Komnas KIPI Belum Terima Laporan Efek Vaksin AstraZeneca DKI

CNN Indonesia | Kamis, 06/05/2021 21:13 WIB
Komnas KIPI menyatakan belum menerima laporan efek vaksin AstraZeneca di DKI Jakarta. Keluhan diklaim hanya reaksi ringan non serius. Vaksin AstraZeneca. (Foto: REUTERS/DADO RUVIC)
Jakarta, CNN Indonesia --

Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) mengklaim sejauh ini belum ada KIPI serius yang dilaporkan atas penggunaan vaksin AstraZeneca di DKI Jakarta.

Ketua Komnas KIPI Hindra Irawan Satari menyebut keluhan yang disampaikan sasaran vaksin covid-19 asal perusahaan farmasi Inggris itu sejauh ini hanya meliputi reaksi lokal seperti nyeri pegal dan kemerahan di tempat suntikan.

"Jadi AstraZeneca di Jakarta sejauh ini yang dilaporkan hanya reaksi ringan non-serius. Sehingga belum ada KIPI serius yang dilaporkan, KIPI ringan," kata Hindra saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (6/5).


Namun demikian, Hindra menyebut sepanjang tiga bulan lebih program vaksinasi nasional yang berjalan, Immunization stress-related response (ISRR) kerap sekali dijumpai dan dilaporkan kepadanya.

ISRR merupakan kondisi yang terjadi lantaran penerima vaksin merasa cemas berlebihan usai vaksinasi sehingga menimbulkan efek seperti kejang hingga sesak nafas, padahal warga tersebut dalam keadaan normal saat diperiksa.

"ISSR kalau seperti itu banyak. Tadi siang saya audit Bangka Belitung dan Kalimantan Timur itu masih banyak," kata dia.

Hindra sekaligus mengingatkan kepada masyarakat bahwa kedua jenis vaksin yang saat ini digunakan di Indonesia, yakni Sinovac dan AstraZeneca relatif aman. Sebab, kedua jenis vaksin itu telah mengantongi izin penggunaan darurat (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Hindra juga berharap KIPI yang dialami Indonesia terus mencatat keluhan reaksi lokal dan sistemik yang lumrah terjadi.

Ia tak ingin, temuan seorang guru di Sukabumi, Jawa Barat, Susan, yang dilaporkan mengalami kelumpuhan usai menjalani vaksinasi Covid-19 dosis kedua Sinovac tidak terjadi. Meski kemudian, guru tersebut diketahui menderita penyakit Guillain-Barre Syndrome (GBS).

"Amit-amit semoga tidak ada [GBS], kita berdoa jangan," ungkapnya.

Lebih lanjut, Hindra juga mewanti-wanti masyarakat yang menjadi target sasaran vaksinasi pemerintah untuk tidak menolak mendapatkan suntikan dosis vaksin covid-19.

Sebab menurutnya vaksin merupakan salah satu upaya meminimalisasi penularan covid-19 di masyarakat.

Meski dengan vaksinasi tak langsung terbebas 100 persen dari paparan virus. Namun apabila masih terpapar covid-19 setelah divaksin, maka penyintas disebut tak rentan mengalami perburukan gejala sehingga diharapkan mampu menekan angka kematian akibat covid-19.

"Karena kalau ditanya vaksin mana yang lebih baik. Maka saya bilang vaksin yang terbaik adalah vaksin di mana anda memerlukannya dia tersedia karena saat ini vaksin diperebutkan di dunia," pungkas Hindra.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menyuntikkan vaksin virus corona AstraZeneca di seluruh fasilitas layanan vaksinasi sejak Rabu (5/5) kemarin. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan pemberian vaksin AstraZeneca ini bakal menyasar usia 18 tahun ke atas di RW-RW kumuh yang ada di Jakarta.

Widyastuti mengatakan saat ini Jakarta telah menerima alokasi vaksin AstraZeneca sebanyak 1,5 juta dosis. Ia juga mengatakan pihaknya sudah melakukan menyuntik vaksin ke 28 ribu warga Ibu Kota.

(khr/psp)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK