Kisah Eja, Jakmania yang Tewas karena Dugaan Aniaya

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Senin, 16/05/2016 15:48 WIB
Fahreza pergi Jumat sore hari untuk melepas Persija di laga kandang terakhir. Ia pulang dalam kondisi babak belur dan akhirnya tak mampu bertahan. Keluarga Muhammad Fahreza mendapatkan kostum Persija dari kesebelasan kesayangannya. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Muhammad Fahreza, pemuda 16 tahun yang mencintai klub Persija Jakarta, mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Marinir Cilandak, Minggu (15/5) pagi.

Jumat (13/5) sore hari, ia bersama puluhan ribu The Jakmania --pendukung Persija-- pergi ke Stadion Gelora Bung Karno untuk menyaksikan laga kandang terakhir Macan Kemayoran di GBK. Ia kembali ke rumah tengah malam, dalam kondisi luka-luka parah di tubuh bagian atas. Ia tak mampu bertahan.   

Eja, demikian ia biasa dipanggil, diduga dianiaya petugas keamanan yang berjaga di sana.


Kisah tragis Eja bermula saat anak bungsu dari lima bersaudara ini hendak menonton pertandingan antara Persija melawan Persela Lamongan bersama kakak ketiganya, Suyatna (25). Sebelum berangkat, Eja dan Yatna sempat meminta izin kepada kakak pertama, Muhamad Soleh (32).

"Saya tanya, 'Memang punya uang?' Dia katakan punya Rp50 ribu untuk bayar karcis saja. Sudah saya larang untuk tidak nonton langsung, saya bilang lihat di televisi saja. Tapi dia tetap mau pergi. Akhirnya di jalan saya anterin ke depan gang (Jalan Sawo Ciganjur), kata Soleh kepada CNNIndonesia.com di rumahnya.

"Pikiran saya, mereka hanya berdua, ternyata di depan gang banyak yang nonton. Saya merasa aman karena ada banyak temannya,"

Menurut Suyatna, adiknya itu adalah pemuda yang mandiri dan tidak ingin menyusahkan kedua orang tuanya. Yatna menyampaikan, Eja mendapat uang untuk beli tiket setelah meminjam ke beberapa temannya, dan hasil kerja angkut galon.

"Tidak pernah menyusahkan, selalu membuat senang orang. Sampai sebelum berangkat, ia sempat meminta dibungkuskan nasi dari rumah," kata Yatna dengan nada terisak tangis.

Sebelum berangkat, Soleh pun sempat membekali Eja uang sejumlah lima ribu rupiah.

Menurut Yatna, mereka pun berangkat petang hari dari Ciganjur menuju Senayan menggunakan sepeda motor. Setibanya di sana, masing-masing memegang satu tiket dan masuk lewat pintu di Sektor 8.

Ketika mengantri masuk, Yatna terpisah dengan Eja yang berdiri di sampingnya. Yatna berhasil masuk setelah menunjukkan tiket ke petugas keamanan, sementara Eja masuk ke barisan rombongan tak bertiket.

Menurut keterangan panitia penyelenggara, kurang lebih 60 ribu Jakmania hadir di GBK untuk menyaksikan laga kandang terakhir. Stadion itu memang akan direnovasi untuk kepentingan Asian Games, sehingga kemungkinan besar Jakmania bisa melihat Persija main lagi di sana pada dua tahun lagi.

Panpel hanya menyediakan tiket 40 ribu untuk tribun bawah.

Eja kemudian terbawa arus pengantri tak bertiket, dan pada saat itu Yatna mengaku keadaan sudah agak sedikit kisruh.

"Biasanya Eja kalau nonton bareng saya itu berdiri mengantri di depan saya, tapi pada waktu itu dia di samping saya karena masing-masing telah memegang tiket. Kami hendak masuk pada waktu pertandingan sudah kick-off. Ketika saya berhasil masuk, saya lihat Eja masih di luar."

"Saya pisah saja dengannya, saya pikir almarhum juga sudah besar dan saya pikir nonton Persija dulu. Sudah selesai, saya cari. Saya coba telepon, tapi tidak ada sinyal," ucap Yatna.

Di Ciganjur, Soleh melihat waktu menunjukkan pukul sebelas malam dan coba menghubungi adik-adiknya. Semula, Soleh ingin menanyakan hasil skor laga tersebut.

"Pas saya telepon, Eja teriak bahwa dia ada di sektor 12. Rupanya Eja mengira saya adalah Suyatna yang meneleponnya dan dia langsung tutup telepon. Pikiran saya, Eja aman masih sama kakaknya," ucap Soleh.

Namun kenyataan tak demikian. Soleh kemudian dihubungi salah seorang JakMania yang ada di Senayan bahwa Eja terkena batu akibat bentrok dengan petugas keamanan.

Yatna yang ada di lokasi pada saat itu tengah berada di parkiran motor untuk mencari sinyal dan adiknya. Ia kemudian menerima telepon dari Soleh yang memberi kabar Fahreza ada di Pintu 2.

Soleh sendiri mendapatkan kabar soal Eja dari seorang JakMania menteng yang menghubunginya.

"Begitu saya tiba, Eja lihat saya dan langsung peluk saya sekencang-kencangnya," ujar Yatna.

Yatna menceritakan bahwa saat berpisah dengan Eja, adiknya terbawa arus penonton dari sektor 8 hingga sektor 12.

"Ia dikira provokator kisruh dari gerombolan yang tak punya tiket. Padahal ia mendekati petugas keamanan saat itu dengan maksud meminta perlindungan," katanya.

Babak Belur

Dari Pintu 2, Eja minta untuk dipulangkan ke rumah. Yatna dengan sigap mengikat adiknya dengan syal agar tidak jatuh saat dibonceng. Salah seorang JakMania dari Sawangan pun duduk dibelakang Eja, menghempitnya agar tidak jatuh saat perjalanan.

Satu motor, tiga orang.

Soleh yang sudah menununggu dengan perasaan khawatir, akhirnya bertemu dengan adik paling kecilnya tersebut pada pukul dua dini hari (14/5) sudah dalam keadaan babak belur. Eja pun dibawa ke Mushalla Daarussa'adah yang terletak tak jauh dari rumahnya.

Ia dibawa ke sana agar sang ibu, Zainabun (47), tak kaget melihat kondisi anaknya karena mengidap penyakit jantung.

Ayah Eja, Samsudin, kemudian memeriksa kondisi Eja.

"Saya tanya kenapa bisa babak belur. Almarhum mengatakan ingin minta perlindungan malah dihajar polisi di kepala dan langsung jatuh. Ia kemudian langsung dihajar punggung, kemudian area tubuh bagian ginjal, makanya dia tidak dapat berdiri. Kemudian pelipis mata, mulut, hancur anak saya," tutur Samsudin.

Pukul tiga pagi Eja dibawa ke rumah dan diberi makan bubur. Namun tidak lama kemudian ia memuntahkan makanannya. Soleh curiga Eja menderita luka dalam.

"Ternyata di kepala ada benjolan pukulan yang mencekung. Langsung kami bawa ke rumah sakit. Pertama ke Rumah Sakit Andhika tidak diterima karena tidak ada alat untuk men-scan kepalanya. Kemudian Rumah Sakit Zahira juga tidak ada memiliki itu dan merujuk ke Rumah Sakit Fatmawati atau Rumah Sakit Marinir Cilandak.

"Paginya, sekitar jam setengah 10-an, Eja dibawa ke Rumah Sakit Marinir Cilandak dan langsung ditangani. RS itu bilang ada alat scanning, tapi sedang tidak ada ruangan untuk Eja. Terus akhirnya diminta untuk scanning dulu," kata Soleh.

Eja kemudian dipindahkan dari ruang Unit Gawat Darurat (UGD) ke ruang operasi pada tengah hari. Akan tetapi biaya pemindaian kepala Eja yang berkisar Rp1,8 juta menjadi masalah lain bagi pihak keluarga.

"Dari pihak keluarga tidak sama sekali pegang uang. Jangankan 1,8 juta rupiah, 200 ribu juga kami tidak pegang. Saya kemudian musyawarah dengan keluarga," ucap Soleh.

"Kami sampai menggadai akte rumah dan cair Rp 3 juta,"

Namun Eja tak bisa bertahan. Minggu pagi sekitar pukul delapan pagi, laki-laki yang hobi bermain sepak bola dan mengaji ini meninggal dunia dan dimakamkan di TPU Ciganjur.

"Kami ikhlas saja, memang ini sudah ajalnya almarhum. Kita tidak bisa apa-apa lagi. Memang bukan salah orang lain, kita pasrah saja," ujar Soleh. (vws)