Timnas 'Abnormal' Itu ke Final
Bowie Haryanto | CNN Indonesia
Jumat, 09 Des 2016 09:40 WIB
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia -- Satu hari jelang laga pembuka Piala AFF 2016 melawan Thailand, pelatih tim nasional Indonesia Alfred Riedl mengungkapkan kondisi tidak normal tim Garuda jelang tampil di turnamen sepak bola terbesar di Asia Tenggara tersebut.Riedl berusaha bersikap realistis menakar peluang Indonesia di Piala AFF 2016. Bagaimana tidak? Riedl hanya diizinkan mengambil masing-masing dua pemain dari setiap klub Indonesian Soccer Championship (ISC).
Kondisi tersebut diperburuk dengan persiapan Timnas yang mepet, minimnya uji coba, dan Irfan Bachdim yang mengalami cedera hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dunia sepak bola internasional, tidak ada pelatih timnas sebuah negara yang hanya diizinkan mengambil maksimal dua pemain dari masing-masing klub. |
Pelatih asal Austria itu memang tidak pernah mengungkapkan janji manis kepada masyarakat Indonesia selama tiga periode menangani tim Garuda. Riedl hanya mengatakan kondisi abnormal yang dilihatnya berdasarkan pengalaman puluhan tahun melatih.
Di dunia sepak bola internasional, tidak ada pelatih timnas sebuah negara yang hanya diizinkan mengambil maksimal dua pemain dari masing-masing klub. Tidak ada negara, terutama di Eropa, yang kompetisi kasta tertingginya masih berjalan ketika timnas mereka sedang bermain. Hanya ada di Indonesia.
Nah, menariknya Riedl yang sekarang terlihat berbeda dari sosok pelatih yang menangani Timnas Indonesia di Piala AFF 2010 dan 2014. Riedl yang sekarang terlihat jago melakukan perang psikologis terhadap lawan.
Contohnya ketika membawa Andritany Ardhiyasa dan Muchlis Hadi Ning dalam dua konferensi pers jelang pertandingan melawan Vietnam di babak semifinal. Riedl seperti ingin mengecoh Vietnam soal komposisi tim inti Indonesia.
Terlebih, beberapa keputusan Riedl di Piala AFF 2016 sering dikritik, termasuk terus memainkan Kurnia Meiga di bawah mistar gawang meski kebobolan tujuh gol dari tiga laga Grup A.
Riedl tidak menggubris kritikan tersebut. Mantan pelatih timnas Vietnam itu tetap mempertahankan Meiga di bawah mistar gawang Indonesia. Hasilnya pun nyata. Meiga salah satu pemain penting Indonesia hingga melangkah ke babak final.
Riedl tidak lagi pelatih pragmatis yang terus mengandalkan formasi 4-4-2. |
Hal menarik lainnya dari Riedl di Piala AFF ketiganya bersama Indonesia adalah, pelatih yang biasa disapa 'Opa' oleh awak media itu tidak kaku lagi dalam menerapkan strategi.
Riedl tidak lagi pelatih pragmatis yang terus mengandalkan formasi 4-4-2. Riedl bukan lagi pelatih yang 'kebingungan' ketika timnya sedang dalam posisi kalah. Riedl sekarang lebih fleksibel.
Ketika melawan Vietnam malam tadi, Riedl sadar Indonesia harus mempertahankan keunggulan 2-1 di leg kedua. Timnas Indonesia pun bermain formasi 4-2-3-1 dengan mengandalkan Manahati Lestusen dan Bayu Pradana sebagai jangkar lapangan tengah.
Riedl pun berani mengambil keputusan penting di momen penting, seperti mencadangkan Evan Dimas dalam beberapa pertandingan terakhir dan hanya menjadikan Zulham Zamrun penghangat bangku cadangan.
Usai membawa Indonesia ke final Piala AFF untuk kali kedua, Riedl tentunya akan merasakan tekanan lebih berat. Tapi perlu diingat apapun hasil Indonesia di final, apresiasi perlu kita berikan kepada Riedl setelah membawa Timnas 'Abnormal' yang menjadi underdog sejak awal ke laga puncak Piala AFF 2016. (vws)