Jafri Sastra merasa tidak ada yang istimewa usai dirinya mengantarkan Mitra Kukar juara Piala Jenderal Sudirman (PJS). Begitu pula, tidak ada sambutan dari masyarakat Padang dan Payakumbuh, kota kelahirannya, setelah ia bersama skuatnya menjegal Semen Padang di babak final PJS, Minggu (24/1).
Namun, bagi jafri itu justru bukan masalah. "Sebab, memang seperti biasanya saya pulang, bertemu teman, dan melakukan rutinitas sehari-hari," ujar pelatih berusia 50 tahun itu menuturkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jafri memang langsung terbang ke kampung halamannya itu sehari usai membawa Mitra Kukar juara. "Di bandara juga seperti biasa saja saya pulang. Ya mungkin karena yang juara bukan Semen Padang. Beda lagi kalau yang juara Semen Padang, pasti sambutannya meriah," ujar ayah dari dua anak itu menuturkan.
Kebetulan, Aziza sempat izin tidak sekolah karena ikut ayahnya ke Jakarta untuk menyaksikan final PJS. "Ia juga tampaknya kelelahan setelah loncat-loncat kegirangan pegang trofi PJS. Sekarang saya mau jemput anak saya dulu pakai motor," Jafri menerangkan.
Arak-arakan di Tenggarong
Manajemen Mitra Kukar memang sengaja langsung membubarkan tim setelah juara. "Mungkin agar pemain dan pelatih bisa liburan dulu bertemu keluarga setelah lelah di Jenderal Sudirman (PJS)," pelatih yang posisinya di Semen Padang digeser Nilmaizar pada 2015 lalu.
Rencananya, ia menyampaikan, pihak klub akan melakukan arak-arakan trofi PJS di Tenggarong. "Nah, mungkin kami akan ikut lagi ke sana. Tapi saya belum tahu pasti kapan acaranya. Mungkin Sabtu atau Minggu," ucap Jafri.
Manajemen juga menjanjikan bonus kepada tim setelah sukses menjuarai PJS. Hanya, ia mengaku belum mengetahui bonusnya nanti.
"Yang penting kami ingin menikmati kemenangan kami ini dengan cara masing-masing bersama keluarga." (bac)