Salah satu kritik yang sering dilontarkan terhadap penyelenggaraan PON kali ini adalah soal sportivitas dan keadilan, terutama pada cabang-cabang olahraga adu fisik yang memang mengandalkan penilaian subyektif wasit. Berbagai teriakan ketidakpuasan pada keputusan wasit kerap terdengar di arena cabang bela diri, mulai dari judo, karate, gulat, hingga tinju.
Yudha menekankan bahwa sebelum pertandingan, ia selalu mengumpulkan wasit dan panitia pelaksana agar pertandingan terselenggara dengan baik dan menjunjung tinggi sportivitas. Semua pihak, katanya, berkomitmen ingin mensukseskan dan memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh kontingen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Yudha menjelaskan pemilihan wasit bukan kewenangan pengurus PON, tapi cabor (Cabang Olahraga).
"Dan sesuai dengan Standar Belanja Biaya (SBB), honor wasit nasional di PON adalah Rp1 juta dan wasit internasional adalah Rp1,25 juta per hari," ucapnya menambahkan.
Lihat juga:Catatan-catatan Kericuhan PON Jabar 2016 |
Delapan kasus itu adalah kasus yang ada di cabang gantole, karate, panjat tebing, wushu, hoki, judo, renang indah, dan terbang layang.
Itu sebabnya Yudha menyebut dari segi penyelenggarakan, PON 2016 dapat dikatakan sukses.
"Dewan hakim yang ada di PON 2016 itu dewan hakim yang ada di Riau juga dan mereka menyatakan PON di Jabar lebih baik, di Riau lebih banyak masalah. Siapa bilang di sini kacau balau? Ini pernyataan yang dewan hakim sendiri, bukan kami mengada-ada atau sebagai excuse, tidak," tuturnya.
(vws)