Jelang Piala AFF 2016

Irfan Bachdim, Gagalnya Si Tampan yang Ingin Tampil Menawan

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Rabu, 16/11/2016 15:02 WIB
Irfan Bachdim, Gagalnya Si Tampan yang Ingin Tampil Menawan Irfan Bachdim pernah jadi idola publik sepak bola Indonesia di tahun 2010. ( AFP PHOTO / ADEK BERRY)
Jakarta, CNN Indonesia -- Irfan Bachdim pernah jadi fenomena nasional di tahun 2010. Enam tahun berselang, Irfan sempat merajut asa untuk tampil menawan di Piala AFF 2016.

Malang tak bisa ditolak, impian Irfan untuk tampil kembali terhalang tembok besar. Pemain berdarah Indonesia-Belanda itu mengalami cedera tulang fibula pergelangan kaki kiri pada latihan persiapan timnas di lapangan Latihan Sekolah Pelita Harapan, Karawaci.

Tekad irfan padam setelah dijegal rekan setimnya, Hansamu Yama, pada sesi latihan small game. Ini merupakan kegagalan kedua Irfan setelah pada Piala AFF 2014--masih di bawah arahan Alfred Riedl--ia gagal membela skuat Garuda karena dibekap cedera hamstring pada latihan timnas tahap akhir kala itu.


Sekadar mengulang memori enam tahun silam, bukan hanya penggemar tim nasional Indonesia saja yang terpukau oleh kehebatan Irfan. Orang-orang yang sebelumnya tak menggemari sepak bola atau timnas Indonesia, juga turut meluangkan waktu untuk menonton dan membicarakan timnas Indonesia.

Nama Irfan kemudian tak hanya beredar di pemberitaan olahraga. Bahkan berita infotainment pun tak ragu untuk ikut arus menyemarakkan gelaran Piala AFF yang berlangsung di Jakarta.

Tampan, muda, hebat dalam mengolah bola dan sempat bertualang di luar negeri. Hal-hal itulah yang membuat Irfan terlihat sangat menawan.

Bersama Cristian Gonzales, Irfan adalah warna baru dalam sejarah timnas Indonesia. Mereka mampu berpadu apik dengan bintang-bintang tim nasional yang sudah dikenal publik sebelumnya seperti Bambang Pamungkas, Firman Utina, dan Okto Maniani.

Irfan, bersama rekan-rekannya di tim nasional, sukses kembali menumbuhkan optimisme dan harapan besar publik pada timnas Indonesia. Gelora kehebatan Indonesia di Piala AFF bahkan melebihi gairah dan antusiasme publik pada timnas Indonesia di Piala Asia 2007.

Stadion Gelora Bung Karno jadi saksi betapa besar magnet Irfan, dan juga timnas Indonesia secara keseluruhan saat itu. Setelah mampu memukul Malaysia 5-1 di partai pembuka, laga-laga selanjutnya 'Pasukan Garuda' seolah tak menyisakan bangku kosong di arena pertandingan.

Harapan besar agar Indonesia mengakhiri dahaga gelar yang sudah terjadi sejak 1991 pun terus mengapung. Namun, sayang langkah fantastis 'Tim Garuda' terkapar di babak final lantaran kalah dari Malaysia.

Momen Piala AFF 2010 seharusnya bisa jadi tonggak. Namun yang terjadi kemudian adalah kisruh internal di persepakbolaan dalam negeri selama bertahun-tahun.

Irfan masih coba berkarier di Indonesia bersama Persema Malang meski namanya tak lagi benderang. Nama Irfan yang sempat besar kemudian tenggelam dalam keruwetan sepak bola Indonesia.

Irfan kemudian mencoba peruntungan dengan berkarier di luar negeri. Catatan statistik Irfan pun tak terlalu mengesankan.

Di tahun 2016, timnas Indonesia kembali jadi perbincangan. Ketiadaan laga internasional selama satu tahun lantaran sanksi FIFA membuat rindu publik untuk melihat timnas Indonesia beraksi mencapai klimaksnya.

Indonesia pun meresponnya dengan bagus. Di laga debut usai sanksi, Indonesia menggulung Malaysia dengan skor 3-0. Sebuah penegasan yang lantang dari timnas Indonesia bahwa mereka datang dengan hasrat berkompetisi yang sangat besar usai menjalani masa hukuman.

Dalam laga itu, Irfan jadi salah satu nama yang mengundang banyak pujian. Meskipun hanya mendapatkan menit bermain yang sedikit di Liga Jepang, Irfan membuktikan bahwa ia tetap jadi salah satu pemain yang bisa memberikan perbedaan.

Dribble milik Irfan mampu merepotkan pertahanan Malaysia. Dengan bermain sebagai second striker, Irfan mampu memaksimalkan perannya dengan sangat baik. Kerjasama Irfan dengan Boaz Solossa, Andik Vermansah, dan Zulham Zamrun menjanjikan Indonesia bakal memiliki lini depan yang mematikan.

Irfan adalah salah satu pemain kesayangan Alfred Riedl dan sudah sepatutnya Irfan bisa menjawab kepercayaan tersebut. Keyakinan Riedl untuk tetap memanggil Irfan meskipun ia jarang bermain adalah bukti kuat betapa besarnya keyakinan Riedl terhadap mantan pemain Utrecht tersebut. (bac)