Tim Transisi bentukan Kemenpora tengah merangkul sejumlah klub sepak bola Tanah Air untuk bergabung di Liga Indonesia Tim Transisi (LIT). Sebanyak 40 klub yang terdiri dari berbagai jenjang turut hadir dalam rapar koordinasi yang digelar di Wisma Menpora, Jumat (11/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kami adalah organ yang dibentuk oleh pemerintah, kami siap gelar kompetisi (LIT). Pertama yang kami harus tegakkan adalah peraturannya dulu," kata Cheppy.
Cheppy menjelaskan, pada musim pertama LIT 2016 hanya menggelar satu kasta gabungan dari klub ISL, Divisi Utamma, maupun Divisi di bawahnya dengan catatan memenuhi syarat yang ditetapkan.
"Baru pada musim 2017 akan dibagi kastanya, kemungkinan untuk level teratas ada 14 atau 16 klub. Sedangkan untuk level di bawahnya akan dilihat lagi dari jumlah klubnya nanti," bebernya.
Buat Klub Dilema
Wacana kompetisi LIT yang digagas Tim Transisi Kemenpora kembali membuat posisi para petinggi klub dilema. Sebab, sebagian besar klub juga mendapat tawaran mengikuti kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC) yang digagas PT Gelora Tisula Semesta (GTS) yang sebelumnya mengelola ISL.
Dualisme kompetisi pernah terjadi sejak 2011 antara ISL dan Liga Primer Indonesia (IPL). PSSI mengakui kompetisi IPL sementara pengurus tandingan dalam wadah KPSI tetap menjalankan ISL.
"Persoalan saat ini adalah imbas dari PSSI masa lalu era Nurdin Halid dan Djohar Arifin Husin. Bukan hanya klub yang jadi korban, tapi masyarakat. Kami berharap agar pemerintah konsisten dan tegas," tutur Faisal Yusuf, CEO Lampung FC.
Situasi ini semakin membingungkan klub-klub Tanah Air setelah PSSI mengeluarkan wacana tetap akan menggulirkan ISL. PSSI yakin bisa kembali mengelola sepak bola Indonesia setelah Mahkamah Agung (MA) memutuskan untuk menolak kasasi dari Kemenpora. (jun)