LAPORAN DARI IKN NUSANTARA

Ketar-ketir Masyarakat Adat Tersingkir dari Ibu Kota Nusantara

Dika Kardi | CNN Indonesia
Selasa, 15 Mar 2022 10:06 WIB
Ketar-ketir Masyarakat Adat Tersingkir dari Ibu Kota Nusantara
Warga beraktivitas di Pasar Semoi, Kecamatan Sepaku, Kalimantan Timur, Senin, 14 Februari 2022. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Penajam Paser Utara, CNN Indonesia --

Masyarakat adat di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur mengaku ketar-ketir dengan rencana wilayah mereka yang menjadi Ibu Kota Negara (IKN) baru pengganti Jakarta.

Sejak diumumkan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada 26 Agustus 2019 hingga UU 3 tahun 2022 tentang IKN disahkan dan berlaku pada awal 2022 ini, mereka merasa belum mendapatkan penjelasan dan kepastian akan nasib mereka baik lahan rumah maupun pertanian atau ladang yang jadi ibu kota baru.

Mereka merasa jika tidak ada kepastian hukum, bisa saja sewaktu-waktu akan diambil alih oleh negara jika tak jelas alas hak mereka. Padahal kampung ini tercatat sudah lama didiami warga, terutama masyarakat adat Pasir Balik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

CNNIndonesia.com berkunjung ke Sepaku yang bakal menjadi kawasan inti IKN Nusantara pada 11-14 Februari 2022, dan berbincang pula dengan sejumlah warga di sana termasuk dari penduduk pribumi suku adat.

Kepala adat masyarakat Balik di Kampung Sepaku Lama, Sibukdin, mengatakan mereka telah berada di wilayah itu jauh waktu, bahkan sebelum negara RI merdeka dan perusahaan konsesi masuk ke sana.

Oleh karena itu, pihaknya khawatir kehadiran IKN akan menghilangkan hak-hak lahan pertanian dan pemukiman mereka, karena selama ini hanya diakui sebagai bagian dari kawasan budi daya kehutanan (KBK). Padahal menurutnya mulai orang tua mereka menggarap lahan tak ada kehutanan berkegiatan di lahan mereka.

"Status tanah KBK itu yang membingungkan," kata warga RT 3, Kelurahan Sepaku, Kecamatan Sepaku tersebut.

"Harapan kita tanah ini bisa di APL (Areal Penggunaan Lain). Ini kan ada PTSL (Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap) yang gratis," ucap Sibukdin.

Kepala Adat Suku Balik Kelurahan Sepaku bernama Sibukdin. Kalimantan Timur, Sabtu, 12 Februari 2022.Kepala Adat masyarakat Balik di Kampung Sepaku Lama, Kelurahan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, 12 Februari 2022. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Sibukdin mengatakan sejauh ini belum ada komunikasi atau sosialisasi kepada kepala kampung ataupun kepala-kepala adat di Kecamatan Sepaku.

"Belum ada [sosialiasi]. Kalau dengan kami mungkin tidak ada, tapi kalau dengan pembesar kami anggaplah tingkat kabupaten-provinsi, mereka setuju semua kan, tapi mereka tidak tahu kondisi masyarakat di sini" ujar Sibukdin di dekat ladangnya, Kelurahan Sepaku, Kecamatan Sepaku, 12 Maret 2022.  

Lihat Juga :

Senada pula, Kepala adat di Kelurahan Pemaluan, Jubain, mengatakan sejak awal pengumuman IKN, pihaknya belum mendapatkan penjelasan kepastian soal nasib mereka. Jubain yang sehari-hari memenuhi kehidupan keluarganya berladang mengaku lahan garapannya sudah disebutkan petugas masuk ke dalam KIPP IKN.

"Yang ditetapkan pemerintah yang IKN itu, di dalamnya masih ada lahan-lahan kami. Mungkin ada sekitar 200 hektare lah [perkebunan warga adat Pemaluan] yang direncanakan peta IKN itu. Bukan baru kami, bisa dikatakan turun menurun kami di situ. Tapi kami tidak tahu, kok bisa tiba-tiba lahan itu masuk. Entah itu dari perusahaan kah, entah dari pihak pemerintah kami tidak tahu," ujar Jubain di rumahnya, Pemaluan, Minggu (13/2/2022).

Ia menuturkan ketika ada program sertifikasi lahan dari pemerintah, setelah pengukuran rumahnya yang berada di RT 2 Pemaluan itu, dirinya meminta sekalian juga diukurkan kebunnya kepada petugas dari BPN.

"Kata orang BPN ini sudah masuk ke IKN, waktu itu kita mau urus juga [sertifikat untuk kebun] dan minta tolong diukur, ternyata tidak bisa karena katanya sudah masuk peta IKN itu," kata dia.

"Jangan disebut kami tidak ada [lahan], kami tidak pernah diajak berunding atau sosialiasi ditempatkannya ibu kota ini," imbuhnya.

Zubain, Tetua warga adat pasir balik di Keluarahan Pemaluan, Kalimantan Timur. Minggu, 13 Februari 2022.Kepala adat di Pemaluan, Jubain, saat berbincang di kediamannya,Minggu, 13 Februari 2022. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Seorang warga Kelurahan Pemaluan, Kecamatan Sepaku, Marice, menerangkan rata-rata warga di kampungnya itu lahannya masuk kawasan Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan konsesi.

"Batas HGU itu dekat. Sekitar 150 meter dari rumah kami. Saya punya tanah juga sudah masuk sebagian HGU," ujar Marice, warga adat suku Balik di Kelurahan Pemaluan, Kecamatan Sepaku.

Menurut warga RT 2 Kelurahan Pemaluan itu, selama ini para kepala adat di wilayah Sepaku pun seolah dilupakan begitu saja untuk diajak berunding oleh pemerintah terkait IKN. Padahal, sambungnya, setelah diumumkan jadi IKN wara-wiri mobil rombongan pejabat baik sekelas pemerintah daerah hingga pusat bukan hal aneh di daerah tersebut.

"Bapak kan kepala [suku] Balik kan, itu enggak pernah dilibatkan," kata Marice. Ia adalah kerabat dari Jubain yang merupakan Kepala Adat di Pemaluan.

"Di sini hari-hari menteri-menteri itu lewat, mobil-mobil pelat merah lewat itu. Tapi enggak pernah dilibatkan masyarakat di sini," imbuhnya.

Marice, warga di kelurahan Pemaluan, Kecamatan Sepaku. Kalimantan Timur, Minggu, 13 Februari 2022.Marice, warga di kelurahan Pemaluan, Kecamatan Sepaku. Kalimantan Timur, Minggu, 13 Februari 2022.  (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Dia berharap para pejabat itu mau juga mendengarkan keluhan atau apa yang diinginkan warga-warga di Sepaku, terutama mereka yang rumah dan lahan garapannya mungkin akan terdampak karena status HGU atau KBK tersebut.

Belakangan, setelah melantik kepala dan wakil kepala Badan Otorita IKN pada 10 Maret 2022, Jokowi kembali dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke Sepaku. Dalam kunker itu, dia pun dijadwalkan akan berkemah di bakal kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP) IKN baru yang akan bernama nusantara itu antara 13 dan 15 Maret 2022.

Sebelumnya Jokowi sempat pula dijadwalkan berkemah di IKN pada Februari lalu, namun urung karena sejumlah kunker dibatalkan imbas gelombang tiga Covid-19 karena varian omicron.

Belakangan, Jokowi akhirnya jadi berkemah di bakal IKN Nusantara pada 14 Maret 2022. Selain itu, dia pun mengundang 33 gubernur se-Indonesia untuk hadir di sana mengikuti prosesi Kendi Nusantara setelah melantik kepala dan wakil kepala otorita IKN, Bambang Susantono dan Dhony Rahajoe pada 10 Maret lalu.

Insert Grafis Selayang Pandang IKN

Baca halaman selanjutnya...

Lahan Permukiman di Kampung hingga Ladang IKN

Warga beraktivitas di Pasar Semoi, Kecamatan Sepaku, Kalimantan Timur, Senin, 14 Februari 2022. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) akan memiliki luas sekitar 6.671 hektare di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Adapun daerah di Sepaku yang beririsan dengan KIPP itu adalah Desa Bukit Raya, Desa Bumi Harapan, dan Kelurahan Pemaluan. Hal itu tercantum dalam UU 3/2022 tentang IKN yang disepakati pemerintah dan DPR jadi undang-undang pada 18 Januari 2022.

Merujuk peta Delienasi Kawasan Strategis Nasional Ibu Kota Negara yang terdapat pada Lampiran II UU 3/2022, KIPP IKN mencaplok sebagian besar wilayah Kecamatan Sepaku, dan sebagian kecil Kabupaten Kukar.

Luas kawasan IKN itu mencapai sekitar 56.180 hektare yang akan dikembangkan dengan metode forest city.

Lihat Juga :

"Harusnya mereka memerhatikan kami di sini, karena yang terdampak jelas itu kami di sini. Kami dari nenek moyang belum pernah pindah dari sini, tapi kami dilangkahi. Sebelum trans (transmigrasi) pun ibaratnya orang tua-tua kita sudah di sini," keluh Yati Dahlia, warga adat Balik di Desa Bumi Harapan, Kecamatan Sepaku.

"Seakan-akan kami tidak ada, tidak ada masyarakatnya di sini, yang terasa jelas dampaknya jelas kami," imbuhnya.

Intinya, kata dia, jaminan apa yang diberikan serta janjinya bagi masyarakat penduduk, khususnya warga adat di Sepaku.

"Intinya seperti itu jaminan mereka, atau janjinya seperti apa bagi masyarakat di sini. Saya enggak butuh yang dari sebelah sana, saya enggak butuh yang minta bangunan istana di sana. Kami enggak butuh istana di sini, kami enggak akan tinggal di istana," katanya.

Warga Suku Balik Yati Dahlia, aktif mengelola Sanggar Seni Uwat Bolum di Sepaku, Kalimantan Timur. Sabtu, 12 Februari 2022.Yati Dahlia kesehariannnya juga  aktif mengelola Sanggar Budaya Pasir Balik Uwat Bolum di Desa Bumi Harapan, Kecamatan Sepaku, Kab Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, 12 Februari 2022. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Hampir senada, Ketua RT 1 di Kelurahan Sepaku, Asri Rapih, mengatakan ia bersama para warga bukannya tidak berusaha untuk mendapatkan status atas hak mereka, baik di permukiman maupun lahan garapan. Namun, negara tak bisa mengeluarkan hal tersebut dengan alasan kawasan RT 1, 2, dan 3 di Kelurahan Sepaku itu masuk kawasan budidaya kehutanan.

"Jadi bikin bingung kami apalagi dengan ada IKN ini ndak tahu statusnya lahan kami gimana, rumah-rumah ini, kampung pertama. Ya itu sudah, kampung pertama malah justru yang tidak dipedulikan sama pemerintah, " kata dia, di teras rumahnya di wilayah yang dikenal masyarakat sekitar sebagai kampung Sepaku Lokdam itu, Sabtu (12/2/2022) petang.

"Kalau sudah di-APL-kan kan kita ngerti berarti sudah milik kami sendiri sudah," imbuhnya.

Ketua RT 01, Asri Rapih;  Sesepuh di RT 01, Amiluddin; Petugas Damkar, Ahmad Nur. Kelurahan Sepaku. Kalimantan Timur, Jumat, 12 Februari 2022.Ketua RT 01 Kelurahan Sepaku Asri Rapih saat berbincang di teras rumah warga milik Amiludin (tengah), Sabtu (13/2/2022). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Keluhan yang disampaikan Asri pun senada dengan yang diutarakan Harmansyah. Menurutnya masyarakat di sana berpikir, 'mengapa negara tidak memperjelas status lahan bagi warga', di mana kampung dan lahan garapan mereka sudah ada sejak zaman dulu turun temurun.

"Dari zaman dulu sudah ada memang orang-orang di sini. Sebelum negara merdeka sudah ada kampung ini," kata warga di kampung Sepaku lama tersebut.

Tokoh masyarakat Paser di Kelurahan Pemaluan, Syahdin, mengaku tak habis pikir sejak IKN diumumkan mereka selaku warga yang punya kampung tak pernah diajak bicara. Pun, sambungnya, melalui kepala adat atau kepala kampung masing-masing.

"Mestinya kami, paling tidak pengurus kampung - pengurus adat di sini dibicarakan dulu," kata Syahdin.

Syahdin mengatakan apabila ada kepastian mengenai lahan mereka di Sepaku tersebut, mereka pun mungkin dengan tangan sangat terbuka menerima IKN. Apalagi, sambungnya, bila itu berujung pada kemajuan anak-anak Sepaku ke depannya.

"Untuk apa itu ibu kota dipindah, tapi kita enggak menikmati," katanya, "Bagi kami yang lahannya tak mau dijual, janganlah diganggu. Kalau dijual juga bisa beli tanah lagi di mana kami harga sudah naik-naik. Janganglah kami disuruh pindah, anak cucu kami juga berhak menikmati ini jadi ibu kota nanti."

Buka halaman selanjuntnya...

LIHAT SELENGKAPNYA