FORMULA 1

Gelimang Uang di Bisnis Balapan

Dika Dania Kardi, CNN Indonesia | Rabu, 29/10/2014 15:43 WIB
Stiker-stiker Sponsor mulai menempel di mobil-mobil F1 sejak 1968. Sejak saat itu, para sponsor bukan hanya mencari untung tetapi prestise dari kecanggihan. Pebalap tim Red Bull Sebastian Vettel menjadi pebalap dengan gaji tertinggi ketiga setelah Fernando Alonso (Ferrari) dan Lewis Hamilton (Mercedes). Pebalap F1 menjadi salah satu yang dijual tim untuk menggaet sponsor lewat prestasi mereka. (REUTERS/Pablo Sanchez )
Jakarta, CNN Indonesia -- Mobil balap F1 baru mulai dipenuhi logo sponsor sejak dasawarsa 1970an. Sebelum itu, ketika legenda balap juara dunia 5 kali Juan Manuel Fangio masih aktif, satu-satunya yang menghiasi mobil adalah nomor urutnya.

Seperti dilansir CNN, potensi iklan mobil balapan mulai disadari menjelang akhir 1960-an ketika para tim konstruktor mulai menyadari potensi pendapatan iklan yang bisa didapat dari kendaraan.

Pembalap F1 Williams berperan dalam mempromosikan produk Reuters.Melissa Berry
Mobil F1 pertama yang menggunakan sponsor adalah tim juara dunia 1968, Lotus Formula 1, ketika memperkenalan logo merek tembakau Gold Leaf di sisi mobilnya. Setelah itu, Formula 1 dan sponsorship menjadi tak terpisahkan. Selain pembalap yang saling menyalip di sirkuit, angka-angka kontrak sponsor pun saling ngebut menembus rekor di meja negosiasi.


Pasalnya, sponsor mendapatkan nilai berlebih dengan memasangkan logo di samping mobil balapan. Misalnya saja sponsor tim Red Bull, Infiniti, yang mendapatkan "nilai pemasaran" setara satu miliar dollar dengan mensponsori Red Bull. Padahal, seperti dilansir perusahaan survey internasional, Repucom, awal tahun ini ongkos sponsor utama untuk tim juara rata-rata "hanya" sekitar 113 juta dolar AS.

Canggih, Dinamis, dan Prestisius

Riset pasar menunjukkan --walaupun balap F1 mengalami tingkat penurunan penonton-- sponsor juga tetap tertarik dengan citra 'canggih, dinamis, dan prestisius' yang melekat di balap mobil. Atas dasar itu, beberapa sponsor berinvestasi ratusan juta dolar dalam beberapa tahun terakhir untuk mengasosiasikan merek mereka dengan karakteristik menarik tim F1.

Di sisi lain, walaupun menurun, balap F1 tetap berada di puncak program olahraga paling dilihat sejagat--sekitar 500 juta penonton per tahunnya.

Sponsor juga menargetkan akses terhadap tim pembalap untuk membantu menguatkan merek dan bisnis mereka--termasuk promosi di luar kalender F1. Hal itu diakui Melissa Berry yang pernah menjabat manajer pemasaran Reuters yang menjadi sponsor tim Williams beberapa tahun lalu.

"Pembalap F1 Williams telah memainkan peran dalam mempromosikan produk Reuters selama beberapa tahun terakhir. Kami juga memiliki hak untuk menggunakan citra Williams guna menjadi bahan peningkatan komunikasi terhadap pelanggan," kata Berry.

Di samping itu, menjadi sponsor juga memberi peluang bagi perusahaan untuk memasuki jaringan yang luas dari pelanggan potensial.

Sedekade lalu, total nilai iklan F1 mencapai 5,2 miliar dolar AS atau sekitar 0,74 dolar AS per sekali tampil. Berdasarkan data Formula Money yang dirilis CNN, pendapatan keseluruhan tim F1 meningkat terus setiap tahun dari 2003-2011. Pada 2003 jumlah pendapatan mencapai 729 juta dolar AS. Kemudian hingga 2011 jumlah pendapatan itu mencapai 1,5 miliar dolar AS.

Hampir tiga per per empat dari pendapatan itu berasal dari biaya balap dan siaran televisi.

Tidak hanya itu, iming-iming keuntungan menjadi penyelenggara balapan juga membuat berbagai negara berebut untuk menjadi bagian dari kalender balap F1. Misalnya saja Rusia yang memulai debutnya menjadi pada kalender F1 tahun ini.

Berikutnya, Hong Kong, Afrika Selatan, dan Las Vegas (Amerika Serikat) mengantri untuk mencicipi gemerlap F!. Sementara itu Thailand, sudah dikonfirmasi menjadi negara ketiga di Asia Tenggara--setelah Malaysia dan Singapura--yang akan menjadi bagian dari kalender balap F1 musim depan.

Paling Bernilai

Berdasarkan data Forbes, tim yang paling memiliki nilai di mata sponsor adalah Ferrari. Tim kuda jingkrak asal Italia itu memiliki nilai jual saat ini sekitar 1,15 miliar dolar AS--meningkat 10% dari dua tahun sebelumnya. Di tempat kedua dan ketiga adalah McLaren (800 juta dolar AS) dan Red Bull (400 juta dolar AS). Sedangkan juara konstruktor tahun ini Mercedes berada di peringkat keempat dengan nilai jual 176 juta dolar AS.

"F1 ini luar biasa benar. Saya tidak pernah melihat sebuah perusahaan seperti F1 yang dapat menghasilkan pendapatan potensial seperti ini. Selama lima tahun terakhir, kami mengalami 1-2 resesi namun pendapatan serta keuntungannya tetap bertambah," tukas salah satu penulis di Formula Money seperti dikutip CNN pertengahan tahun lalu.

Namun, jelang akhir musim 2014, penggemar balap F1 dikejutkan berita mundurnya dua tim, Marussia dan Caterham, dari seri GP Austin di Texas karena terancam pailit.

Masalah yang menimpa Marussia merupakan akumulasi kesalahan manajemen keuangan yang berlangsung sejak lama, bahkan terjadi jauh sebelum mereka beraksi di arena balap.

Pada akhir 2009, menurut Forbes, perusahaan yang sebelumnya bernama Manor Grand Prix ini mengalami kerugian sebesar US$2,1 juta. Kerugian itu disebabkan pembelian teknologi mobil sebesar 14,4 juta dolar AS dari WR Technology yang dipunyai mantan Direktur Teknik Nick Wirth.

Wirth berspekulasi menciptakan kendaraan yang simulasinya menggunakan komputer, bukan tes lapangan seperti tim lainnya. Hal itu dinilai terlalu jauh dan memakan biaya sangat besar.

Kesalahan Wirth lainnya adalah volume tanki bahan bakar yang terlalu kecil. Ukuran tanki tersebut tidak memungkinkan bahan bakar cukup hingga menyelesaikan balapan. Ini terbukti pada lima balapan pertama Manor GP.Biaya penyelenggara

Di luar meruginya Marussia dan Caterham, salah satu kunci dari terus meningkatnya pendapatan F1 berasal dari biaya penyelenggaraan yang disetor tuan rumah sirkuit yang secara keseluruhan bisa mencapai 500 juta dolar AS. Jumlah setoran itu juga meningkat hingga 10% setiap tahunnya karena setiap pemilik sirkuit ingin jadi tuan rumah.

Balap F1 dibatasi hanya dibatasi 20 seri setiap musimnya sehingga negara pemilik sirkuit harus memiliki kemampuan dan upaya lobi lebih tinggi untuk mendapatkannya. Di sisi lain, Ecclestone juga mencoba mencari pasar baru ke negara-negara baru untuk memperluas jaringan F1. Itulah yang pada akhirnya membuat Singapura, Malaysia, Tiongkok, India, dan Korea Selatan bisa menjadi tuan rumah balap F1 tahun ini.

Ongkos untuk balap pun berbeda-beda di antara tuan rumah. Misalnya, Singapura harus membayar 60 juta dolar AS sedangkan Malaysia membayar 66,9 juta dolar AS per tahunnya. Rata-rata fee yang dikeluarkan untuk jadi tuan rumah mencapai 27 juta dolar AS.

Satu hal yang pasti, puluhan juta dollar ini tak menghalangi negara-negara untuk berlomba-lomba terlibat dalam bisnis balapan, atau menjadi pusat perhatian dunia.

REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK