Hanifan: Pesilat Tidak Diajarkan Berpolitik

Titi Fajriyah, CNN Indonesia | Senin, 03/09/2018 16:08 WIB
Hanifan Yudani Kusumah yang memeluk dua capres usai final Asian Games mengaku fokus berlatih dan tidak diajar berpolitik meski IPSI diketuai Prabowo Subianto. Hanifan Yudani Kusumah meraih emas ke-29 untuk Indonesia di Asian Games 2018. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hanifan Yudani Kusumah menjadi salah satu atlet yang menyita perhatian pada perhelatan Asian Games 2018 karena memeluk Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia Prabowo Subianto.

Hanifan merupakan pesilat ke-13 Indonesia yang mempersembahkan medali emas. Atlet 21 tahun itu menjadi juara di kelas C putra 55-60 kilogram setelah mengalahkan pesilat Vietnam Thai Linh Nguyen.

Usai dipastikan meraih gelar juara, Hanifan berlari ke tribun kehormatan dan menyalami beberapa tamu VVIP. Momen yang kemudian viral diabadikan adalah ketika Hanifan yang membawa bendera Merah Putih memeluk Jokowi dan Prabowo yang sedang berkompetisi dalam ajang pemilihan presiden 2019-2024.


Atlet kelahiran Bandung itu mengaku tak berpikir panjang ketika memeluk Jokowi dan Prabowo.

"Enggak [berpikir panjang akan menjadi pemberitaan] sih, cuma dalam niat baik saya, saya bangga bisa ada di hadapan mereka. Ya saya berusaha memberikan yang terbaik juga saat pertandingan," ujar Hanifan kepada CNNIndonesia.com.

"Alhamdulillah juga sangat bersyukur bisa memeluk kedua orang hebat di Indonesia," sambungnya.

Hanifan Yudani Kusumah ketika dipastikan meraih medali emas di Asian Games 2018.Hanifan Yudani Kusumah ketika dipastikan meraih medali emas di Asian Games 2018. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Hanifan yang berharap Indonesia makin makmur dan cinta damai itu mengaku tidak ada instruksi khusus mengenai masalah politik dari PB IPSI yang diketuai Prabowo.

"Saya juga di pencak silat tidak diajarkan untuk berpolitik. Karena pencak silat tidak ada hubungannya dengan politik. Bahkan bapak Prabowo juga tidak boleh mengait-ngaitkan pencak silat dengan politik. Malah kami yang dimarahin sama bapak [Prabowo]," jelasnya

Mengenai keberhasilan pesilat-pesilat Indonesia di Asian Games 2018 yang dianggap sebelah mata oleh beberapa rival, Hanifan menganggap tuduhan kecurangan tidak berdasar lantaran arena pertandingan dilengkapi perangakat elektronik canggih untuk menjaga sportivitas.

"Ya saya tahu [ada tuduhan kecurangan]. Kita fair play, kita juga ada [teknologi video] replay. Saya sendiri cukup tersenyum dengan tuduhan seperti itu. Ini kerja keras pelatih, atlet, dan pemerintah luar biasa," kata Hanifan. (nva)