Lindungi Bobotoh di GBK, Jakmania Ingin Setop Kekerasan

CNN Indonesia | Jumat, 12/07/2019 10:45 WIB
Lindungi Bobotoh di GBK, Jakmania Ingin Setop Kekerasan Jakmania melindungi Bobotoh di GBK pada laga Persija vs Persib demi menghentikan kekerasan antarsuporter. (CNN Indonesia/Aria Ananda)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Bidang Koordinator Lapangan The Jakmania, Ahmad Syarief, menyatakan pihaknya ingin menyetop kekerasan dengan menyelamatkan sejumlah pendukung Persib Bandung atau Bobotoh ketika berada di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada Rabu (10/7).

Ketika itu, Persija Jakarta menjamu Persib dalam pekan ke-8 Liga 1 2019. Meskipun Bobotoh sudah dilarang untuk nonton langsung di stadion, tapi pria yang akrab disapa Aspal ini masih saja menemukan pendukung Maung Bandung yang bandel dan tetap datang ke SUGBK diam-diam.

"Kami tidak mau besar kepala, banyak yang respek dengan kami. Ini bisa jadi bahan [pembelajaran] suporter yang lain. Tapi banyak orang juga yang masih mencibir, saya tidak ambil pusing," kata Aspal kepada CNNIndonesia.com pada Jumat (12/7).


"Yang penting, kami sudah melakukan yang terbaik dan berusaha untuk menjunjung perdamaian. Ini akan jadi contoh mendatang, dunia kerusuhan suporter berakhir," katanya menambahkan.

Selama pertandingan, Ahmad menceritakan pengurus Jakmania sudah sekuat tenaga menjalankan instruksi dari Ketum Jakmania Ferry Indrasjarief.

Ferry, lanjut Ahmad, meminta agar anggota Jakmania berusaha untuk tidak menimbulkan kejadian atau insiden apapun. Ia kemudian menurunkan informasi itu ke teman-teman koordinator lapangan (Korlap) Jakmania yang lain.

Laga Persija vs Persib berakhir imbang 1-1. (Laga Persija vs Persib berakhir imbang 1-1. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

"Saya katakan bahwa ini pertandingan krusial, sehingga harus hati-hati dan waspada setiap ada pergerakan di tribune. Itu anak-anak [Korlap Jakmania] saya juga mengawasi. Kalau ada keributan, ambil dan bawa keluar," ucap dia.

Sebelumnya, diketahui pendukung Persib bernama Hedi Hidayat diamankan salah satu korlap Jakmania. Ia selamat dari potensi amukan pendukung Persija yang hadir di sana, setelah ke luar dari tribun VIP sekitar menit ke-85.

"Yang mana Hedi? Saya juga tidak tahu. Mungkin gelagatnya sudah dicurigai, saya tidak tahu motifnya apa. Pengamatan saya, biasanya teman-teman Korlap melihat dari suporter lawan yang diam-diam nonton itu dari gerakan, reflek, dan tidak aktif," ujar Ahmad.

"Jadi ketika berlaga, kalau ada satu atau dua orang tidak senada, ya sudah pasti [penyusup]. Mereka biasanya kalau Persija sedang membangun serangan, malah lihat ponsel. Jadi sudah kelihatan. Lima sampai 10 menit jelang pertandingan berakhir, kami sudah bergerilya."

Lindungi Bobotoh di GBK, Jakmania Ingin Setop Kekerasan
Kendati begitu, Ahmad juga terkadang menemui keraguan ketika menilai gerak-gerik yang mencurigakan. Apalagi, ia harus sejeli mungkin melihat pergerakan tersebut di tengah pulungan ribu orang.

"Kalau ditanya, 'Kok bisa tahu itu suporter lawan? Bagaimana caranya membedakan dengan orang biasa/netral?' Jawabannya ya naluri suporter biasanya yang begitu," tutur dia.

"Kalau suporter asli, pasti akan bersorak. Yang mengerti suporter ya hanya suporter. Nah, refleknya dia ketika timnya dia gagal menyerang," tuturnya kembali.

Semangat suporter Jakmania demi menyaksikan laga Persija vs Persib. (Semangat suporter Jakmania demi menyaksikan laga Persija vs Persib. (Foto: CNN Indonesia/Aria Ananda)
Sebanyak 64 korlap Jakmania dikerahkan dalam lautan suporter Persija. Mereka ditempatkan di tribune atas maupun bawah.

"Kami menemukan sembilan sampai 10 orang [pendukung Persib] di tempat yang berbeda-beda. Kebanyakan dari mereka berasal dari area VIP dan dekat-dekat media, karena mungkin menurut mereka area itu lebih aman," ucapnya.

Ahmad menyampaikan rata-rata mereka yang nekat mendukung Persib berusia 20-an. Ia sendiri berhasil menemukan dua orang asal Jawa Barat. Mereka langsung dilepas dan dibawa ke arah TVRI kemudian Stasiun Palmerah.

"Saya kasih tahu, 'lu nekat? Alasan lu nggga gue terima, sekarang lu pulang.' Ya sudah diantar anak-anak," tutur Ahmad.Kerja keras Ahmad dan kawan-kawan membuahkan hasil. Ia mengaku mendapat banyak respons positif berkat aksi menyelamatkan sejumlah pendukung Persib tersebut.

"Banyak juga tagar positif. Saya lihat di media sosial juga pendukung dari Bandung ada yang bilang, 'The Jak sudah banyak berubah, kapan kita berubah?' Tapi kembali lagi, yang saya lakukan ini demi organisasi," tegas Ahmad. (map/bac)