MU vs Liverpool: Duel Dua Manajer dalam Tekanan

Martinus Adinata, CNN Indonesia | Sabtu, 12/09/2015 11:55 WIB
MU vs Liverpool: Duel Dua Manajer dalam Tekanan Brendan Rodgers menghadapi musim keempatnya bersama Liverpool. (REUTERS/Phil Noble)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selain tiga poin dan kesempatan untuk mengejek sang rival, tak banyak yang diperebutkan pada laga pekan kelima Liga Primer antara Manchester United dan Liverpool, Sabtu (12/9).

Pasalnya, dominasi kedua tim di ranah sepak bola Inggris selama setengah abad terakhir ini mulai tergerus dominasi finansial klub-klub baru seperti Chelsea atau Manchester City, membuat tensi laga ini sedikit berkurang -- kecuali bagi pendukung kedua klub.

Apalagi laga kali ini juga masih terlalu dini untuk disebut sebagai pertandingan penentu gelar Liga Primer Inggris, mengingat kedua klub masih memiliki lebih dari 30 pertandingan untuk dijalani.


Namun, bagi manajer kedua klub, Louis van Gaal (ManUtd) dan Brendan Rodgers (Liverpool), pertandingan kali ini akan menjadi laga terbesar mereka pada awal musim ini.

Hal itu disebabkan oleh minimnya pencapaian kedua klub di bawah Van Gaal dan Rodgers.

Pencapaian terbaik United dalam dua tahun terakhir di bawah Van Gaal hanyalah keberhasilan mereka menembus Liga Champions musim ini. Sejak memegang ManUtd 2014 lalu, pelatih asal Belanda itu masih belum mampu mengembalikan kejayaan Setan Merah, yang mulai memudar sejak kepergian Sir Alex Ferguson.

Bahkan 234,54 juta poundsterling yang telah dihabiskan Van Gaal untuk mengubah wajah skuat The Red Devils masih belum cukup membuatnya mampu mempersembahkan trofi bagi ManUtd.

Hal serupa juga terjadi di kubu Liverpool. Sejak menukangi The Reds pada 2012 lalu, Brendan Rodgers tak kunjung memuaskan dahaga publik Anfield akan sebuah trofi, kendati mereka telah menghabiskan 270,5 juta poundsterling di bursa transfer.

Bahkan tak jarang inkonsistensi permainan dan aktivitas belanja Rodgers yang dianggap gagal, terus menjadi sorotan pendukung Liverpool dalam tiga tahun ke belakang.

Oleh karena itu, laga akhir pekan nanti akan menjadi kesempatan bagi keduanya untuk memberikan sebuah jawaban konkret kepada suporter kedua tim mengenai proyeksi masa depan dua klub raksasa Inggris.

Beban Besar di Pundak Van Gaal

Meski sama-sama menghadapi tekanan, beban berat lebih terasa di pundak Van Gaal karena status United sebagai klub nomor satu di Inggris.

Pernah menjadi klub yang mendominasi Inggris dalam setengah dekade terakhir, pesona Liverpool semakin terkikis setelah tak kunjung mampu merebut gelar liga sejak 1989 silam.

Demikian juga di tingkat benua. Liverpool yang musim ini gagal menembus Liga Champions, saat ini terlempar jauh dari deretan klub elite Eropa dengan bercokol di peringkat ke-55 koefisien UEFA. Sedangkan ManUtd, masih berada dalam posisi yang lebih baik, dengan menempati peringkat ke-20, dua peringkat di bawah rival satu kota mereka, Manchester City.

Karena itu, tak heran jika kegagalan United mendulang trofi dalam dua tahun terakhir membuat klub itu seakan tenggelam dalam masa 'krisis'.

Deretan nama-nama baru pada susunan pemain United juga dianggap masih menyisakan tanda tanya besar di benak pendukung Setan Merah, yakni apakah pantas mereka dihargai sedemikian mahal?

Mendatangkan Angel Di Maria dengan banderol 52,50 juta poundsterling, Van Gaal justru melepaskan pemain itu dengan harga 44,10 juta poundsterling satu musim kemudian. Deretan pemain mahal seperti Luke Shaw (26,25 juta pound) atau Ander Herrera (25,20 juta pound) juga belum menunjukkan mengapa United rela membayar mahal untuk mendapatkan tanda tangan mereka.

Oleh karena itu tak heran publik sepak bola kembali bertanya-tanya saat Van Gaal memutuskan untuk mengeluarkan 35 juta poundsterling untuk mendatangkan Anthony Martial, pemain yang belum teruji di kompetisi level top.

Beban transfer itulah yang turut menjadi salah satu beban yang menimpa pundak Van Gaal saat ini. Terlebih jika pemain-pemain itu ternyata tampil di bawah harapan.

Selain itu, Van Gaal juga akan berhadapan dengan nama besarnya sendiri sebagai seorang manajer yang selalu mengantarkan klub yang ia bela menjuarai liga.

Dari lima klub yang ia latih sebelum United, Van Gaal selalu berhasil menghadirkan trofi liga domestik. Hal yang tak kunjung mampu dilakukan manajer berusia 64 tahun itu di Old Trafford.

Beban Sama, Pertanyaan Berbeda

Di lain pihak publik Liverpool juga masih menanti hasil investasi Rodgers sebesar 270,5 juta poundsterling di bursa transfer selama tiga tahun terakhir.

Kedua manajer ini memang sama-sama dibebani aktivitas transfer mereka yang tak kunjung membuahkan hasil. Namun, tak seperti Van Gaal, Rodgers tidak memiliki reputasi untuk dipertahankan.

Jika dibandingkan dengan Van Gaal, karier Rodgers memang belum ada apa-apanya. Bahkan perjalanannya bersama The Reds sejauh ini merupakan perjalanan terlama Rodgers bersama sebuah klub.

Saat mengarsiteki Watford, Reading, dan Swansea, Rodgers tak pernah melewati lebih dari 100 pertandingan. Sedangkan bersama Liverpool, sejauh ini ia telah melakoni 159 pertandingan di berbagai ajang.

Selain itu, perjalanannya bersama Liverpool juga bisa dibilang sebagai karier tersukses Rodgers. Pasalnya, selama menangani The Reds ia memiliki persentase kemenangan sebesar 51,57 persen. Jauh lebih baik dibandingkan ketika menangani Watford (40,63 persen), Reading (26,09 persen), atau Swansea (40,63 persen).

Jika pertanyaan yang mengarah kepada Van Gaal adalah apakah ia mampu membuktikan dirinya sebagai salah satu manajer top Eropa, maka pertanyaan yang harus dijawab Rodgers adalah apakah ia mampu menangani tekanan di sebuah klub dengan status seperti Liverpool?

Pertanyaan yang akan coba dijawab oleh dua manajer tersebut, di laga akhir pekan nanti.

Manchester United versus Liverpool, bukan lagi duel dua raksasa Inggris yang memperebutkan gelar juara. Untuk saat ini laga itu adalah pertaruhan nama dua manajer, yang berada dalam tekanan besar. (vws)