Produksi Rokok Lesu, Realisasi Penerimaan Cukai di Pasuruan Turun
Realisasi penerimaan cukai di wilayah Bea Cukai Pasuruan selama semester pertama 2025 tercatat sebesar Rp30,2 triliun. Angka itu setara dengan 45,07 persen dari target tahunan yang ditetapkan.
Kepala Bea Cukai Pasuruan. Hatta Wardhana mengatakan, target penerimaan cukai sepanjang tahun ini dipatok sebesar Rp67 triliun. Meski nominalnya tergolong tinggi, capaian itu lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Hatta mengakui, lesunya aktivitas produksi dari beberapa perusahaan besar ikut memengaruhi realisasi tahun ini, termasuk dari PT Gudang Garam Tbk yang selama ini jadi penyumbang utama penerimaan cukai.
"Performa industri hasil tembakau sangat menentukan. Salah satunya, Gudang Garam yang biasanya jadi tulang punggung penerimaan, saat ini sedang mengalami penurunan," kata Hatta.
Sebagai catatan, pada 2024 lalu, Gudang Garam menyumbang penerimaan cukai hingga Rp30 triliun. Namun tahun ini, angkanya diperkirakan tidak setinggi sebelumnya.
Selain Gudang Garam, tiga perusahaan lain yang berkontribusi besar adalah Sampoerna senilai Rp22 triliun, KT&G Rp6,2 triliun, dan JTI sekirar Rp3 triliun.
"Secara total, kami optimistis bisa mengejar target di semester kedua. Apalagi tren produksi rokok biasanya naik menjelang akhir tahun," tambah Hatta.
Ia menegaskan, pengawasan terhadap rokok ilegal tetap menjadi prioritas, agar tidak menekan potensi penerimaan dari sektor resmi.
Hatta menyebut, selain membahayakan kesehatan masyarakat, rokok ilegal juga mempengaruhi penerimaan cukai.
"Tentunya saling punya keterkaitan, baik dari sisi kesehatan, penerimaan negara dan stabilitas industri secara nasional," pungkas Hatta.
(adv/adv)