PDIP Bergolak di Jateng, Kader Kritik Sikap Bambang Pacul

CNN Indonesia | Selasa, 12/10/2021 14:21 WIB
Elite PDIP Purworejo mengkritisi gaya kepemimpinan Bambang Wuryanto di Jawa Tengah yang cenderung memberi tekanan hingga membuat kader bermental pesuruh. Elite PDIP Purworejo mengkritisi gaya kepemimpinan Bambang Wuryanto di Jawa Tengah yang cenderung memberi tekanan hingga membuat kader bermental pesuruh. Foto: CNN Indonesia/Damar Sinuko
Jakarta, CNN Indonesia --

Kader PDIP yang juga Ketua DPC Seknas Ganjar Indonesia (SGI) Purworejo, Albertus Sumbogo, tak terima dengan pernyataan Ketua DPD PDIP Jawa Tengah (Jateng), Bambang Wuryanto alias Pacul, yang mengkritisi deklarasi atau dukungan kader terhadap Ganjar Pronowo sebagai calon presiden di Pilpres 2024.

Pacul menyebut kader PDIP yang mendeklarasikan capres mendahului arahan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri telah keluar dari barisan dan menjadi celeng.

Albertus menyerang balik dengan menyatakan bahwa kader PDIP di Jateng sekarang bermental pesuruh, bebek, dan beo di bawah kepemimpinan Pacul.


"Di bawah tekanan kepemimpinan beliau [Pacul] lahirlah kader-kader dengan mental babu, bebek dan beo," kata Albertus kepada CNNIndonesia.com, Selasa (12/10).

Albertus mengatakan Pacul sebenarnya bukan pertama kali mengeluarkan pernyataan bernada keras, dan mengakui tindakan yang dilakukan Pacul itu bertujuan untuk merapatkan barisan.

Namun Wakil Ketua DPC PDIP Purworejo itu menilai tindakan Pacul justru bisa berdampak kurang sehat bagi mental kader.

"Dengan demikian maka kader partai harus dikomando seperti baris-berbaris. Dalam beberapa hal itu tepat dan berhasil, tetapi dalam banyak hal Pak Bambang Pacul telah mengubah jiwa para kader menjadi seperti pesuruh, kon ngalor, ngalor, kon ngidul, ngidul," ujarnya.

Merespons Albertus, Wakil Bendahara DPD PDIP Jateng, Dede Indra Permana Soediro, menyampaikan bahwa DPD PDIP Jateng justru menorehkan banyak prestasi elektoral di bawah kepemimpinan Pacul.

Salah satunya, kata Dede, DPD PDIP Jateng berhasil memperoleh 42 kursi dari total 120 kursi di DPRD Jateng periode 2019-2024.

"Di pemilu legislatif 2019 PDIP semula hanya menargetkan 36 kursi di DPRD Jateng, tetapi pada akhirnya berhasil meraup 42 kursi. Hasil ini tidak mungkin diraih jika struktur dan mesin pemenangan partai tak solid," ujarnya dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com.

Dede menjelaskan, perolehan kursi tersebut juga naik signifikan dibandingkan Pemilu 2014, di mana DPD PDIP Jateng hanya memperoleh 27 dari total 100 kursi DPRD Jateng kala itu.

Bahkan, lanjutnya, DPD PDIP Jateng juga berhasil menyumbangkan 26 kursi DPR RI pada Pemilu 2019.

"Jumlah ini juga melebihi target karena semula targetnya 23 kursi. Ternyata perolehannya 26 kursi dari total 77 kursi yang tersedia di seluruh daerah pemilihan Jateng," ungkapnya.

Dede melanjutkan, hal yang tak kalah penting lainnya ialah kemenangan Ganjar Pranowo di Pilkada Jateng 2013 dan 2018 terwujud karena barisan partai solid dan tegak lurus menjalankan rekomendasi Megawati.

Berangkat dari itu, Dede meminta Albertus melihat perkembangan prestasi elektoral di Jateng dari kenaikan kursi, baik di legislatif maupun di eksekutif.

Dia juga meminta Albertus bersikap tertib dalam berorganisasi karena sosok yang bisa menentukan capres yang akan diusung pada Pilpres 2024 hanya Megawati.

"Bagaimanapun Pak Albertus terikat di kepengurusan partai. Langkah, sikap, dan tindakan hendaknya tegak lurus dengan struktur diatasnya, sehingga tidak masuk dalam ambisi pribadi seseorang," ucapnya.

Pacul sebelumnya menyebut oknum kader PDIP yang mendeklarasikan capres mendahului arahan Megawati telah keluar dari barisan.

"Adagium di PDIP itu yang di luar barisan bukan banteng, itu namanya celeng. Jadi apapun alasan itu yang deklarasi, kalau di luar barisan ya celeng," uajrnya di Sukoharjo, Sabtu (9/10) seperti dikutip detikcom.


Pengurus pusat PDIP Andreas Hugo Pareira sementara itu menanggapi santai kemunculan berbagai kelompok yang mendeklarasikan dukungan kepada sejumlah tokoh potensial menjadi Capres di Pilpres 2024 mendatang.

Menurut Andreas, hal itu merupakan kebebasan setiap orang untuk mengekspresikan pendapatnya.

"Ini negara demokrasi. Kita hormati kebebasan orang untuk mengekspresikan pendapatnya selama tidak bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku," kata Andreas saat dihubungi, Selasa (12/10).

Beberapa hari lalu sempat muncul kelompok yang mengatasnamakan diri Gema Puan. Mereka mendeklarasikan dukungan kepada Ketua DPR RI Puan Maharani maju sebagai capres di Pilpres 2024.

Bahkan jauh sebelum itu, sudah ada kelompok yang mengatasnamakan Teman Ganjar. Mereka telah mendeklarasikan dukungan kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Dua tokoh PDIP tersebut menuai dukungan relawan. Menurut Andreas, hal itu bukan masalah besar dan tidak melanggar aturan partai.

"Namanya juga relawan. Yang diatur disiplin itu menyangkut kader partai," ungkapnya.

(dmi/gil)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK