Walkot Blitar Khawatir Euforia Warga Picu Gelombang 3 Covid

CNN Indonesia | Kamis, 14/10/2021 19:48 WIB
Wali Kota Blitar Santoso khawatir capaian PPKM Level 1 berpotensi membangunkan euforia warga yang merasa seolah sudah 'terbebas' dari pandemi Covid-19. Foto ilustrasi. (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wali Kota Blitar Santoso mengaku khawatir capaian Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1 di Kota Blitar berpotensi membangunkan euforia warga yang merasa seolah sudah 'terbebas' dari pandemi virus corona (Covid-19).

Kota Blitar tercatat menjadi satu-satunya daerah yang mulai uji coba new normal di Jawa-Bali.

Santoso melanjutkan, euforia warga itu kemudian dikhawatirkan akan membuat tingkat penularan covid-19 di tengah masyarakat Kota Blitar kembali naik, dan dikhawatirkan memicu gelombang tiga covid-19 pada akhir tahun 2021.


"Kita tidak ingin nanti setelah berada pada level 1, karena masyarakat euforia seolah-olah selesai, tiba-tiba terjadi lonjakan ketiga," kata Santoso dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Lawan Covid-19 ID, Kamis (14/10).

Kendati demikian, Santoso mengklaim pihaknya sudah aktif memberikan sosialisasi secara agresif dan masif terhadap masyarakat, pun menurutnya masyarakat Kota Blitar sejauh ini sudah memiliki pemahaman yang baik terkait kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan covid-19.

Santoso juga memastikan hingga saat ini, pihaknya tak pernah ketinggalan melakukan operasi yustisi sehari tiga kali. Operasi dalam tujuan penertiban protokol kesehatan covid-19 di masyarakat ini melibatkan personel gabungan, antara TNI/Polri, Satpol-PP, dan stakeholder pemerintah Kota Blitar.

"Harapan kita agar tidak akan terjadi gelombang yang ketiga. Melihat indikator yang ada, InsyaAllah Kota Blitar mampu mempertahankan pada kondisi level 1. Bahkan kalau bisa terbebas kembali pada kehidupan yang normal," ujarnya.

Dalam acara daring yang sama, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mewanti-wanti bahwa pengendalian pandemi covid-19 tak bisa hanya dengan modal 3M dan 3T, melainkan harus dibarengi dengan cakupan vaksinasi covid-19.

Wiku sekaligus mengingatkan bahwa vaksinasi telah ditetapkan sebagai indikator penilaian pada PPKM. Ia menyampaikan daerah level 3 hanya bisa turun ke level 2 jika telah menuntaskan 50 persen target vaksinasi. Selain itu, daerah tersebut juga wajib menyelesaikan 40 persen penyuntikan vaksin bagi warga lanjut (lansia).

Sementara itu, daerah level 2 hanya bisa turun ke level 1 jika mampu menuntaskan 70 persen target vaksinasi dosis pertama. Sebanyak 60 persen target vaksinasi lansia juga jadi syarat turun ke level 1.

"Seperti Kota Blitar yang relatif mampu ditangani dengan baik, akhirnya bisa mencapai level yang baik. Dan itu kalau konteks nasional, kita berusaha agar semua Kabupaten/Kota melakukan hal yang sama, sehingga kondisinya benar-benar terkendali," kata Wiku.

Wiku menambahkan, selain melakukan triple strategi yang telah disebutkan. Ia juga menyebut bahwa penggunaan data riil di lapangan perlu menjadi acuan setiap pemerintah daerah dalam membuat kebijakan di wilayahnya masing-masing.

Wiku juga mengingatkan bahwa Kabupaten/kota yang penanganan covid-19 nya semakin membaik setiap pekannya, maka mereka akan diberikan 'hadiah' berupa relaksasi dengan ketentuan tertentu yang disesuaikan dengan kondisi perkembangan covid-19 di daerah itu.

"Pergunakanlah data, jadi kondisi data di setiap daerah pastikan seluruh pemerintah daerah dan Forkopimda menggunakan data itu, sehingga tahu betul bagaimana kasus yang ada dan langsung ditangani. Dengan cara seperti itu, pengendalian wilayah dan kasus akan semakin baik," ujar Wiku.

Kota Blitar di Jawa Timur diketahui menjadi satu-satunya daerah di yang melakukan PPKM Level 1 di kawasan Jawa-Bali yang berlaku 5-18 Oktober 2021. Pemerintah menyebut, Kota Blitar telah memenuhi standar dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mulai melakukan uji coba new normal.

Untuk menentukan kriteria pada level 1, daerah harus setidaknya memiliki angka kasus konfirmasi positif covid-19 kurang dari 20 orang per 100 ribu penduduk per pekan. Rawat inap di rumah sakit 5 orang per 100 ribu penduduk.

Kemudian, kasus kematian berjumlah 1 orang per 100 ribu penduduk, serta vaksinasi yang mampu mencapai 70 persen dari target vaksinasi, pun setidaknya 60 persen warga lansia di daerah tersebut sudah menerima vaksin covid-19.

(khr/pmg)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK