Pihak Australia sendiri sebenarnya mengaku bahwa pada pemilihan Presiden FIFA pada 29 Mei 2015, mereka memilih Pangeran Ali. Namun, perebutan kursi kepresidenan tetap jatuh kepada Sepp Blatter lantaran pangeran dari Yordania itu mundur pada putaran terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam situasi ini (upaya reformasi FIFA), FFA percaya bahwa Pangeran Ali layak dalam upaya tersebut," ujar Presiden FFA, Steven Lowy. Australia sendiri merasa dirugikan saat dikalahkan pada bidding Piala Dunia 2022.
"Ia memiliki visi yang jelas dalam melakukan reformasi."
Meski demikian, Pangeran Ali disebut bukan salah satu kandidat favorit dalam pemilihan itu. Ada dua calon yang diprediksi bakal meraih banyak suara, yakni Sekretaris Jenderal UEFA, Gianni Infantino dan Presiden AFC, Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa dari Bahrain.
Selain itu, ada dua nama calon lainnya yang bakal bertarung, yakni Tokyo Sexwale dan mantan Deputi Sekjen FIFA, Jereome Champagne.
FFA bakal mengarahkan pilihannya sesuai dengan tujuan reformasi FIFA yang telah disepakati bersama. "Dalam kaitannya dengan reformasi mengenai pembatasan masa jabatan dan organisasi yang lebih baik, kami juga sangat bangga untuk mendukung reformasi dalam kesetaraan gender," kata Lowy.
"Sangat penting bahwa reformasi harus diwujudkan dengan komitmen kuat sebagai sinyal permulaan baru bagi FIFA." (bac)