Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid tahu betul bagaimana jaringan teroris menarik simpati, karena dulu dia sering ikut pengajian di pesantren milik Abu Bakar Ba'asyir (CNN Indonesia/ Michael Josua)
Kabar kemenangan kelompok Taliban menduduki pucuk pemerintahan Afghanistan turut menjadi bahan ceramah sejumlah tokoh di Indonesia yang dianggap radikal oleh aparat.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencermati ada potensi semangat kemenangan Taliban itu menjalar dan menjelma menjadi suatu pergerakan di luar kendali pemerintah.
Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid tahu betul bagaimana penganut paham radikal mengglorifikasi kemenangan Taliban itu hingga menjadi terdengar agung dan ampuh menggerakkan pengikutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sudah yakini bahwa kemenangan Taliban itu akan berdampak, akan menstimulan, akan meresonansi, akan memotivasi baik itu jaringan radikal ataupun terorisme," ujar Nurwakhid kepada CNNIndonesia.com.
Kemenangan Taliban itu kemudian menjadi alat propaganda untuk menyebarkan paham radikal ke masyarakat. Padahal, kata Nurwakhid, narasi yang disampaikan tak selalu benar dan telah dimanipulasi.
"(Narasi berkembang) Al Qaeda bekerja sama dengan Taliban mampu merebut kekuasaan. Maka kita pun akan mampu kalau kita bersatu, kalau kita solid. Kan gitu (narasinya), memotivasi," tambahnya.
Bukan tanpa alasan Nurwakhid meyakini hal itu. Dia sendiri mengaku pernah terdoktrin oleh ceramah yang ia dapat dari Ponpes Islam Al Mukmin Ngruki milik Abu Bakar Ba'asyir. Padahal, saat itu dirinya merupakan perwira polisi aktif dengan pangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) dan bertugas sebagai Kapolsek di Banjarsari, Solo.
Dalam hal Taliban kini, salah satu narasi yang digelorakan ialah para kombatan di Afghanistan itu merupakan pasukan dari Timur yang akan membawa panji hitam bertuliskan syahadat putih --mengibaratkan kemenangan umat Islam saat ini.
Ceramah itu kemudian disebarkan lewat platform media sosial yang mudah untuk diakses dan kemudian menjadi konsumsi khalayak luas. Propaganda tersebut diharapkan dapat membangkitkan sel-sel tidur radikalisme.
"Ceramah yang dilakukan jaringan teroris misalnya kayak ceramahnya Abu Rusydan. Jaringan Jamaah Islamiyah toh itu, dan sudah ditangkap. Kemudian, untuk kelompok radikal ceramahnya kayak yang ustaz-ustaz menamakan dirinya ustaz akhir zaman," kata Nurwakhid.
Diketahui, penangkapan terduga teroris banyak dilakukan terhadap anggota Jamaah Islamiyah. Dalam riwayatnya, Jamaah Islamiyah punya hubungan yang kurang baik dengan Taliban.
Pada 1990-an, Jamaah Islamiyah terafiliasi dengan kelompok mujahidin Afghanistan. Mereka menguasai pucuk pemerintahan setelah mengalahkan Rusia. Belakangan, Taliban muncul dan menggulingkan pemerintahan yang dipimpin kelompok mujahidin Afghanistan.
Terlepas dari itu, Nurkhawid menarik garis besar bahwa siapapun kelompok Islam yang perjuangannya menginspirasi akan berujung pada propaganda pembenaran glorifikasi. Tak peduli latar belakang yang sebenarnya untuk membangunkan sel tidur terorisme.
Dalam catatan BNPT, Indeks Potensi Radikalisme pada 2020 masih berada pada angka 12,2 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Berdasarkan perhitungan kasar, masih ada sekitar 30-an juta orang yang dianggap oleh BNPT berpotensi masih berpegang pada pemikiran radikal. Sementara, jumlah anggota atau simpatisan jaringan teror di Indonesia ditaksir mencapai 17 ribu orang.
"Ini bisa sewaktu-waktu jadi lonewolf. Apalagi konten-konten dunia maya didominasi oleh konten-konten intoleran dan radikal," kata Nurkhawid.
Euforia kemenangan Taliban di Afghanistan sayup merambat hingga ke akar rumput sejumlah kelompok Islam di Indonesia. Keberhasilan Taliban mengokupasi pusat pemerintahan di Kabul jadi pengantar glorifikasi untuk narasi kebangkitan umat.
Geliat propaganda dalam merespons kejayaan Taliban itu dalam pengawasan ketat aparat. Detasemen Khusus 88 Anti Teror mencatat sejumlah kelompok Islam di Indonesia turut merayakan kemenangan para kombatan di Afghanisatan itu sejak mereka berhasil memaksa Amerika Serikat menarik mundur bala tentaranya pada Agustus lalu.
"Catatan kita, ada JAS (Jamaah Ansharut Sunnah). Dia ini yang pertama kali mengeluarkan press release, dan mengglorifikasi Taliban pada saat itu. Dan juga Forum Persaudaraan Umat Islam (FPUI), dia mencoba mengglorifikasi kemenangan Taliban itu secara resmi melalui tertulis," Kabagbanops Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Aswin Siregar saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.
Densus 88 mencermati beberapa hari setelah pengumuman pengambilalihan ibu kota negara Afghanistan oleh Taliban, sejumlah kelompok radikal di Indonesia menggunakan isu tersebut untuk menggugah semangat jihadnya.
Respons perayaan kemenangan Taliban tak hanya dipublikasikan lewat keterangan resmi. Lebih liar lagi, narasi perjuangan umat menyebar terutama di media sosial, broadcast WhatsApp dan Telegram, bahkan juga lewat ceramah di beberapa masjid.
Dalam waktu singkat, platform media sosial ramai dengan narasi perjuangan Islam. Teks berisi keindahan hidup bernegara dengan hukum Islam berseliweran di grup pesan singkat.
Ragam apresiasi terucap dari anggota grup. Doa pun dipanjatkan. Ada pula segelintir respons yang terlontar berisi ajakan untuk melihat keadaan Indonesia dan berjuang ke arah yang lebih baik.
Sejarah mencatat bahwa para jihadis mendatangi Afghanistan sebagai battleground atau pusat pelatihan perang ketika negeri tersebut berkonflik dengan Uni Soviet.
Atas dasar itu pula aparat mewaspadai pergerakan kalangan radikal Indonesia berangkat ke medan perang. Aswin tak menampik semangat kemenangan Taliban yang terus digelorakan bisa memicu keinginan jaringan teror di Indonesia untuk turut terlibat dalam perjuangan di Afghanistan.
"Bahwa dulu juga ada konflik di Afghanistan, kemudian mengundang seluruh jihadis datang ke sana, bergabung dengan Mujahidin Afghanistan. Sekarang situasi yang sama hampir boleh dibilang terulang lagi," kata Aswin.
Syahdan Agustus itu penangkapan terduga teroris oleh Densus 88 meningkat tajam dibanding bulan-bulan sebelumnya. Ada 62 orang terduga teroris yang ditangkap. Sementara pada Juli, hanya ada 8 yang ditangkap, Juni 25 dan Mei 17.
Belum ada aksi teror, tapi penangkapan sudah digalakkan, terutama terhadap anggota Jamaah Islamiyah yang banyak anggotanya merupakan alumni Afghanistan. Sepanjang 2021, setidaknya 364 terduga teroris ditangkap, 178 di antaranya anggota Jamaah Islamiyah.
Beberapa di antaranya adalah Farid Okbah dan Ahmad Zain An-Najah yang kemudian menjadi sorotan khalayak luas.
Farid Okbah, yang dikenal sebagai penceramah serta Ketua Umum Partai Dakwah, juga tercatat sebagai pengurus MUI Kota Bekasi. Farid Okbah pun pernah ke Istana Kepresidenan berbincang dengan Presiden Jokowi pada Juni 2020.
Sementara Ahmad Zain An-Najah merupakan pengurus Komisi Fatwa MUI pusat. Setelah diproses hukum aparat, dia dicopot dari pengurus MUI.
Berlanjut ke halaman berikutnya...
