Beto menjadi andalan lini depan Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2018. Penyerang berdarah Brasil itu berhasil mewujudkan impiannya memperkuat tim Garuda setelah berkarier satu dekade di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya sudah lama dengar nama Indonesia, sejak saya di sekolah. Pernah ada orang yang menawarkan kepada saya untuk main di Indonesia pada 2006 tapi batal. Tapi dua tiga tahun sebelumnya saya dengar ada tsunami di Indonesia. Jadi saya takut, takut sekali untuk datang ke Indonesia, jadi batal.
Beto Goncalves gagal mencetak gol saat Timnas Indonesia dikalahkan Singapura. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan) |
Waktu itu bulan Oktober mereka minta saya istirahat sebulan, lalu ikut turnamen kecil di Brasil baru datang ke Korea untuk mulai main Januari. Tapi saya pulang ke rumah di Belem, Brasil. Lebih dari sebulan [lewat dari jadwal sebelumnya], orang itu telepon saya terus, tapi saya belum bisa cepat-cepat tinggalkan keluarga saya jadi dia anggap saya tidak serius dan membatalkan kontrak.
Tiba-tiba orang Indonesia yang menawarkan saya main menghubungi lagi, saya tidak ada pilihan lain karena kontrak saya dengan tim Korea batal. Jadi saya saat itu terpaksa memilih Indonesia.
Pertama kali datang ke Indonesia ada gempa, tapi saya aman tidak ada masalah. Saya pikir awalnya Indonesia negatif, pas sampai sini semua itu berubah. Saya lihat Indonesia sangat positif sampai sekarang.
Beto Goncalves saat ini memperkuat Sriwijaya FC. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi) |
Bagaimana kondisi Timnas Indonesia jelang laga lawan Thailand?
Pasti ada tekanan karena kami sudah tahu kualitas Thailand. Liga mereka bagus, stadion mereka bagus, pokoknya mereka di atas kita.
Saya selalu berpikir dalam sepak bola tidak ada yang mustahil. Pokoknya ketika kita punya peluang, mereka juga punya peluang. Jadi siapa yang paling konsentrasi, semangat mungkin bisa dapat hasil yang positif.
Penampilan Timnas Indonesia di dua laga belum memuaskan, beda dengan di Asian Games. Ada apa?
Ini saya juga tidak tahu kenapa, karena sebenarnya tim kita hampir sama. Kinerja coach Bima Sakti hampir sama dengan coach [Luis] Milla, karena coach Bima sudah belajar dengan baik selama jadi asisten coach Milla.
Tapi menurut saya mungkin karena tim lain, seperti Thailand dan Malaysia liga mereka sudah selesai jadi mereka lebih fresh. Tapi coba lihat kita, saya sendiri sudah main di Piala Presiden, Piala Gubernur Kaltim, Liga 1, Asian Games dan sebelum Asian Games ada TC [pemusatan latihan] jadi capek juga.
Apalagi liga masih jalan. Itu mungkin jadi faktor juga. Sudah akhir tahun masih ada liga. Waktu istirahat tidak ada. Lelah ini akumulasi dari satu tahun terakhir jadi semua terasa capek. Kami manusia, bukan robot.
Beto Goncalves berhasil mencetak gol saat Timnas Indonesia mengalahkan Timor Leste. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah) |
Anda menjadi pemain naturalisasi keempat yang cetak gol buat Timnas Indonesia di Piala AFF, apakah Anda sadar dengan catatan itu?
Saya baru tahu catatan itu. Pemain naturalisasi pasti ada tekanan lebih dari suporter. Mereka [suporter] bilang, 'Kamu pemain naturalisasi jadi harus cetak gol'. Ya, saya mau cetak gol tapi harus ada bantuan dari teman-teman tidak bisa sendiri.
Saat masuk ke lapangan saya tahu fungsi saya untuk cetak gol. Tapi tujuan utama saya buat tim, bukan pribadi. Sebenarnya tekanan dari luar itu mengganggu. Tapi sebagai pemain yang punya pengalaman saya harus terbiasa terhadap segala sesuatu. Kami fokus ke tim saja. Tidak ada pemain yang lebih bagus, semua sama-sama.
Motivasi terbesar Beto saat memperkuat Timnas Indonesia?
Keluarga, anak-anak saya, istri saya yang sedang hamil tiga bulan dan orang tua saya di Brasil. Mereka jadi motivasi sendiri buat saya. Anak-anak saya selalu jadi motivasi.
Beto Goncalves gagal mencetak gol saat Timnas Indonesia dikalahkan Singapura. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Beto Goncalves saat ini memperkuat Sriwijaya FC. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
Beto Goncalves berhasil mencetak gol saat Timnas Indonesia mengalahkan Timor Leste. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)