Edy menjadi ketum terpilih menggantikan La Nyalla Mattalitti setelah memperoleh 76 suara dalam Kongres Biasa Pemilihan PSSI, sementara Moeldoko sebagai pesaing terkuat hanya mendapat 23 suara. Calon ketum lainnya, Eddy Rumpoko, hanya memperoleh satu suara, sedangkan tujuh suara lainnya abstain.
Gatot yang hadir mewakili Kemenpora dalam Kongres PSSI di Hotel Mercure Ancol, menilai proses pemilihan ketum sudah sesuai dengan tata tertib dan aturan, baik Statuta FIFA, AFC maupun PSSI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PSSI harus segera melakukan konsolidasi internal. Bahwa saat persaingan telah menimbulkan polarisasi pilihan, tetapi kini sudah harus disatukan kembali. Apalagi proses pemilihan tidak diwarnai dengan interupsi dan apalagi gejolak," demikian bunyi pernyataan resmi Gatot lewat pesan singkat.
Salah satu poin utama tujuan FIFA yang disebut pada Pasal 1 butir (e), lanjut Gatot, adalah untuk melawan tindakan yang berpotensi ke arah match manipulation. "Ini concern banyak pihak, dan Pak Edy dengan latar belakang militer yang dimilikinya harus segera mampu mengatasinya," ucapnya.
Lebih lanjut, Gatot mengatakan salah satu persoalan klasik yang selalu berulang dalam persepakbolaan di Indonesia adalah masalah suporter. Sepekan, lalu korban tewas muncul lagi di Palimanan.
Meski kelompok suporter lebih menjadi domain klub, Gatot ingin mulai saat ini PSSI harus lebih perhatian kepada suporter. "Karena suporter itu bagian dari sepakbola, mengingat sepakbola tanpa suporter tidak ada artinya," ujarnya. (vws)