Adakah Hari Raya bagi Manusia Gerobak Jakarta?

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Kamis, 13/05/2021 10:45 WIB
Suyatno melakoni hidup menjadi manusia gerobak sudah sejak 2014. Penghasilannya tak cukup untuk beli rumah atau mengontrak tempat tinggal. Suyatno (58) dan Carsih (50) duduk berpeluh keringat di bawah terik matahari di pinggir Jalan Ciledug Raya, Jakarta Selatan, Rabu (5/5). (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)
Jakarta, CNN Indonesia --

Suyatno (58) menyandarkan tubuh di pagar sebuah bangunan di pinggir Jalan Ciledug Raya, Jakarta Selatan. Ia duduk meleseh di trotoar bersama istrinya, Carsih (50). Di depannya karung-karung berisi sampah plastik mengonggok.

Terik matahari Jakarta siang itu membuat ngaso pasangan suami-istri tersebut dilengkapi peluh keringat.

Sesekali Suyatno melihat ke dalam gerobaknya. Ia menghitung jumlah benda-benda yang diperoleh usai menyusuri jalanan dan berhenti di beberapa lokasi.


Suyatno dan Carsih sehari-hari tinggal dan beraktivitas dengan gerobak. Mereka adalah satu dari banyak keluarga di Ibu Kota yang akrab dipanggil 'manusia gerobak'.

Fenomena manusia gerobak acap melekat saat Ramadan tiba. Tapi di luar waktu-waktu itu pun, keberadaan manusia gerobak sebetulnya kerap ditemui di sudut-sudut Jakarta dan kawasan sekitarnya.

Petugas Satpol PP mengkategorikan manusia gerobak sebagai pengganggu karena kadang dianggap menghambat lalu lintas serta keindahan kota. Tak jarang mereka ditangkapi. Meski upaya penertiban aparat itu tak terbukti manjur membuat manusia gerobak kapok turun ke jalan.

Jumlah manusia gerobak meningkat dari tahun ke tahun.

Pada April 2021 lalu, Satpol PP DKI Jakarta mengklaim telah menangkap 1.300 manusia gerobak yang tersebar di berbagai sudut Ibu Kota dan bakal menggencarkan operasi penangkapan pada Ramadan tahun ini.

Akan tetapi langkah tersebut belum berjalan optimal karena keberadaan manusia gerobak masih mudah ditemukan di sudut Jakarta, bahkan pada siang hari.

Suyatno (58) dan Carsih (50) duduk berpeluh keringat di bawah terik matahari di pinggir Jalan Ciledug Raya, Jakarta Selatan, Rabu (5/5). Mereka adalah pasangan suami istri yang tinggal dan beraktivitas dengan gerobak atau yang akrab dengan istilah ‘manusia gerobak’. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)Suyatno (58) dan Carsih (50) duduk berpeluh keringat di bawah terik matahari di pinggir Jalan Ciledug Raya, Jakarta Selatan, Rabu (5/5). (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)

Manusia gerobak memfungsikan kotak kayu beroda itu untuk dua hal; mencari nafkah dan tempat tidur.

Namun menjadi manusia gerobak bukanlah pilihan bebas. Suyatno misalnya. Ia tinggal di gerobak karena penghasilannya tak cukup buat beli rumah atau mengontrak tempat tinggal.

Lagipula, siapa yang dengan lapang dada mau tinggal dan tidur di gerobak atau rela berkali-kali ditangkapi petugas Satpol PP? Tidak ada. Tapi sejak 2014 silam Suyatno melakoni itu. Dia tak punya pilihan.

"Karena enggak ada kerjaan lain, Mas," kata Suyatno saat ditemui CNNIndonesia.com, Rabu (5/5).

Meski diringkus berulang kali, pasangan suami istri tersebut kembali menjalani hidup sebagai manusia gerobak. Turun dan istirahat di jalan.

Dia menuturkan, tak ada pekerjaan lain yang bisa ia dan istrinya lakukan. Terlebih di tengah masa pandemi Covid-19 seperti ini.

Hidup sebagai manusia gerobak setidaknya memberinya penghasilan sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu dalam sebulan. Artinya, Rp10 ribu sampai Rp16 ribu dalam sehari.

Mungkin sulit bagi sebagian kita membayangkan hidup dengan Rp10 ribu per hari.

Namun Suyatno mengungkapkan, uang itulah yang ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan makan, minum, hingga tebusan saat ditangkap petugas Satpol PP.

Lanjut baca ke halaman berikutnya ...

'Bisa Makan Saja Susah Syukur'

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK