LIPUTAN KHUSUS NATUNA

'Hantu' Kapal Riset China di Laut Natuna Utara

CNN Indonesia
Kamis, 18 Nov 2021 08:00 WIB
Kapal riset China, Haiyang Dizhi 10 merangsek masuk perairan ZEE Indonesia hingga landas kontinen RI selama dua bulan, diduga kuat melakukan survei rahasia. Pangkogabwilhan I Laksamana Madya Muhammad Ali mengatakan pihaknya membayangi pergerakan kapal riset China. (Kogabwilhan I)

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I Laksamana Madya Muhammad Ali mengatakan TNI AL sejak awal telah mendeteksi kehadiran kapal riset China Haiyang Dizhi 10 di wilayah ZEE Indonesia sampai landas kontinen. Kapal tersebut langsung dipantau pergerakannya sejak 31 Agustus lalu.

Ali menyebut terdapat dua kapal perang dari Gugus Tempur Laut, Komando Armada (Koarmada) I yang terus menghalau dan mengikuti pergerakan kapal riset tersebut.

"Serta melaksanakan pengusiran hingga keluar batas wilayah landas kontinen Indonesia," kata Ali kepada CNNIndonesia.com.


Perwira bintang tiga itu mengungkap sempat terjadi perdebatan sengit antara KRI dengan awak kapal riset China tersebut. Kapal riset ini, kata Ali, juga dikawal oleh kapal Coast Guard China.

Ia menyebut pihaknya sudah melaporkan aktivitas kapal riset ini kepada Kemenlu agar mengirim protes ke China. Menurutnya, Kemenlu RI maupun China lantas menjalin komunikasi. Kapal riset tersebut baru meninggalkan Laut Natuna Utara untuk kembali ke daratan Tiongkok pada 24 Oktober.

"Namun apa yang dia (kapal China) lakukan itu memang seperti melakukan riset," ujarnya.

Mantan Panglima Komando Armada I menyebut kapal riset ini awalnya mau mengganggu eksplorasi sumur Blok Tuna, di Laut Natuna Utara. Pihaknya terus membayangi kapal riset China ini agar tak mengganggu aktivitas pengeboran tersebut.

"Kita berhasil menghalau kapal Coast Guard China maupun survei-nya untuk kembali ke negaranya. Jadi tidak ada masalah, memang seperti itu sering terjadi," kata Ali.

Ali mengatakan aktivitas melaksanakan survei di ZEE Indonesia dilarang jika tanpa izin dari instansi terkait. Ia memastikan bakal terus memantau pergerakan kapal riset tersebut agar tak bebas berlayar berbulan-bulan di Laut Natuna Utara.

"Dipantau posisinya sudah di Guangzhou China, kita pantau terus ya melalui satelit maupun melalui radar, melalui udara, kita pantau terus. Tidak ada masalah, tidak ada keributan. Mungkin saling pengertian di laut," ujarnya.

KRI Multatuli dan KRI Teuku Umar bersandar usai patroli di Laut Natuna Utara.Foto: CNN Indonesia/Hamka Winovan
KRI Multatuli bersandar di Pos TNI AL Sabang Mawang, Kabupaten Natuna, usai patroli di Laut Natuna Utara, Kamis 14 Oktober 2021.

Hindari Konflik dengan China di Laut

Sementara itu, Panglima Komando Armada I Laksamana Muda Arsyad Abdullah mengatakan pihaknya langsung membayangi dan memantau aktivitas kapal riset China tersebut selama 24 jam ketika masuk wilayah ZEE Indonesia sampai ke landasan kontinen.

Namun, ia belum bisa memastikan apakah kapal tersebut melakukan riset di perairan Natuna Utara selama dua bulan terakhir ini.

Menurutnya, kapal-kapal yang melaksanakan riset biasanya berkecepatan rendah. Sementara dalam pengamatan pihaknya, kecepatan kapal China itu rata-rata di atas 7 knot.

"Memang ini juga masih pertanyaan buat kita, apakah itu riset atau bukan? Atau dia hanya klaim nine dash line, yang beririsan dengan ZEE Indonesia. Apakah itu hanya bentuk dari klaim mereka? Saya belum tau pasti apakah dia melaksanakan riset atau tidak," kata Arsyad di kantornya.

Arsyad menyatakan keberadaan kapal riset China dalam dua bulan terakhir kemarin selalu diikuti pergerakannya. KRI yang melakukan pengawasan juga mengontak kapal riset tersebut.

Meskipun kapal riset ini mengklaim berada di wilayah nine-dash line, kata Arsyad, mereka jelas berada di perairan ZEE Indonesia. Namun, ia mengaku menghindari konflik dengan China karena hubungan pemerintah RI dan Negeri Panda itu terjalin baik.

Mantan Panglima Komando Lintas Laut Militer juga sudah berkali-kali melaporkan aktivitas kapal riset China tersebut kepada Kemenlu.

"Kita juga berupaya agar tidak konflik antara kita dengan China. Karena kita ketahui bersama bahwa hubungan antara pemerintah Indonesia dan China," ujarnya.

"Sehingga kita yang di lapangan berupaya tetap menjaga hubungan, namun tetap kita beritahu dan sampaikan bahwa ini adalah wilayah perairan Indonesia," katanya.

Kapal Riset China Kukuh Bertahan

Kepala Bakamla Laksamana Madya Aan Kurnia mengatakan pergerakan kapal riset China itu seperti melaksanakan survei. Aan menyebut juga melakukan kontak dengan kapal riset itu. Pihaknya meminta kapal pemerintah Tiongkok itu meninggalkan Laut Natuna Utara.

Namun, kata Aan, awak kapal riset itu bersikeras perairan yang mereka lewati laut internasional sehingga mengklaim boleh melaksanakan lintas damai. Ia mengatakan Kemenlu juga sudah berkomunikasi dengan pemerintah China.

"Intinya yang penting kita hadir di situ, ibaratnya hadir bahwa itu wilayah kita loh. Jadi jangan macam-macam sama wilayah kita. Jadi Bakamla hadir di sana, angkatan laut hadir di sana, kita selalu meminta dia untuk pergi dari wilayah itu," kata Aan.

Perwira AL bintang tiga itu memastikan kapal riset China sudah meninggalkan Laut Natuna Utara sejak akhir Oktober setelah beraktivitas selama dua bulan. Menurutnya, kapal riset ini bertahan dua bulan karena mereka berkukuh sedang melaksanakan lintas damai.

Namun, Aan mengingatkan pemerintah China untuk menghormati hak berdaulat Indonesia di perairan utara Natuna sekalipun tak melanggar hukum laut internasional dengan menganalogikan seseorang pemilik rumah yang selalu kedatangan orang mondar-mandir di depan rumahnya.

"Selama lewat aja kan boleh, tapi dari sisi etika dan pergaulan bagus enggak? Ya enggak bagus kan, jadi silakan dijabarkan. Dia (China) kurang cantik atau elok dalam bergaul di dunia internasional," katanya. 

"Tapi selama wira-wiri boleh saja, cuma merasa terganggu? Terganggu dong jelas. Dari sisi pergaulan pas atau tidak? Tidak pas dong, jadi seperti itu lah analoginya," ujarnya.

Aan mengaku sudah melaporkan aktivitas kapal riset China selama dua bulan kepada Menteri Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD serta Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Ia menyebut Presiden Jokowi pasti sudah mendapat laporan tersebut.

"Tentunya semua sudah ambil tindakan seperti yang tadi saya sampaikan. Jadi intinya pemerintah tidak diam, tapi juga tidak terlalu berani karena memang tidak perlu diperdebatkan sampai rame juga. Kalau itu yang tadi saya bilang, dari etika saja, harusnya sama-sama saling hormati," ujarnya.

Juru Bicara Kemenlu Teuku Faizasyah belum mengetahui laporan dari TNI maupun Bakamla terkait aktivitas kapal riset China ini. "Saya tanyakan dulu ya ke rekan-rekan di Kemlu," kata Faizasyah kepada CNNIndonesia.com.

(fra/wis)

[Gambas:Video CNN]
HALAMAN :
1 2 3
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER