ANALISIS

Sesak Pasar Tanah Abang, Wajah Buram Aturan PPKM Mikro di DKI

CNN Indonesia | Senin, 03/05/2021 14:37 WIB
Pakar epidemiologi turut menyoroti faktor komunikasi Gubernur DKI Anies Baswedan yang terkesan menganggap enteng masalah kerumunan di Tanah Abang. Sejumlah warga memadati Blok B Pusat Grosir Pasar Tanah Abang untuk berbelanja pakaian di Jakarta Pusat, Minggu (2/5/2021). (Antara Foto/ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat menjadi sorotan dengan segala riuh sesak para pengunjung jelang lebaran. Di pusat tekstil itu layaknya tak pernah ada pandemi covid.

Sejumlah pihak mempertanyakan pengawasan Pemprov DKI lantaran ibu kota tengah menegakkan aturan penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro. Terlebih kasus covid beberapa pekan terakhir naik.

"Mengindikasikan dengan jelas bahwa Pemprov DKI gagal dalam melaksanakan PPKM Mikro secara komprehensif. Artinya kebijakan-kebijakan itu hanya formalitas, karena implementasi di lapangan tidak sesuai," ujar Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakri, Trubus Rahadiansyah saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (3/5).


Trubus juga melihat Pemprov DKI kurang dalam mengedukasi warga terkait penerapan protokol kesehatan. Faktanya, kata dia, masih banyak warga yang tidak mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Meski di sisi lain, ia juga melihat kesadaran masyarakat akan prokes yang makin surut.

Pakar epidemiologi Universitas Airlangga, Windhu Purnomo menyoroti faktor komunikasi publik Gubernur DKI Anies Baswedan maupun pejabat lainnya dalam kejadian di Pasar Tanah Abang.

Windhu menilai para pejabat publik kerap melontarkan pernyataan-pernyataan yang membuat persepsi risiko masyarakat terhadap virus corona menurun. Ia menyayangkan banyak pejabat yang menggembar gemborkan angka penyebaran virus corona seolah menurun. Padahal, menurut dia, data menunjukkan bahwa angka kasus positif Covid-19 di Indonesia stagnan.

"Kalau komunikasi publik kita bagus dan disertai dengan bukti dan logis, tentu masyarakat banyak yang akan meningkat lagi persepsi risikonya, sehingga tidak akan datang sembarangan ke tempat belanja, wisata, dan lain-lain," ujar Windhu.

Windhu juga menyayangkan pemerintah terlalu mengglorifikasi program vaksinasi. Padahal, menurut dia, jumlah vaksinasi yang sudah dua dosis baru mencapai 3 persen dari jumlah penduduk. Sementara, pemerintah menargetkan 181 juta penduduk Indonesia atau sekitar 70 persen dari jumlah penduduk menerima vaksin untuk mencapai herd immunity.

"Seolah-olah vaksinasi sudah menjadi obat mujarab, padahal belum," tandasnya.

Anies sendiri usai meninjau kerumunan Pasar Tanah Abang kemarin lebih menyoroti penggunaan masker dalam penerapan protokol kesehatan. Menurutnya penggunaan masker merupakan hal terpenting untuk mencegah penyebaran Covid-19 di pusat grosir terbesar se-Asia Tenggara tersebut.

Sementara masalah jaga jarak, transaksi tunai yang berisiko terhadap penularan covid-19 dan lain-lain belum disinggung.

"Yang pertama adalah masker, kalau yang kita lihat tadi hampir semua menggunakan masker, praktis tidak ada yang tidak menggunakan masker. Itu yang utama," ucapnya saat ditanya wartawan ihwal penerapan protokol kesehatan para pedagang di Stasiun KRL Tanah Abang, Minggu (2/5).

Anies tak menjelaskan lebih lanjut soal penerapan protokol kesehatan d Tanah Abang. "Cukup ya," ujar dia.

Meski demikian Anies telah menyiapkan tiga langkah strategi dalam merespons kerumunan Pasar Tanah Abang. Pertama, meminta kereta commuterline Jabodetabek tidak berhenti di Stasiun Tanah Abang pada pukul 15.00 WIB sampai 19.00 WIB.

Langkah berikutnya, Pemprov melarang pedagang berjualan di luar kawasan pasar. Serta, Pemprov akan merekayasa lalu lintas dan mengatur jumlah pengunjung yang masuk ke Pasar Tanah Abang.

(dmi/ain)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK