TESTIMONI

Markis Kido: Anomali Postur dan Juara Olimpiade

Markis Kido, CNN Indonesia | Selasa, 30/04/2019 07:30 WIB
Markis Kido/Hendra Setiawan saat jadi juara Olimpiade. (GOH CHAI HIN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saya lahir bukan dari keluarga atlet. Saya berolahraga sejak kecil hanya untuk sekadar mengisi kegiatan saja. Ada renang, juga sepatu roda. Saat latihan sepatu roda, saya bertemu teman yang ternyata juga ikut latihan bulutangkis.

Orang tua saya lalu bertanya apakah usia anak enam tahun sudah bisa ikut latihan, dan dijawab bisa. Kemudian saya mencari klub bulutangkis di Bekasi. Akhirnya saya masuk ke klub Dian Jaya.

Kegiatan olahraga saya pun jadi bertambah dengan mulai bermain bulutangkis. Semua kegiatan olahraga tersebut saya ikuti dengan senang hati. Untuk pengaturan jadwal latihan, orang tua yang mengatur.


Renang setiap subuh di Senayan. Pulang berenang, saya sekolah. Sorenya saya berlatih bulutangkis. Sedangkan setiap Sabtu dan Minggu saya berlatih sepatu roda di Monas.

Semua cabang olahraga yang saya jalani membuahkan prestasi yang membanggakan. Di renang, saya pernah juara kelompok umur. Di sepatu roda, saya pernah juara Kejurnas dan mendapat beasiswa Supersemar. Begitupun di bulutangkis kejuaraan anak-anak, saya bisa juara.

Saat mulai main bulutangkis saya juga masih olahraga renang. Pelatih bulutangkis bilang saya punya bakat dan cepat maju. Sedangkan di renang saya sempat juara di beberapa kejuaraan kelompok umur.

Dengan bertambahnya usia, orang tua saya mulai berpikir untuk fokus ke salah satu cabang olahraga agar bisa mendapatkan hasil yang terbaik. Akhirnya orang tua saya memutuskan untuk fokus di cabang olahraga bulutangkis.

Alasannya cabang bulutangkis sudah bisa mencapai prestasi Olimpiade dan sudah banyak contohnya yang bisa juara di Olimpiade. Dari situ kegiatan renang dan sepatu roda disetop dan saya fokus di bulutangkis.

Usia 14 tahun saya ditarik ke Jaya Raya. Saya tinggal di asrama Jaya Raya dan sekolah di SMA Ragunan. Kegiatan latihan saya lakukan dengan penuh semangat dan disiplin.

Namun saat itu, jelas saya belum berpikir macam-macam tentang impian yang tinggi. Setahun di sana, saya sudah mulai juara di tingkat nasional, baik di nomor tunggal maupun ganda. Di ganda, saya sudah berpasangan dengan Hendra Setiawan.

Saya kemudian dipanggil masuk pelatnas Cipayung pada 2001, lewat nomor tunggal. Saat itu saya peringkat ketiga di Kejurnas namun ranking dua nasional, di bawah Sony Dwi Kuncoro.

Saat itu prestasi saya di tunggal memang lebih terlihat. Peringkat tunggal saya lebih baik dibandingkan peringkat di ganda.

Markis Kido: Anomali Postur dan Juara OlimpiadeMarkis Kido (kiri) merayakan kemenangan merai medali emas Olimpiade 2008 di Beijing. (INDRANIL MUKHERJEE / AFP)
Di pelatnas ternyata prestasi saya di nomor tunggal hasilnya begitu-begitu aja. Pelatih tunggal, Mas Joko Suprianto, sudah menyarankan untuk pindah. Mas Sigit Pamungkas [pelatih ganda putra] juga sudah meminta saya. Tetapi orang tua saya tidak setuju. 

Impian orang tua saya adalah ingin saya menjadi pemain tunggal. Bahkan sempat bilang 'Jika saya mau main ganda, ya sudah berhenti saja."

Dengan hasil buruk, saya sudah mulai malas. Saya sadar di nomor tunggal, jangkauan harus menunjang. Saya rasa saya sudah agak minder karena menyadari postur saya yang kecil.

Sedangkan orang tua saya tetap yakin, mereka bilang saya juga sempat mengalahkan pemain bagus. Namun saya berkata pada mereka, bahwa ke depannya sudah berubah. Suasana sudah mulai tidak enak, dan saya sudah mulai bolos latihan.

Orang tua saya lalu menemui Mas Sigit. Saya juga minta mas Sigit untuk berbicara dengan orang tua saya. Untuk meyakinkan mereka. Mas Sigit lalu berkata jika saya pindah ke ganda maka saya pasti jadi pemain bagus. Mas Sigit kan gaya ngomongnya begitu, sok yakin. Hahaha.

Mama dan ayah akhirnya melepaskan saya bermain di ganda. Pertama saya pasangan dengan Rian Sukmawan. Saat saya pindah ke nomor ganda, Hendra Setiawan masuk pelatnas. Setahun bersama Rian, akhirnya saya dipasangkan dengan Hendra di tahun berikutnya.

Ancaman Koo Kien Keat/Tan Boon Heong

Bersama Hendra Setiawan saya sudah memiliki kepercayaan diri sejak bisa menembus final Kejuaraan Asia 2003 di Jakarta. Saat itu kami bisa mengalahkan Flandy Limpele/Eng Hian. Kemenangan itu membuktikan bahwa kami bisa dan latihan lebih rajin. Percaya diri saya naik. Kami bisa juara Indonesia Open, Kejuaraan Asia, hingga SEA Games.

Meski sudah berprestasi, saya tetap punya lawan yang ditakuti saat Kejuaraan Dunia 2007. Saya takut bila bertemu Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Seram. Saya susah banget mengalahkannya. Di Kejuaraan Dunia 2007, mereka juga jadi tuan rumah. Untungnya, kami beda blok dan mereka kalah sama Jepang [Shuichi Sakamoto/Shintaro Ikeda].

Setelah kami masuk ke final, kami bertemu Jung Jae-sung/Lee Yong Dae. Saya masih percaya diri menghadapi Lee Yong Dae karena dia masih muda. Kami juga sama-sama belum pernah masuk final, jadi lebih yakin.

Usai jadi juara dunia 2007, kami jadi pebulutangkis nomor satu dunia. Terasa ada perubahan karena tiap kejuaraan jadi memiliki beban. Setiap kalah mulai disorot. Sudah tidak bisa santai. Bila sebelumnya ketika ada cedera memilih untuk memaksa ikut turnamen, kemudian kami lebih memilih mundur. Banyak pikiran.

Markis Kido/Hendra Setiawan sempat menyandang status sebagai pebulutangkis nomor satu dunia.Markis Kido/Hendra Setiawan sempat menyandang status sebagai pebulutangkis nomor satu dunia. (Kieran Dodds / AFP)
Sampai akhirnya Olimpiade saya lebih banyak pasrah. Dalam pikiran saya, main sajalah, tak terlalu banyak strategi. Hingga Olimpiade kami tak juga menang-menang melawan Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Tujuh pertemuan kami selalu kalah.

Meski jadi unggulan pertama, saya berharap tidak bertemu dengan Koo Kien Keat/Tan Boon Heong dan undiannya terpisah. Ternyata di delapan besar harus bertemu. Pertama kali kami menang di situ dan rekor pertemuan kami jadi 1-7. Mungkin karena sering menang, mungkin mereka agak terlalu percaya diri. Saya juga lebih ngotot dari biasanya jadi bisa melewati mereka.

Di babak final kami menghadapi Cai Yun/Fu Haifeng. Set pertama kalah dan di set kedua pasrah. Mas Sigit hanya berkata 'jangan nyerah-jangan nyerah', karena strategi tentu sudah tak akan bisa masuk lagi karena kami sudah habis digebukin di set pertama.

Mungkin karena mereka terlalu percaya diri setelah menang jauh di set pertama, hal itu malah jadi bumerang dan mereka tak bisa main. Setelah jadi juara Olimpiade, beban rasanya plong banget, sudah tidak kepikiran apa-apa. Enteng rasanya saat teriak-teriak di lapangan. (ptr/jun)
1 dari 2