Suyatno (58) dan Carsih (50) duduk berpeluh keringat di bawah terik matahari di pinggir Jalan Ciledug Raya, Jakarta Selatan, Rabu (5/5). (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)
Jakarta, CNN Indonesia --
Suyatno (58) menyandarkan tubuh di pagar sebuah bangunan di pinggir Jalan Ciledug Raya, Jakarta Selatan. Ia duduk meleseh di trotoar bersama istrinya, Carsih (50). Di depannya karung-karung berisi sampah plastik mengonggok.
Terik matahari Jakarta siang itu membuat ngaso pasangan suami-istri tersebut dilengkapi peluh keringat.
Sesekali Suyatno melihat ke dalam gerobaknya. Ia menghitung jumlah benda-benda yang diperoleh usai menyusuri jalanan dan berhenti di beberapa lokasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suyatno dan Carsih sehari-hari tinggal dan beraktivitas dengan gerobak. Mereka adalah satu dari banyak keluarga di Ibu Kota yang akrab dipanggil 'manusia gerobak'.
Fenomena manusia gerobak acap melekat saat Ramadan tiba. Tapi di luar waktu-waktu itu pun, keberadaan manusia gerobak sebetulnya kerap ditemui di sudut-sudut Jakarta dan kawasan sekitarnya.
Petugas Satpol PP mengkategorikan manusia gerobak sebagai pengganggu karena kadang dianggap menghambat lalu lintas serta keindahan kota. Tak jarang mereka ditangkapi. Meski upaya penertiban aparat itu tak terbukti manjur membuat manusia gerobak kapok turun ke jalan.
Jumlah manusia gerobak meningkat dari tahun ke tahun.
Pada April 2021 lalu, Satpol PP DKI Jakarta mengklaim telah menangkap 1.300 manusia gerobak yang tersebar di berbagai sudut Ibu Kota dan bakal menggencarkan operasi penangkapan pada Ramadan tahun ini.
Akan tetapi langkah tersebut belum berjalan optimal karena keberadaan manusia gerobak masih mudah ditemukan di sudut Jakarta, bahkan pada siang hari.
Suyatno (58) dan Carsih (50) duduk berpeluh keringat di bawah terik matahari di pinggir Jalan Ciledug Raya, Jakarta Selatan, Rabu (5/5). (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)
Manusia gerobak memfungsikan kotak kayu beroda itu untuk dua hal; mencari nafkah dan tempat tidur.
Namun menjadi manusia gerobak bukanlah pilihan bebas. Suyatno misalnya. Ia tinggal di gerobak karena penghasilannya tak cukup buat beli rumah atau mengontrak tempat tinggal.
Lagipula, siapa yang dengan lapang dada mau tinggal dan tidur di gerobak atau rela berkali-kali ditangkapi petugas Satpol PP? Tidak ada. Tapi sejak 2014 silam Suyatno melakoni itu. Dia tak punya pilihan.
"Karena enggak ada kerjaan lain, Mas," kata Suyatno saat ditemui CNNIndonesia.com, Rabu (5/5).
Meski diringkus berulang kali, pasangan suami istri tersebut kembali menjalani hidup sebagai manusia gerobak. Turun dan istirahat di jalan.
Dia menuturkan, tak ada pekerjaan lain yang bisa ia dan istrinya lakukan. Terlebih di tengah masa pandemi Covid-19 seperti ini.
Hidup sebagai manusia gerobak setidaknya memberinya penghasilan sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu dalam sebulan. Artinya, Rp10 ribu sampai Rp16 ribu dalam sehari.
Mungkin sulit bagi sebagian kita membayangkan hidup dengan Rp10 ribu per hari.
Namun Suyatno mengungkapkan, uang itulah yang ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan makan, minum, hingga tebusan saat ditangkap petugas Satpol PP.
Lanjut baca ke halaman berikutnya ...
Wabah virus corona yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 lalu membuat pendapatannya kian seret. Sedekah atau bantuan dari orang pun sudah jarang didapat. Selain itu jalanan juga tak seramai sebelum pandemi Covid-19.
"Biasanya pas bulan puasa yang amal banyak. Sekarang jalanan juga sepi, apalagi abis Magrib," ucapnya.
Sejak wabah, perekonomiannya kian terpuruk. Ia tak pernah lagi mendapat penghasilan tambahan dari panggilan kerja sebagai kuli bangunan. Terpaksa, Suyatno hanya bisa mengandalkan penghasilan dari manusia gerobak dengan memulung kertas bekas, botol plastik, atau aluminium kemudian menjualnya ke pengepul.
"Dulu [sebelum pandemi] masih sering itu dipanggil jadi kuli bangunan. Kalau sekarang, ya ini [manusia gerobak] saja," terang Suyatno.
Tahun ini menjadi Ramadan kedua yang menyedihkan bagi Suyatno juga Carsih. Selain karena kondisi ekonomi yang semakin sulit, Suyatno nelangsa karena perayaan Idulfitri tahun ini hampir bisa dipastikan tak bisa dirayakan bersama keluarganya di Cilacap, Jawa Tengah.
"Ya seperti tahun lalu, lebaran di sini saja," kata Carsih.
Kisah serupa dialami Asih (39) yang juga melakoni hidup sebagai manusia gerobak bersama tiga orang anaknya.
Saat ditemui di salah satu perempatan di kawasan Joglo, Jakarta Barat, Asih hanya duduk bersandar di tembok salah satu bangunan sambil menunggu uluran belas kasihan dari orang-orang yang melintas dengan kendaraan, baik mobil atau sepeda motor.
Sementara anak-anaknya; ada yang sedang tidur di dalam gerobak, ada pula yang asyik bermain mobil-mobilan di atas trotoar.
Sedikit beda dengan Suyatno dan Carsih, Asih tak ambil pusing tidak bisa mudik ke kampung halaman di Kebumen, Jawa Tengah. Menurut dia, niat untuk mudik tahun ini diurungkan bukan karena pandemi Covid-19, melainkan kondisi keuangan yang tidak cukup.
Karena itu, ia berharap mendapat cukup uang dari hasil memulung untuk bekal mudik setelah lebaran.
"Maunya mudik nanti setelah lebaran, sekarang ngumpulin duitnya dulu," tutur Asih.
Bagaimanapun juga, kata Asih, berkumpul dan berbagi cerita bersama keluarga di kampung jadi momen yang dirindukan usai setahun merantau. Tapi mengingat kondisi keuangan saat ini, ia terpaksa harus legowo merayakan Idulfitri bersama anak-anaknya di jalanan, bukan di kampung halaman.
Momen Idulfitri, bagi Asih, tak melulu harus berupa perayaan seperti sebagian besar orang-orang. Tak ada kue kering khas lebaran seperti nastar atau kastengel. Ketupat dan opor pun bukan sajian utama keluarganya. Tidak pula pakaian baru.
Bagi Asih, bisa mengisi perut dengan makan dan minum saja sudah lebih dari cukup. Pada Idulfitri hari ini pun, Asih dan anak-anaknya akan tetap berada di jalanan untuk menjemput rezeki.
Suyatno (58) menyandarkan tubuh di pagar sebuah bangunan di pinggir Jalan Ciledug Raya, Jakarta Selatan. Ia duduk meleseh di trotoar bersama istrinya, Carsih (50). Di depannya karung-karung berisi sampah plastik mengonggok.
Terik matahari Jakarta siang itu membuat ngaso pasangan suami-istri tersebut dilengkapi peluh keringat.
Sesekali Suyatno melihat ke dalam gerobaknya. Ia menghitung jumlah benda-benda yang diperoleh usai menyusuri jalanan dan berhenti di beberapa lokasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suyatno dan Carsih sehari-hari tinggal dan beraktivitas dengan gerobak. Mereka adalah satu dari banyak keluarga di Ibu Kota yang akrab dipanggil 'manusia gerobak'.
Fenomena manusia gerobak acap melekat saat Ramadan tiba. Tapi di luar waktu-waktu itu pun, keberadaan manusia gerobak sebetulnya kerap ditemui di sudut-sudut Jakarta dan kawasan sekitarnya.
Petugas Satpol PP mengkategorikan manusia gerobak sebagai pengganggu karena kadang dianggap menghambat lalu lintas serta keindahan kota. Tak jarang mereka ditangkapi. Meski upaya penertiban aparat itu tak terbukti manjur membuat manusia gerobak kapok turun ke jalan.
Jumlah manusia gerobak meningkat dari tahun ke tahun.
Pada April 2021 lalu, Satpol PP DKI Jakarta mengklaim telah menangkap 1.300 manusia gerobak yang tersebar di berbagai sudut Ibu Kota dan bakal menggencarkan operasi penangkapan pada Ramadan tahun ini.
Akan tetapi langkah tersebut belum berjalan optimal karena keberadaan manusia gerobak masih mudah ditemukan di sudut Jakarta, bahkan pada siang hari.
Suyatno (58) dan Carsih (50) duduk berpeluh keringat di bawah terik matahari di pinggir Jalan Ciledug Raya, Jakarta Selatan, Rabu (5/5). (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)
Manusia gerobak memfungsikan kotak kayu beroda itu untuk dua hal; mencari nafkah dan tempat tidur.
Namun menjadi manusia gerobak bukanlah pilihan bebas. Suyatno misalnya. Ia tinggal di gerobak karena penghasilannya tak cukup buat beli rumah atau mengontrak tempat tinggal.
