Jelang Piala AFF

Momen-momen Kontroversial Sepanjang Piala AFF

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Rabu, 16/11/2016 07:36 WIB
Momen-momen Kontroversial Sepanjang Piala AFF Ilustrasi penonton timnas Malaysia di final Piala AFF 2014. (Reuters/Joshua Paul)
Jakarta, CNN Indonesia -- Piala AFF kerap menjadi pertempuran sengit bagi kesebelasan negara-negara di Asia Tenggara. Selain menampilkan permainan ngotot, banyak intrik-intrik yang menyebabkan laga berlangsung kontroversial hampir di setiap edisinya.

Sejumlah insiden itu pun kerap membuat para penonton mengernyitkan dahi mereka. Seperti didokumentasikan dari Fox Sports Asia, berikut beberapa kontroversi yang lahir di Piala AFF:

Noda 'Sepak Bola Gajah'


Piala AFF 1998--dulu masih bernama Piala Tiger--menjadi turnamen yang paling banyak disorot gelarannya. Bukan karena Singapura meraih juara, namun karena laga kontroversial timnas Indonesia menghadapi Thailand pada laga Grup A di Ho Chi Minh, 31 Agustus 1998.

Jika lazimnya setiap tim mencari kemenangan, tidak dengan laga antara Indonesia melawan Thailand. Keduanya mencoba kalah pada laga tersebut.

Itu diharapkan karena kedua tim menghindari bertemu tuan rumah Vietnam di semifinal. Indonesia yang berusaha kalah justru sulit mendapatkan hasil itu dari Thailand.

Pasalnya, hasil imbang sudah cukup bagi Thailand menghindari pertemuan dengan Vietnam. Indonesia awalnya tak ingin mempedulikan hasil laga tersebut dengan tetap mengincar kemenangan.

Indonesia bahkan sempat dua kali memimpin lewat gol Miro Baldo Bento dan Aji Santoso. Namun, Thailand selalu menyamakan kedudukan dengan gol Kritsada pada menit ke-62 dan Therdsak (86).

Thailand yang sudah meraih hasil imbang enggan mencetak gol ke gawang Indonesia. Beberapa peluang seolah dibuang secara sengaja dilakukan pasukan Gajah Perang.

Posisi itu membuat memancing bek Merah Putih Mursyid Efendi untuk melakukan hal paling tabu di sepak bola. Benar, ia sengaja mencetak gol bunuh diri ke gawang sendiri pada menit ke-86 agar Indonesia kalah.

Indonesia memang terhindar dari Vietnam di semifinal. Namun, aksi memalukan itu mendapat hukuman sepadan setelah Singapura menaklukkan Garuda 2-1.

Aksi Mursyid itu pun lantas menggemparkan sepak bola Asia Tengara, terutama Indonesia. Karena ulahnya itu, PSSI menghukum Mursyid larangan aktif di sepak bola selama seumur hidup.

Media massa nasional pun sempat memberitakan, Mursyid langsung dijauhi rekan-rekan setim dan staf pelatih di ruang ganti usai melakukan aksi 'Kamikaze' tersebut. Peristiwa itu pun dikenang hingga saat ini dengan istilah 'sepak bola gajah' di turnamen bergengsi se-Asia Tenggara.

Tiga Kartu Merah Pemain Myanmar

Myanmar untuk kali pertama sukses tembus ke semifinal pada Piala AFF 2004. Namun, sukses itu harus dibayar mahal oleh tim berjulukan The White Angels tersebut.

Pada leg pertama, Myanmar harus menjalankan laga kandang mereka di Malaysia yang notabene tetangga Singapura. Myanmar kalah 3-4 dari The Lions.

Leg kedua dilangsungkan di Stadion Kallang, Singapura, dengan lapangan berlumpur. Kondisi itu sempat memberikan keuntungan bagi tim tamu.

Myanmar pun sempat unggul 2-0 lewat gol Min Thu dan Soe Myat Min. Namun, mereka tak mampu mempertahankan keunggulan tersebut.

Singapura menyamakan kedudukan lewat gol Noh Alam Shah pada menit ke-74 dan 94. Singapura mampu mencetak gol setelah Yan Paing didera kartu merah saat laga menyisakan 20 menit lagi.

Singapura sempat mendapatkan hadiah penalti saay laga tinggal menyisakan dua menit lagi waktu normal. Para pemain Myanmar protes berlebihan sehingga dua pemain lagi terkena kartu merah, yakni Zaw Lynn Tunn dan Moe Kyaw Thu.

Singapura memang gagal mengeksekusi penalti untuk membalikkan kedudukan tersebut.

Namun, sikap para pemain Myanmar yang tak mampu mengontrol emosi mereka pun memberikan keuntungan kepada Singapura.

Terbukti, mereka menambah dua gol lagi lewat Noh Alam Shah menit ke-96 dan Agu Casmir pada menit ke-108. Leg kedua itu pun ditutup dengan kemenangan Singapura 4-2 atas Myanmar. Mereka melaju ke final dengan agregat 8-5.

Aksi Mogok Skuat Thailand

Laga kontroversial kembali melibatkan timnas Thailand. Kali ini pada final Piala AFF 2007 menghadapi Singapura.

Tepatnya pada leg pertama di kandang Singapura, para pemain Thailand sempat melakukan mogok main. Itu lantaran wasit C Ravichandran memberikan hadiah penalti kepada Singapura pada menit ke-83 saat skor sama kuat 1-1.

Wasit memberikan tendangan titik putih karena menganggap penyerang The Lions Noh Alam Shah dijatuhkan bek Thailand. Para pemain Thailand pun langsung protes karena menilai tak ada dorongan terhadap Noh Alam Shah di dalam kotak penalti.

Mereka langsung keluar lapangan dan bertahan di ruang ganti. Sekira 15 menit kemudian, para pemain Gajah Perang kembali meneruskan laga setelah dibujuk pihak penyelenggara pertandingan.

Dari tayangan ulang, memang tampak bek Thailand tidak melakukan pelanggaran tersebut.

Pemain Singapura Mustafic Fahrudin pun sukses mengeksekusi penalti, Singapura menang 2-1 di kandang mereka.

Kemenangan itu pun membawa Singapura meraih trofi Piala AFF karena pada leg kedua, kedua tim bermain 1-1. Singapura menang 3-2 atas Singapura.

Serangan Kiper Myanmar terhadap Wasit

Kesebelasan Singapura tampaknya menjadi lawan yang kerap menyedot emosi timnas Myanmar. Setelah drama di semifinal Piala AFF 2007, kedua tim bertemu kembali selang satu tahun kemudian pada fase grup di Jakarta.

Myanmar kalah 1-3 dari Singapura dengan dinodai aksi tercela pemain The White Angels. Kiper Myanmar Aung Aung Oo mengejar dan mendorong wasit.

Kejadian itu bermula setelah wasit mengesahkan gol Agu Casmir dari tendangan bebas yang diambil Noh Alam Shah. Para pemain Myanmar tidak terima karena Noh Alam langsung menendang bola ketika pagar hidup Myanmar masih berdebat dengan wasit menyoal posisi mereka.

Aung Oo yang merasa gawangnya kebobolan dengan cara tak adil bagi timnya itu marah. Ia mengejar dan menyerang wasit asal Vietnam Phung Dinh Dung.

Wasit pun langsung memberikan kartu merah terhadapnya. Aung Oo sendiri hanya mendapat hukuman larangan bermain satu kali di timnas Myanmar akibat perbuatannya itu.

Tembakan Laser: Fan Usil di Bukit Jalil

Piala AFF 2010 sempat membawa optimisme publik Indonesia mengimpikan trofi yang belum pernah direngkuh. Maklum, setelah dua edisi gagal tembus ke final, skuat yang kala itu dilatih Alfred Riedl untuk pertama kalinya mampu melangkah hingga laga puncak.

Sayangnya, Indonesia kalah agregat 2-4 dari Malaysia. Ada drama yang sempat membetot urat syaraf di balik kekalahan skuat Merah Putih tersebut.

Insiden yang mungkin masih diingat publik Indonesia hingga kini adalah tembakan laser di Stadion Bukit Jalil pada leg pertama pertandingan final.

Sorotan laser itu salah satunya diarahkan kepada kiper timnas Indonesia Markus Harison. Markus sempat kesal dan protes atas tembakan sinar laser dari tribune tersebut.

Indonesia pun kalah 0-3 dari Malaysia. Kekalahan itu pula yang menyebabkan Garuda gagal memboyong trofi untuk kali pertama karena Irfan Bachdim dan kawan-kawan hanya menang 2-1 pada leg kedua di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Bukan hanya insiden laser, usai laga santer pula rumor yang menyebutkan sejumlah pemain timnas Indonesia disuap bandar judi Asia untuk sengaja kalah.

Kabar itu menyeruak melalui surat elektronik misterius dengan nama samaran Eli Cohen yang terlanjur menyebar ke media sosial.

Salah satu yang dituduhkannya justru kepada Markus dan bek timnas Indonesia Maman Abdurahman. Belakangan, dua mantan pemain timnas Indonesia itu membantah tudingan yang menurut mereka tidak berdasar tersebut.









(bac)