Namun, PSSI tetap menegaskan kembali bahwa pihaknya hanya mengakui Indonesia Super League (ISL) sebagai produk asli induk sepak bola Tanah Air.
Seperti diberitakan sebelumnya, salah satu instruksi PSSI dalam rapat Komite Eksekutif (Exco) adalah memerintahkan PT Liga Indonesia menggelar ISL. Tak ayal, keinginan PSSI itu berbenturan dengan rencana klub-klub anggota yang akan menggulirkan ISC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di lain pihak, PSSI juga masih menunggu terkait izin ISL dari Kepolisian. "Kami berharap bahwa pihak Kepolisian secara bijaksana menentukan pilihan sesuai dengan legalitasnya," tutur Gusti.
"Artinya, SK pembekuan itu batal demi hukum dan PSSI yang berhak menggelar kompetisi, dalam hal ini ISL."
Menurutnya, konsekuensi hukum tersebut berlaku efektif setelah 21 hari sejak keluar putusan Mahkamah Agung. "Jadi, tanggal 29 Maret ini sudah berlaku dan seharusnya sudah menjadi pertimbangan dari kepolisian untuk memberikan izin," imbuh mantan Ketua Asosiasi Provinsi DKI Jakarta itu.
Di lain pihak, PSSI juga tak bisa memungkiri, mereka yang menggelar ISC adalah anggota PSSI. "Tapi untuk urusan kebijakan terkait kompetisi tetap ada di tangan federasi dong," ungkap pria yang juga berprofesi sebagai pengacara itu.
PSSI sendiri, lanjut Gusti, memang tak bisa membendung keinginan klub-klub yang akan menggelar ISC. "Kita lihat saja soal izin nanti di kepolisian," tukasnya.
"Apabila ISL dapat izin, saya yakin klub-klub akan kembali ke kompetisi di bawah PSSI," tuturnya.
"Tapi jika tidak ada izin, klub tentu punya inisiatif yang harus ditampung." (bac)