Dampak Kemenagan Taliban ke Indonesia
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid tahu betul bagaimana jaringan teroris menarik simpati, karena dulu dia sering ikut pengajian di pesantren milik Abu Bakar Ba'asyir (CNN Indonesia/ Michael Josua)
Kabar kemenangan kelompok Taliban menduduki pucuk pemerintahan Afghanistan turut menjadi bahan ceramah sejumlah tokoh di Indonesia yang dianggap radikal oleh aparat.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencermati ada potensi semangat kemenangan Taliban itu menjalar dan menjelma menjadi suatu pergerakan di luar kendali pemerintah.
Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid tahu betul bagaimana penganut paham radikal mengglorifikasi kemenangan Taliban itu hingga menjadi terdengar agung dan ampuh menggerakkan pengikutnya.
"Kita sudah yakini bahwa kemenangan Taliban itu akan berdampak, akan menstimulan, akan meresonansi, akan memotivasi baik itu jaringan radikal ataupun terorisme," ujar Nurwakhid kepada CNNIndonesia.com.
Kemenangan Taliban itu kemudian menjadi alat propaganda untuk menyebarkan paham radikal ke masyarakat. Padahal, kata Nurwakhid, narasi yang disampaikan tak selalu benar dan telah dimanipulasi.
"(Narasi berkembang) Al Qaeda bekerja sama dengan Taliban mampu merebut kekuasaan. Maka kita pun akan mampu kalau kita bersatu, kalau kita solid. Kan gitu (narasinya), memotivasi," tambahnya.
Bukan tanpa alasan Nurwakhid meyakini hal itu. Dia sendiri mengaku pernah terdoktrin oleh ceramah yang ia dapat dari Ponpes Islam Al Mukmin Ngruki milik Abu Bakar Ba'asyir. Padahal, saat itu dirinya merupakan perwira polisi aktif dengan pangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) dan bertugas sebagai Kapolsek di Banjarsari, Solo.
Dalam hal Taliban kini, salah satu narasi yang digelorakan ialah para kombatan di Afghanistan itu merupakan pasukan dari Timur yang akan membawa panji hitam bertuliskan syahadat putih --mengibaratkan kemenangan umat Islam saat ini.
Ceramah itu kemudian disebarkan lewat platform media sosial yang mudah untuk diakses dan kemudian menjadi konsumsi khalayak luas. Propaganda tersebut diharapkan dapat membangkitkan sel-sel tidur radikalisme.
"Ceramah yang dilakukan jaringan teroris misalnya kayak ceramahnya Abu Rusydan. Jaringan Jamaah Islamiyah toh itu, dan sudah ditangkap. Kemudian, untuk kelompok radikal ceramahnya kayak yang ustaz-ustaz menamakan dirinya ustaz akhir zaman," kata Nurwakhid.
Diketahui, penangkapan terduga teroris banyak dilakukan terhadap anggota Jamaah Islamiyah. Dalam riwayatnya, Jamaah Islamiyah punya hubungan yang kurang baik dengan Taliban.
Pada 1990-an, Jamaah Islamiyah terafiliasi dengan kelompok mujahidin Afghanistan. Mereka menguasai pucuk pemerintahan setelah mengalahkan Rusia. Belakangan, Taliban muncul dan menggulingkan pemerintahan yang dipimpin kelompok mujahidin Afghanistan.
Terlepas dari itu, Nurkhawid menarik garis besar bahwa siapapun kelompok Islam yang perjuangannya menginspirasi akan berujung pada propaganda pembenaran glorifikasi. Tak peduli latar belakang yang sebenarnya untuk membangunkan sel tidur terorisme.
Dalam catatan BNPT, Indeks Potensi Radikalisme pada 2020 masih berada pada angka 12,2 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Berdasarkan perhitungan kasar, masih ada sekitar 30-an juta orang yang dianggap oleh BNPT berpotensi masih berpegang pada pemikiran radikal. Sementara, jumlah anggota atau simpatisan jaringan teror di Indonesia ditaksir mencapai 17 ribu orang.
"Ini bisa sewaktu-waktu jadi lonewolf. Apalagi konten-konten dunia maya didominasi oleh konten-konten intoleran dan radikal," kata Nurkhawid.