ANALISIS

Senja Bernama Liliyana Natsir di Indonesia Terbuka

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Senin, 09/07/2018 12:43 WIB
Liliyana Natsir mungkin baru saja memainkan laga terakhirnya di Indonesia Terbuka. Sebuah senja yang indah untuk penggemar Liliyana dan bulutangkis Indonesia. Indonesia Open 2018 bisa jadi turnamen Indonesia Open terakhir untuk Liliyana Natsir. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Minggu, 8 Juli, pukul 17.10. Orang-orang tak memedulikan senja yang hampir terbenam di luar Istora. Mereka sibuk menikmati senja bernama Liliyana Natsir di atas lapangan.

Liliyana bersama Tontowi Ahmad, menjalani laga final Blibli Indonesia Open 2018 yang didukung oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation, dengan menghadapi salah satu rival lawas mereka, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Dalam laga tersebut, Liliyana terlihat sangat antusias sejak awal pertandingan. Dalam poin-poin awal yang mereka dapatkan, Liliyana sudah berteriak keras dan terus mengepalkan tangan.


Antusiasme Liliyana makin terasa besar ketika ia beberapa kali menasehati Tontowi di tiap poin saat mereka melakukan kesalahan.

Senja Bernama Liliyana Natsir di Indonesia TerbukaLiliyana Natsir bermain penuh semangat sejak awal laga final Indonesia Open 2018. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Hasrat besar Liliyana, didukung oleh kemampuan tekniknya yang jauh di atas rata-rata, plus ditunjang kehebatan Tontowi yang selama ini jadi partner sejati, membuat ganda asal Malaysia tersebut terlihat kebingungan di sepanjang pertandingan.

Tontowi dan Liliyana hari itu tak terhentikan. Poin demi poin mereka dapatkan sementara sang lawan terus berada dalam tekanan.

Sorak-sorai dan gemuruh yang meneriakkan nama 'Owi-Butet' terus menggema ke seluruh penjuru Istora. Sorak-sorai yang bagi Butet, merupakan sebuah keistimewaan untuknya.

Sejak satu dekade lalu, nama Liliyana dan Butet sudah jadi nama yang diiringi gema. Tiap Liliyana masuk ke lapangan, ia selalu diikuti oleh teriakan kekaguman. Setiap Liliyana beraksi di lapangan, ia selalu diiringi oleh seruan dukungan.
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mengakhiri label sebagai pemain yang terkena kutukan di Istora.Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mengakhiri label sebagai pemain yang terkena kutukan di Istora. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Istora dan Indonesia Terbuka terus jadi tempat yang istimewa bagi Liliyana. Ia adalah salah satu Ratu Indonesia Terbuka. Kemenangannya bersama Nova Widianto, Vita Marissa, dan Tontowi Ahmad membuat dirinya punya koleksi empat gelar juara.

Istora tentu juga bukan sekadar tempat penuh kenangan tentang kemenangan. Di tempat yang sama Liliyana juga pernah larut dalam kesedihan.

Sepanjang dirinya tampil bersama Tontowi Ahmad sejak 2011, Tontowi/Liliyana disebut terkena kutukan Istora lantaran tak pernah menang di sana.

Senja Bernama Liliyana Natsir di Indonesia TerbukaTontowi Ahmad/Liliyana Natsir berhasil mempertahankan gelar juara di Indonesia Terbuka. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Namun semuanya kemudian musnah di tahun 2018. Tontowi/Liliyana berhak atas status juara dan mereka melakukannya di Istora, tak lagi di tempat lain seperti edisi 2017 saat arena pertandingan digelar di JCC.

"Dengan kemenangan ini, maka tak ada lagi anggapan bahwa Istora angker bagi Tontowi dan Liliyana," ucap Liliyana seusai laga.

Senyum puas tergambar jelas di wajah Liliyana saat menghadiri konferensi pers seusai pertandingan. Kelegaan dan kegembiraan berbalut menjadi satu. Tawa lebih banyak mewarnai kalimat-kalimat pertama Liliyana di hadapan media.

Momen perayaan gelar juara Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.Momen perayaan gelar juara Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Raut wajah Liliyana kemudian kembali serius ketika pertanyaan tentang masa depan dirinya di Indonesia Open mengemuka.

"Sebenarnya saya tadi ingin ngomong panjang lebar setelah pertandingan, mengucap terima kasih kepada penonton karena mungkin ini yang terakhir, namun kemudian buru-buru [harus ke podium]," kata Liliyana.

Ada keyakinan dalam diri Liliyana bahwa ini adalah Indonesia Open terakhirnya. Namun ada ruang kecil yang tetap terbuka dalam pikiran Liliyana bahwa ia mungkin saja masih muncul lagi tahun depan.

Cepat atau lambat, Liliyana akan pensiun. Begitu menurut dirinya. Satu hal yang terpenting, Liliyana berharap pemain-pemain muda lebih termotivasi untuk bersinar lebih cepat, menggantikan dirinya yang selama ini menjadi cahaya penuh prestasi bagi bulu tangkis Indonesia.

Pertandingan Tontowi/Liliyana di final kemarin selesai pukul 18 lewat 12 menit. Senja di luar arena sudah tenggelam berganti hitam.

Bila memang Liliyana tak lagi muncul di Indonesia Open tahun depan, maka laga final hari Minggu kemarin adalah laga pamungkas Liliyana di turnamen tersebut. Itu berarti Liliyana sukses mengakhiri perjalanannya di Indonesia Open dengan sempurna, seperti warna jingga senja sebelum menghilang dalam keheningan. (sry)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK