sehingga tidak perlu izin edar,"  kata Andika, di Markas Pomdam Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (20/4).

"Apakah [penelitian sel dendritik] ini bisa [merealisasikan kekebalan terhadap Covid-19]? Bisa, saya yakin bisa, dan pemerintah pun memercayakan itu kepada kami walaupun sifatnya tadi tidak untuk komersil, maka tidak diperlukan izin edar dari BPOM," lanjutnya.

Penelitian itu, kata dia, sepenuhnya berbeda dengan penelitian Vaksin Nusantara yang juga pernah dilakukan di Rumah Sakit Kariadi, Semarang.

"Judulnya pun dipilih berbeda. Jadi penelitian kali ini penelitian berbasis pelayanan yang menggunakan sel dendritik untuk meningkatkan imunitas terhadap SARS-CoV-2 atau Covid-19," lanjutnya.

Andika menjelaskan, penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti di RSPAD ini juga akan dilakukan dengan metode imunoterapi. RSPAD sendiri dipilih lantaran memang hanya rumah sakit inilah yang memiliki fasilitas Cells Cure Center.

Fasilitas ini juga diketahui telah digunakan sejak lama untuk perawatan penderita kanker.

"Teknologinya dari Jerman, kita mengirimkan tim ke sana selama enam bulan untuk melakukan pendalaman dan sampai 2019, jadi dua tahun dikawal dari tim teknis Jerman pada operasional Cells Cure Center ini di RSPAD sehingga memang RSPAD punya kemampuan untuk itu," kata dia.

Terpisah, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menjelaskan penelitian sel dendritik akan berada di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan.

"Yang semula berada dalam platform penelitian vaksin dan berada di bawah pengawasan BPOM, sekarang dialihkan ke 'Penelitian Berbasis Pelayanan' yang pengawasannya berada di bawah Kemenkes," kata dia, melalui keterangan tertulis, Selasa (20/4).

Dengan ditetapkannya tripartit tentang "Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik untuk Meningkatkan Imunitas Terhadap Virus SARS-CoV-2" tersebut, maka otomatis penelitian Vaksin Nusantara tidak dilanjutkan.

Lebih lanjut, Muhadjir mengatakan nota kesepahaman yang ditandatangani tiga instansi itu berisi tentang "Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik untuk Meningkatkan Imunitas Terhadap Virus SARS-CoV-2". Penandatanganannya sendiri dilakukan di Markas Besar TNI AD, Jalan Veteran, Jakarta, pada Senin (19/4) kemarin.

Muhadjir sendiri bertugas sebagai perwakilan dari pemerintah yang menyaksikan langsung prosesi penandatanganan nota kesepahaman itu.

Menurutnya, penandatanganan tripartit 'kesepahaman antara tiga pihak' itu dimaksudkan sebagai jalan keluar atas pelaksanaan penelitian yang selama ini sudah berjalan dan diberi label dengan penelitian Vaksin Nusantara.

Infografis Fakta-fakta Vaksin Nusantara TerawanInfografis Fakta-fakta Vaksin Nusantara Terawan. (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)

"Dalam perjalanannya (Vaksin Nusantara) terkendala oleh prosedur dan dipandang tidak memenuhi kaidah dan standar yang ditetapkan BPOM khususnya pada tahap uji klinis 1," kata dia.

Mantan Mendikbud itu juga menyebut penandatangan nota kesepahaman itu juga merupakan wujud keseriusan pemerintah dalam mendukung upaya-upaya untuk mengatasi pandemi.

"Ini untuk menunjukkan bahwa pemerintah memberi perhatian serius terhadap semua penelitian yang bermaksud membuat terobosan dalam upaya mencari metode dan teknik baru dalam upaya mengakhiri pandemi covid-19," tandasnya.

Sebelumnya, sejumlah pakar pesimistis metode sel dendritik bisa jadi solusi penanganan pandemi lantaran sifatnya yang individual, yakni memanipulasi sel tertentu untuk imunitas.

Sementara, vaksinasi, yang menggunakan metode injeksi virus yang sudah dimatikan, sejauh ini berjalan lebih cepat menjangkau massa.

(tst/arh)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK