Kesaksian WNI Bayar Karantina Rp17 Juta, Dilarang Banding PCR

CNN Indonesia | Kamis, 29/07/2021 11:29 WIB
Ilustrasi isolasi mandiri. Foto: cnnindonesia/andrynovelino
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang baru tiba di tanah air menduga dirinya mengalami pemerasan oleh pihak hotel.

Pemerasan dilakukan dengan modus hasil tes PCR yang diduga dimanipulasi agar selanjutnya mereka harus membayar uang belasan juta rupiah untuk isolasi mandiri di hotel.

Salah satu WNI yang baru tiba di luar negeri, Angela Lovenia mengaku datang ke Indonesia bersama anaknya dari Belanda dengan hasil tes PCR negatif.


Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Angela dan anaknya langsung diarahkan untuk menjalani masa karantina di hotel. Di tempat tersebut, ibu dan anak itu melakukan tes PCR. Pada malam harinya, Angela diberitahu bahwa anaknya positif Covid-19 dengan CT value 34.11.

"Saya agak kaget karena enggak ada symptoms," kata Angela dalam acara Mata Najwa yang disiarkan live di Trans7, Rabu (28/7) malam.

Karena tidak yakin, Angela meminta pihak hotel melakukan tes PCR pembanding dengan biaya yang ia tanggung sendiri.

Namun, pihak hotel menolak. Mereka mengatakan Angela dan anaknya harus menggunakan hasil tes PCR tersebut. Tidak hanya itu, Angela juga diancam jika meminta tes PCR pembanding ia akan dideportasi.

"Ibu enggak usah minta PCR kembali lagi nanti bisa dideportasi. Saya kaget belakangan saya baru ngeh, saya WNI anak saya WNI, kenapa dideportasi?" kata Angela heran.

Setelah itu, pihak hotel menawarkan isolasi mandiri dengan biaya sebesar Rp17,6 juta. Pihak hotel mengatakan hanya terdapat dua pilihan, hotel dengan tarif tersebut atau Wisma Atlet.

Infografis Aman dengan Tenang Pikiran

Akhirnya Angela memutuskan membayar hotel dengan tarif belasan juta tersebut.

Dirujuk ke hotel tempat isolasi, Angela kembali meminta agar dilakukan PCR ulang. Namun, pihak hotel tetap tidak memperbolehkan.

Setelah menjalani isolasi mandiri, Angela melakukan tes serologi untuk mengetahui apakah anaknya mengalami Covid-19. Berdasarkan tes tersebut, tidak ditemukan adanya antibodi reaktif pada anaknya.

"Enggak ada antibodi, berarti dia belum pernah kena ya," ujar Angela.

Dugaan pemerasan juga dialami WNI lainnya, Iqbal dan Suci. Begitu tiba di tanah air bersama anaknya, mereka ditemui agen hotel yang menawarkan tarif isolasi sebesar Rp15,6 juta, termasuk dua kali PCR dan makan.

Berlanjut ke halaman berikutnya...

Debat WNI dan Petugas Hotel

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK