Nakes RS Covid Surabaya Kesulitan Atur Pasien 'Suramadu'

CNN Indonesia | Senin, 14/06/2021 16:50 WIB
Tenaga medis di RSLI Surabaya kesulitan menyuruh pasien asal Madura untuk sekadar minum obat karena mereka menganggap dirinya seperti 'tahanan', bukan pasien. Petugas kesehatan melakukan tes cepat antigen kepada penumpang bus yang akan masuk ke Surabaya di akses keluar Jembatan Suramadu, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (6/6/2021). Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono
Jakarta, CNN Indonesia --

Para tenaga medis dan relawan di rumah sakit khusus Covid-19 atau Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya mengaku kesulitan menangani pasien asal Madura. Mereka merupakan warga yang dirawat di RSLI usai terjaring penyekatan di Jembatan Suramadu.

Hal itu diungkapkan Ketua Pelaksana Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19 RSLI, Radian Jadid. Ia mengatakan, para pasien sulit mengikuti instruksi dan edukasi para petugas.

"Kendala dari nakes ya, pikirnya kami edukasi, tapi mereka agak sulit [mengerti]," kata Jadid kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/6).


Penyebabnya, kata dia, adalah mindset para pasien asal Madura yang menganggap dirinya sendiri sebagai 'tahanan' karena terjaring penyekatan dan swab tes di Suramadu. Bukan pasien yang akan disembuhkan.

"Jadi mereka masuk ini kan mindset-nya orang tahanan bukan mindset orang cari kesembuhan," ucapnya.

Buntutnya, pasien para asal Madura itu tak tertib mengikuti instruksi dokter. Mereka menolak minum obat dan vitamin yang disediakan di RSLI.

"Obat-obatan kan ngambil di tenda medis, nah diumumkan lewat grub WhatsApp pasien enggak datang, kami umumkan lewat pengeras suara enggak datang, seperti itu kendalanya," ucapnya.

Tak hanya itu, pasien asal Madura, juga sulit untuk diminta tertib. Misalnya untuk hal sepele seperti membuang sampah pada tempatnya.

Hingga berulangkali diingatkan, mereka tetap melakukan tindakan serupa. Bahkan petugas pun sampai menggunakan Bahasa Daerah Madura, agar mereka mai mendengar.

"Sudah dikasih tempat sampah masih buang sampah sembarangan, edukasinya tidak didengarkan, harus dengan menggunakan bahasa daerah," ucapnya.

Maka pihaknya pun meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Surabaya untuk memberikan dukungan, penambahan personel tambahan untuk berjaga.

Saat ini, tercatat sebanyak 363 dari total 400 bed kapasitas sudah terisi di RSLI. Rinciannya 65 dari kelompok pekerja migran Indonesia (PMI), 189 Klaster Madura, 12 Klaster Pondok, dan 97 Klaster Umum.

Catatan Redaksi: Redaksi mengubah judul artikel itu pada Kamis (17/6) usai mendapatkan pembaruan informasi dari pihak terkait.

(frd/gil)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK