SUARA ARUS BAWAH

Respons Warga atas 'Karpet Merah' DKI Buat Pesepeda Road Bike

CNN Indonesia | Selasa, 08/06/2021 06:09 WIB
Wacana 'karpet merah' DKI bagi pesepeda road bike di jalan raya protokol ibu kota RI tersebut mengundang respons dari pengguna jalan serta pesepeda jenis lain. Sejumlah pesepeda melintasi Jalan Layang Non Tol (JLNT) Tanah Abang-Kampung Melayu di Jakarta, Sabtu, 5 Juni 2021. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wacana Pemerintah (Pemprov) DKI Jakarta menjadikan jalan umum sebagai jalur khusus sepeda berjenis road bike pada hari dan jam tertentu mendapatkan respons beragam dari warga pengguna jalan.

Wacana ini dirapatkan setelah foto rombongan pesepeda berjenis road bike yang memenuhi badan jalan di wilayah Thamrin, Jakarta Pusat, viral dan menjadi sorotan.

Tidak hanya itu, pihak kepolisian dari Polda Metro juga menyatakan akan menilang pesepeda yang berkendara di luar jalur mereka.


Seorang driver ojek daring, Sumawan (27) mengapresiasi atas rencana Pemprov DKI Jakarta membuat jalur khusus bagi pengendara sepeda pada hari dan jam tertentu.

"Saya setuju saja [jalur khusus sepeda] yang penting tidak mengganggu perjalanan motor, kendaraan lain," kata pria yang disapa Wawan ini saat ditemui CNNIndonesia.com, Senin (7/6) di wilayah Kemang Raya, Jakarta Selatan.

Wawan sendiri merasa kesal dengan rombongan pesepeda yang kerap memenuhi badan jalan. Tindakan itu, menurutnya, mengganggu pengguna jalan lain.

"Pengendara [kendaraan bermotor] roda dua, roda empat pun kesel. Harusnya, ya, pengertian juga lah, jangan sampai ngabisin satu jalur itu sendiri," keluhnya.

Dari pengalamannya di jalanan, Awan mengaku tak jarang bersua dengan rombongan pesepeda itu kerap berjajar tiga baris sehingga menghabiskan badan jalan.

Di satu sisi, ia mencoba memaklumi bahwa para pesepeda itu sedang berolahraga gowes bersama. Namun, tak bisa dipungkiri, polah rombongan pesepeda yang hampir memenuhi badan jalan itu bisa berisiko membahayakan orang lain dan diri mereka sendiri.

Para pesepeda, menurutnya, seharusnya menggunakan tepi jalan atau jalur khusus yang telah disediakan pemerintah. Awan menilai tindakan mereka menghabiskan badan jalan itu tidak beretika.

"Kayak orang nggak punya etika jadinya. Sekolah tinggi, S3 apa S apa, kuliah lah, masa iya bersepeda sampe tengah-tengah jalan," protes dia yang mengaku berasal dari Yogyakarta tersebut.

Menurut Awan, jika terjadi kecelakaan seperti pesepeda yang terserempet, pihak yang disalahkan adalah kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil.

"Ya kalau orang kaya yang menyerempet [bisa tanggung jawab]. Kalau orang nggak punya? Siapa yang mau tanggung jawab?" ujar Awan.

Driver ojek online Sumawan (27) saat ditemui di sisi Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan mengaku kesal dengan pesepeda yang memenuhi badan jalan, Senin (7/6).Driver ojek online Sumawan (27). (CNN Indonesia/Syakirun Niam)

Hal yang sama juga dirasakan Sulton A Malik, seorang karyawan SPBU di kelurahan Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Ia sependapat bahwa rombongan pesepeda yang memenuhi jalanan pada pagi hari sangat mengganggu pengendara lain. Selain itu, sambungnya, hal tersebut berisiko menimbulkan kecelakaan karena tidak sedikit orang yang terburu-buru berangkat bekerja di pagi hari.

"Soalnya pengguna motor kalau pagi-pagi suka mengebut, kalau enggak bisa rem mendadak, ketabrak, pasti kan begitu. Jadi rada ngeri juga sih kalau begitu," kata Sulton.

Oleh karena itu, dia menyambut rencana Pemprov DKI yang hendak menetapkan jam dan hari khusus bagi para pesepeda road bike di jalanan tertentu pada Sabtu-Minggu. Namun, ia berharap para pesepeda itu harus taat dengan jam yang telah ditentukan.

Selain itu, ia juga meminta agar pemerintah menyediakan jalan alternatif bagi pengguna jalan nonsepeda. Sebab, tidak sedikit warga Jakarta yang tetap masuk kerja pada Sabtu-Minggu.

"Belum tentu libur semuanya. Jadi menurut saya harus ada alternatif yang lain buat pemotor atau atau pemobil yang lain," ujar Sulton.

Karyawan SPBU Ampera, Sulton Abdul Malik (19) menilai wacana Pemprov DKI Jakarta menetapkan jalur khusus sepeda road bike pada hari dan jam gertentu bagus. Namun, pemerintah harus menyediakan jalur alternatif bagi pengendara lain, Senin (7/6).Salah seorang karyawan di SPBU wilayah Ragunan, Pasar Minggu, Sulton Abdul Malik (19). (CNN Indonesia/Syakirun Niam)

Hal serupa juga disampaikan, Madi (55) seorang sopir mobil yang telah menekuni profesinya selama lebih dari dua puluh tahun. Madi mengaku memang merasa terganggu ketika harus berpas-pasan dengan rombongan pesepeda di jalan raya.

"Kan kalau sepeda mesti lambat kan. Kadang kita mau ambil jalur lambat, kan sepeda lambat. Begitulah, merasa terganggu aja," kata Madi saat mengantar bosnya di salah satu bank di Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan.

Para pesepeda, menurut Madi, mestinya menggunakan jalur khusus mereka. Hal ini seperti yang tekah diterapkan Pemprov DKI di kawasan Sudirman.

Meski demikian, Madi tidak sepakat dengan keputusan Polda Metro yang akan menilang pesepeda yang keluar jalur. Sebab, tidak semua pesepeda di jalan raya merupakan orang mampu.

"Banyak yang mampu, juga banyak yang nggak juga," ujar Madi.

Madi (55) seorang sopir mobil saat ditemui di depan bank di Jalan Kemang Raya tidak sepakat dengan keputusan Polda Metro Jaya yang akan menilang pesepeda, Senin (7/6).Madi yang berprofesi sebagai sopir mobil pribadi. (CNN Indonesia/Syakirun Niam)

Halaman Selanjutnya respons dari pengguna sepeda selain road bike...

Respons Pesepeda Non-Road Bike

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK