Rasio Dokter Tak Imbang, Bappenas Minta Nadiem Perbanyak FK

tim, CNN Indonesia | Jumat, 17/09/2021 03:20 WIB
Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa meminta Kemendikbudristek membuka lebih banyak program studi kedokteran karena jumlah dokter kurang. Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa meminta Kemendikbudristek membuka lebih banyak program studi kedokteran karena jumlah dokter kurang.(Foto: iStock/Boyloso)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa meminta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) serta Kolegium Kedokteran Indonesia (KKI) membuka lebih banyak program studi kedokteran di Indonesia.

Suharso menyampaikan hal tersebut diperlukan sebab rasio dokter dengan masyarakat tak ideal sehingga diperlukan lebih banyak tenaga dokter di Indonesia.

"Kami di Bappenas meminta Kemendikbudristek dan KKI, tolong dong dibuka [lebih banyak] fakultas kedokteran untuk memenuhi rasio dokter," kata Suharso dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Kamis (16/9).


Dia menyebut jumlah dokter umum dan dokter spesialis di Indonesia tak ideal jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Kondisi ini, menurutnya, juga sudah diketahui oleh Kemendikbudristek dan KKI.

Namun KKI, kata Suharso, justru menutup banyak prodi kedokteran yang dinilai tak sesuai kriteria fakultas kedokteran sejak 2016 lalu. Langkah itu semakin berakibat pada kurangnya jumlah dokter di Indonesia.

"Kami menyatakan rasio dokter umum dan dokter spesialis itu jauh dari kecukupannya, tapi yang terjadi prodi kedokteran banyak ditutup, dan yang menutupnya itu KKI sendiri, senior dokter itu sendiri," kata Suharso.

Sebagai informasi, rasio dokter dan penduduk Indonesia jauh dari standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurut WHO rasio dokter umum dan penduduk idealnya 1:1000. Rasio ini menunjukkan harus ada 1 dokter untuk melayani 1.000 penduduk di satu daerah.

Sementara, berdasarkan data IDI pada 2020, rasio dokter umum di Indonesia 1:1400 penduduk. Permasalahan lain, persebaran dokter juga tidak merata di seluruh wilayah di Indonesia.

Perhimpunan Dokter Spesialis Paru (PDPI) pada 2020 silam mengatakan rasio dokter paru dan penduduk di Indonesia juga tak ideal. Dalam satu daerah, 1 dokter paru harus melayani 100 ribu penduduk, padahal idealnya rasio dokter spesialis 2:100 ribu penduduk.

(mln/ptj)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK