Rizky Pora dicoret dari skuat Timnas Indonesia yang dipersiapkan untuk menjalani pemusatan latihan jelang Kualifikasi Piala Dunia 2022. Simon mengganti pemain Barito Putera itu dengan winger Persib Bandung Febri Hariyadi.
Lihat juga:Kisah Tyson Beli Macan Putih |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rizky Pora pantas dicoret dari Timnas Indonesia. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah) |
Untuk bisa menjadi pemain Timnas Indonesia bukan hanya karena faktor kemampuan mengolah bola, memiliki fisik luar biasa, bisa mencetak gol banyak, atau menciptakan assist. Untuk bisa memperkuat Indonesia di level internasional, maka sang pemain harus memiliki satu hal yang penting: Disiplin.
"Kami mengharapkan tingkat disiplin tertinggi dari para pemain Timnas Indonesia. Ini telah dibahas beberapa kali dan para pemain telah diingatkan bahwa mereka adalah representasi dari seluruh pemain Indonesia. Para pemain Timnas Indonesia adalah contoh bagi semua. Ini prinsip dan saya tidak main-main dengan hal ini," kata Simon terkait keputusan mencoret Rizky Pora.
Dari pernyataan Simon di atas, pecinta sepak bola pasti setuju dengan keputusan mencoret Rizky Pora. Bagaimana bisa seorang pemain Timnas Indonesia 'mengajarkan' bermain tinju di atas lapangan sepak bola. Tugas pemain Timnas Indonesia adalah mengharumkan nama Indonesia melalui pertandingan sepak bola, bukan dengan cara memukul lawan.
Keputusan Simon McMenemy mencoret Rizky Pora pantas mendapatkan apresiasi. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A) |
Berawal dari Klub dan Kompetisi
Tindakan seperti yang dilakukan Rizky dan Manahati kemungkinan besar masih akan terjadi di masa depan. Maka dari itu dibutuhkan filter sejak dini, yakni melalui klub-klub yang diperkuat para pemain Timnas Indonesia.
Klub-klub tersebut sudah harus bersikap tegas terhadap pemain yang melakukan pelanggaran indisipliner. Klub-klub harus memberikan efek jera. Pasalnya, keputusan tegas yang dibuat Simon untuk Timnas Indonesia saja tidak akan bisa mengubah sikap pemain.
Bisa Anda bayangkan pelanggaran seperti yang dilakukan Hariono terhadap Matias Conti saat Persib Bandung ditahan imbang Borneo FC pada laga Liga 1 2019, Rabu (14/8), hanya mendapatkan kartu kuning. Padahal mantan pemain Timnas Indonesia hampir membuat lawan terkapar dengan tendangan ke bagian wajah.
Masih sering kita lihat pemain berstatus Timnas Indonesia melakukan tindakan 'iseng' saat menjalani pertandingan, terutama di Liga 1. Mulai dari menyikut hingga menginjak lawan dengan sengaja. Menariknya, pelanggaran seperti itu hanya mendapat hukuman ringan atau bahkan tidak diberi hukuman.
Regulasi kompetisi harus ketat untuk membentuk pemain Timnas Indonesia yang disiplin. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A) |
Penulis jadi teringat pernyataan legendaris mantan presiden klub bisbol Amerika Serikat Brooklyn Dodgers, Branch Rickey, ketika berbicara dengan pemain bisbol kulit hitam pertama di Liga Bisbol Amerika Serikat (MLB) Jackie Robinson.
Pernyataan Rickey di atas bisa diartikan kalau tim lebih besar daripada satu orang pemain. Ego pemain tidak boleh merugikan tim, karena Timnas Indonesia akan kalah sebagai tim dan menang juga sebagai tim.
[Gambas:Video CNN] (nva)
Rizky Pora pantas dicoret dari Timnas Indonesia. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Keputusan Simon McMenemy mencoret Rizky Pora pantas mendapatkan apresiasi. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Regulasi kompetisi harus ketat untuk membentuk pemain Timnas Indonesia yang disiplin. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)