Jakarta, CNN Indonesia -- Warga di pesisir DKI Jakarta yang hidup dalam kepungan air laut terpaksa harus menyisihkan rezeki mereka menyelamatkan diri dan harta benda dari ancaman banjir rob. Peninggian lantai rumah hingga pengadaan pompa air jadi siasat mengatasi banjir yang seolah tak kunjung henti mengancam.
Lima anak tangga tersusun di depan pintu ke arah ruang tamu Munarto, di Jalan Dermaga Ujung RT 03 RW 02, Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara. Lantainya pun tampak lebih tinggi 1 meter dari permukaan tanah.
Semua rumah yang berdiri sejajar dan menempel dengan kediaman Ketua RT tersebut juga senasib; meninggikan lantai rumahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lelaki usia 50 tahun itu menjadi saksi hidup bagaimana tempatnya tinggal yang dulu tak pernah diterjang banjir rob, kini rutin tergenang air laut yang pasang. Ketinggian banjir variatif; mulai dari 30 sentimeter (cm) hingga 80 cm.
Warga di permukiman itu tidak memiliki opsi memakai pompa air untuk menyedot banjir rob lantaran wilayah itu relatif jauh dari saluran air.
Sudah dua kali dalam 10 tahun terakhir ia melakukan renovasi rumah untuk menghindari banjir rob. Tiap tahapnya rumah ditinggikan kurang lebih satu meter dari muka jalan.Satu-satunya jalan bagi Munarto dan warga Muara Angke lainnya hanyalah membuat rumah lebih tinggi dari permukaan Jalan Dermaga Ujung.
"Alhamdulillah-nya jadi warga pesisir, kita jadi dipaksa kaya cuma buat bertahan hidup. Ada aja renovasinya buat ngindarin banjir," seloroh Munarto, saat ditemui di kediamannya, bulan lalu.
Menurut pria yang berprofesi sebagai pegawai swasta ini, tahap renovasi rumah berikutnya tidak lagi bisa dilakukan setiap 5 tahun sekali. Pasalnya, ketinggian banjir rob semakin hari semakin meningkat.
Jika mengikuti 'ritme' perbaikan yang selama ini diterapkan, ia khawatir banjir rob kadung memasuki rumahnya sebelum sempat ditinggikan. Terlebih, kawasan ia tinggal tidak dikelilingi oleh tanggul pantai.
Ia bersama warga lainnya hanya bisa berharap cuaca di laut membaik agar limpahan air pasang dapat kembali ke asalnya.
Jika cuaca relatif bersahabat, air laut yang biasanya mulai naik ke wilayah permukiman warga pada pagi hari sudah bisa surut ketika menjelang siang. Jika sedang apes, katanya, tidak jarang air rob baru surut pada sore hari.
Ditambah dengan hujan deras, air rob baru akan pada malam hari. Sangat mungkin juga banjir masih akan berlanjut hingga keesokan harinya.
"Jadi ya pasrah aja udah, berharap sama alam aja kalau urusan surut atau enggak banjir robnya," aku Munarto.
"Ya semoga aja ada solusi, kalau mau dibuat tanggul segera. Tapi tetap perhatikan juga akses warga yang kesehariannya sebagai nelayan seperti apa kalau dibuat tanggul," tuturnya.
Senada, Sumiyati, warga Penjaringan, Jakarta Utara, meninggikan lantai dapur rumahnya untuk beradaptasi dengan banjir rob yang menerpa setidaknya sekali dalam sebulan.
"Kalau pasang, hujan, masuk ke dalam, sepinggang, di dalam rumah, jadi berantakan banget," kata dia, saat ditemui di warungnya di Jalan Kakap, RW 17, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (24/1).
"Udah ditinggiin [bangunannya], tapi tetap [kena banjir]. Di dapur saya tinggiin. Kalau di dalam kerendem, kayak kolam," imbuhnya.
Begitu pula Agus. Warga Penjaringan ini meninggikan permukaan lantai tokonya yang tak jauh dari warung Sumiyati. Ia berharap dengan begitu air tak merendam tempat usahanya. Namun, kenyataannya berbeda.
"[Air] masuk, semata kaki kalau di dalam. Di luar lebih tinggi, ada sedengkul," keluhnya.
Bella, warga RT 05/RW 22 Dermaga Ujung, Muara Angke, Jakarta Utara, juga menguruk lantai rumah dan meninggikan bagian pintunya.
"Biasanya banjir setengah meter, 80 cm lah. Ini rumah udah pada ditinggiin semua. Orang sampe sakit perut gimana keluarnya, airnya dalem. Diurug terpaksa. Mau enggak mau. Kalau enggak kewalahan," aku dia.
Seolah mewakili kondisi warga lainnya, Iyus, yang tinggal di Jalan Dermaga Ujung RT 02/RW 02, Muara Angke, Jakarta Utara, mengaku tidak memiliki opsi untuk pindah ke kawasan yang bebas banjir.
"Ya mau gimana, orang kita kerjanya dari sini. Ikhtiar aja lah, bertahan di sini," tuturnya.
Bersambung ke halaman berikutnya...
[Gambas:Video CNN]
Air Tak Tunggu Bantuan Pemerintah
Petugas memasang pompa air penyedot banjir. Di wilayah Utara, warga secara swadaya membeli pompa air untuk menyedot air rob. (Foto: CNN Indonesia/Djonet Sugiarto)
Sumiyati (42) menyebut frekuensi dan durasi banjir rob di Penjaringan bisa meningkat ketika memasuki musim hujan.
Ketinggian banjir akibat kombinasi banjir rob dan curah hujan tinggi itu bisa menaikkan ketinggian air ke angka 60-80 cm. Air juga baru akan surut ketika laut tidak lagi pasang, sekitar dia sampai empat hari kemudian.
"Kalau pasang dan hujan, masuk ke dalam [ketinggian air] sepinggang. Di dalam rumah, jadi berantakan banget," ucapnya pahit.
Ia tak pernah bisa tenang meski rumah dan warungnya, yang berdiri di gang yang sama, berdiri kokoh sebuah tanggul pantai setinggi 3 meter. Pasalnya, ada saluran pembuangan air hujan ke laut yang justru jadi celah air pasang masuk.
"Jadinya air laut itu malah masuk ke daratan lewat saluran tanggul. Kadang kalau lagi tinggi, bisa lewat atas [tanggul] pas ombaknya ngehantem tanggul," ungkap Sumiyati.
Sadar lokasi permukimannya terhimpit oleh Laut Jakarta di kedua sisi, Sumiyati dan 18 keluarga lainnya di gang tersebut memutuskan untuk tak sekadar menanti bantuan otoritas. Mereka urunan membeli mesin pompa air untuk ditaruh di salah satu sudut tempat mereka tinggal.
Mesin tersebut otomatis menyala ketika banjir mulai naik ke permukaan. Kendati demikian, pompa tidak serta merta menihilkan banjir di rumahnya. Apalagi saat air laut sedang tinggi atau hujan deras mengguyur. Hanya saja, durasi banjir menjadi jauh berkurang.
"Kerendem juga, tapi masih mending banjirnya. Soalnya pompa airnya jalan terus," tutur dia.
Karenanya, warga setempat tak segan patungan untuk biaya perawatan atau bahkan pembelian mesin pompa baru.
"Kalau mesin lagi rusak, kita iuran buat betulin. Kadang 30 sampai 70 ribu. Tapi kalau kayak kemarin mesin rusak total, jadinya iuran beli mesin baru lagi. Sampe 200 ribuan per orang," jelasnya.
"Bantuan pemerintah belum denger sih, ini murni inisiatif sendiri warga buat atasi banjir," ucap dia.
Di luar inisiatif warga itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diketahui menganggarkan dana cukup besar untuk penanganan berbagai masalah terkait banjir pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI 2022 dengan nilai total Rp82,47 triliun.
Namun demikian, ada pencoretan anggaran pos penanganan banjir pada program sumur resapan atau drainase vertikal oleh DPRD DKI Jakarta yang sebelumnya diusulkan mencapai Rp120 miliar.
Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengaku tak masalah anggaran sumur resapan tahun 2022 dihapus. Menurutnya, program penanganan banjir tak hanya sumur resapan semata.
 Infografis Banjir Jakarta. (Foto: Astari Kusumawardhani) |
"Ya enggak apa-apa, program pengendalian banjir kan banyak, " kata Riza di Balai Kota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (6/1)
Dikutip dari Lampiran 8 Peraturan Daerah APBD Tahun Anggaran 2022, program-program terkait penanganan banjir itu antara lain, pertama, Pengelolaan SDA dan Bangunan Pengaman Pantai pada Wilayah Sungai Lintas Daerah Kabupaten/Kota dengan nilai Rp1,8 triliun;
Kedua, Penyusunan Rencana Teknis dan Dokumen Lingkungan Hidup untuk Konstruksi Pengendali Banjir, Lahar, Drainase Utama Perkotaan dan Pengaman Pantai senilai Rp7 miliar; ketiga, Pembangunan Embung dan Penampung Air Lainnya Rp179,999 miliar;
Keempat, Pembangunan Seawall dan Bangunan Pengaman Pantai Lainnya Rp104,999miliar; kelima, Normalisasi/Restorasi/Pemeliharaan Sungai Rp962,071 miliar; keenam, Peningkatan Flood Forecasting And Warning System (FFWS) Rp9,867 miliar; ketujuh, Pembangunan Polder/Kolam Retensi Rp554,999 miliar.