Lagipula, siapa yang dengan lapang dada mau tinggal dan tidur di gerobak atau rela berkali-kali ditangkapi petugas Satpol PP? Tidak ada. Tapi sejak 2014 silam Suyatno melakoni itu. Dia tak punya pilihan.
"Karena enggak ada kerjaan lain, Mas," kata Suyatno saat ditemui CNNIndonesia.com, Rabu (5/5).
Meski diringkus berulang kali, pasangan suami istri tersebut kembali menjalani hidup sebagai manusia gerobak. Turun dan istirahat di jalan.
Dia menuturkan, tak ada pekerjaan lain yang bisa ia dan istrinya lakukan. Terlebih di tengah masa pandemi Covid-19 seperti ini.
Hidup sebagai manusia gerobak setidaknya memberinya penghasilan sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu dalam sebulan. Artinya, Rp10 ribu sampai Rp16 ribu dalam sehari.
Mungkin sulit bagi sebagian kita membayangkan hidup dengan Rp10 ribu per hari.
Namun Suyatno mengungkapkan, uang itulah yang ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan makan, minum, hingga tebusan saat ditangkap petugas Satpol PP.
Lanjut baca ke halaman berikutnya ...
'Bisa Makan Saja Susah Syukur'
Dua bocah tertidur di dalam gerobak di antara barang plastik bekas di kawasan Tebet, Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Wabah virus corona yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 lalu membuat pendapatannya kian seret. Sedekah atau bantuan dari orang pun sudah jarang didapat. Selain itu jalanan juga tak seramai sebelum pandemi Covid-19.
"Biasanya pas bulan puasa yang amal banyak. Sekarang jalanan juga sepi, apalagi abis Magrib," ucapnya.
Sejak wabah, perekonomiannya kian terpuruk. Ia tak pernah lagi mendapat penghasilan tambahan dari panggilan kerja sebagai kuli bangunan. Terpaksa, Suyatno hanya bisa mengandalkan penghasilan dari manusia gerobak dengan memulung kertas bekas, botol plastik, atau aluminium kemudian menjualnya ke pengepul.
"Dulu [sebelum pandemi] masih sering itu dipanggil jadi kuli bangunan. Kalau sekarang, ya ini [manusia gerobak] saja," terang Suyatno.
Tahun ini menjadi Ramadan kedua yang menyedihkan bagi Suyatno juga Carsih. Selain karena kondisi ekonomi yang semakin sulit, Suyatno nelangsa karena perayaan Idulfitri tahun ini hampir bisa dipastikan tak bisa dirayakan bersama keluarganya di Cilacap, Jawa Tengah.
"Ya seperti tahun lalu, lebaran di sini saja," kata Carsih.
Kisah serupa dialami Asih (39) yang juga melakoni hidup sebagai manusia gerobak bersama tiga orang anaknya.
Saat ditemui di salah satu perempatan di kawasan Joglo, Jakarta Barat, Asih hanya duduk bersandar di tembok salah satu bangunan sambil menunggu uluran belas kasihan dari orang-orang yang melintas dengan kendaraan, baik mobil atau sepeda motor.
Sementara anak-anaknya; ada yang sedang tidur di dalam gerobak, ada pula yang asyik bermain mobil-mobilan di atas trotoar.
Sedikit beda dengan Suyatno dan Carsih, Asih tak ambil pusing tidak bisa mudik ke kampung halaman di Kebumen, Jawa Tengah. Menurut dia, niat untuk mudik tahun ini diurungkan bukan karena pandemi Covid-19, melainkan kondisi keuangan yang tidak cukup.
Karena itu, ia berharap mendapat cukup uang dari hasil memulung untuk bekal mudik setelah lebaran.
"Maunya mudik nanti setelah lebaran, sekarang ngumpulin duitnya dulu," tutur Asih.
Bagaimanapun juga, kata Asih, berkumpul dan berbagi cerita bersama keluarga di kampung jadi momen yang dirindukan usai setahun merantau. Tapi mengingat kondisi keuangan saat ini, ia terpaksa harus legowo merayakan Idulfitri bersama anak-anaknya di jalanan, bukan di kampung halaman.
Momen Idulfitri, bagi Asih, tak melulu harus berupa perayaan seperti sebagian besar orang-orang. Tak ada kue kering khas lebaran seperti nastar atau kastengel. Ketupat dan opor pun bukan sajian utama keluarganya. Tidak pula pakaian baru.
Bagi Asih, bisa mengisi perut dengan makan dan minum saja sudah lebih dari cukup. Pada Idulfitri hari ini pun, Asih dan anak-anaknya akan tetap berada di jalanan untuk menjemput rezeki.