ANALISIS

Demam Panggung Laporte, Musibah untuk Man City

Nova Arifianto, CNN Indonesia | Kamis, 18/04/2019 10:44 WIB
Demam Panggung Laporte, Musibah untuk Man City Aymeric Laporte bermain buruk saat Manchester City melawan Tottenham Hotspur. (REUTERS/Andrew Yates)
Jakarta, CNN Indonesia -- Manchester City meraih kemenangan atas Tottenham Hotspur namun tersingkir dari ajang Liga Champions karena kalah agresivitas gol tandang.

Tampil di Stadion Etihad, Kamis (18/4) dini hari WIB, Man City berupaya tampil menyerang sejak awal untuk memburu kemenangan sekaligus membalas kekalahan dalam leg pertama yang berlangsung di Stadion Tottenham Hotspur.
Tidak sia-sia upaya Man City untuk menggempur barisan pertahanan lawan. Pada menit keempat, Raheem Sterling sudah mengubah angka di papan skor.

Sepak bola memang tidak hanya mengandalkan penyerangan, karena pertahanan memiliki porsi penting dalam laga selama 2x45 menit.


Keunggulan Man City lantas sirna setelah Son Heung-min melepas dua tembakan yang berujung gol. Dalam kurun tiga menit, pemain Korea Selatan itu membuat Ederson Moraes seperti kiper medioker.

Raheem Sterling Sempat membawa Manchester City unggul atas Tottenham Hotspur. (REUTERS/Andrew Yates)
Respons The Citizens patut diapresiasi. Kemampuan anak asuh Pep Guardiola bangkit dari ketertinggalan kilat dibalas dengan gol-gol yang cukup cepat.

Semenit setelah gol Son, Bernardo Silva menyetarakan kedudukan. Sepuluh menit kemudian Sterling membuat Man City kembali unggul.

Lima gol dalam hanya 17 menit pada babak pertama menunjukkan intensitas laga yang berada dalam kelas atas. Permainan terbuka yang ditampilkan kedua kesebelasan menjadi pangkal keseruan laga.

Keputusan Guardiola menempatkan pemain-pemain terbaik, berbeda seperti pada leg pertama, juga menjadi poin tersendiri. Keberadaan Kevin de Bruyne menjadi titik tolak permainan Man City.

Gol Fernando Llorente batalkan tiket Manchester City ke semifinal. (Reuters/Jason Cairnduff)
Pada babak kedua, Man City yang masih mengincar keunggulan dua gol tidak henti menekan tim tamu. Juara Liga Inggris itu lagi-lagi mampu mencetak gol, namun kembali juga dibobol.

Setelah Aguero menaklukkan Hugo Lloris, tuan rumah gagal menjaga keunggulan. Kemelut di depan gawang berakhir dengan gol Fernando Llorente yang harus diputuskan dengan bantuan video assistant referee.

VAR pula yang memupuskan ambisi gol Sterling pada masa injury time. Keunggulan dua gol gagal tercipta dan Man City mengulang capaian musim lalu di Liga Champions.

Tidak ada yang bisa disalahkan Man City atas kegagalan di laga perempat final, percuma pula menggugat keberadaan VAR yang mengesahkan gol Llorente dan membatalkan gol Sterling. Hasil yang terjadi pada 90 menit sudah mutlak tak bisa diganggu gugat.

Lini Belakang Hambat Man City

Upaya Guardiola melakukan perubahan pada penyerangan terlihat dengan 20 tembakan yang menghasilkan delapan bola mengarah ke gawang lawan hingga akhir laga. Jumlah tersebut lebih banyak ketimbang pada leg pertama dengan 10 tembakan dan dua shot on target.

Hanya ada evaluasi yang dapat dilakukan Guardiola untuk meraih gelar di kemudian hari, salah satunya adalah pertahanan yang keropos.

Dalam peribahasa, keberadaan bek Aymeric Laporte diistilahkan dengan menggunting dalam lipatan. Jika The Citizens disebut nyaris sempurna, maka Laporte adalah penyebab munculnya kata 'nyaris' yang mengurangi poin kolektif tim keseluruhan.

Dalam 63 persen penguasaan bola dan 90 persen umpan akurat (536 dari 593), eror Laporte begitu merugikan Man City.

Di sisi lain pemain-pemain Tottenham juga layak mendapat apresiasi karena selalu dapat memanfaatkan kecerobohan Laporte untuk dikonversi menjadi gol.

Son tidak menyia-nyiakan umpan Laporte pada menit ketujuh yang datang bagai durian runtuh. Kegagalan Laporte menguasai bola pun menjadi titik mula gol kedua Tottenham. Laporte juga berperan dengan gol Tottenham karena salah posisi dalam mengawal Llorente.

Demam panggung dirasakan bek tengah asal Prancis itu. Kondisi itu bisa dipahami, karena mantan bek Athletic Bilbao itu belum pernah merasakan tekanan bermain di pertandingan sebesar perempat final Liga Champions.

Pochettino pun memegang peranan penting dalam keberhasilan klub asal London itu maju untuk kali pertama ke babak semifinal Liga Champions.

Tanpa Harry Kane yang kerap menjadi andalan, Pochettino berhasil mempertahankan semangat anak asuhnya. Selain itu keputusan menampilkan Llorente sebagai pemain pengganti berbuah gol penentu langkah Tottenham menuai sukses perdana di pentas Eropa (har)