ANALISIS

Tegas di Timnas Indonesia: Salut untuk Simon

Haryanto Tri Wibowo, CNN Indonesia | Jumat, 16/08/2019 07:26 WIB
Tegas di Timnas Indonesia: Salut untuk Simon Pemain Timnas Indonesia harus menjadi panutan yang baik. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keputusan berani ditunjukkan pelatih Timnas Indonesia Simon McMenemy dengan mencoret Rizky Pora. Sebuah keberanian yang dibutuhkan untuk membentuk tim yang layak disebut Timnas Indonesia.

Rizky Pora dicoret dari skuat Timnas Indonesia yang dipersiapkan untuk menjalani pemusatan latihan jelang Kualifikasi Piala Dunia 2022. Simon mengganti pemain Barito Putera itu dengan winger Persib Bandung Febri Hariyadi.

Simon mengambil keputusan pencoretan Rizky Pora setelah pemain 29 tahun itu dituduh melakukan pemukulan terhadap pemain PSM Makassar Bayu Gatra usai pertandingan Liga 1 2019 di Stadion Andi Mattalatta, Rabu (14/8).


Ini bukan kali pertama Simon mencoret pemain karena masalah indisipliner. Sebelumnya, pelatih asal Skotlandia itu mencoret Manahati Lestusen dari Timnas Indonesia karena tindakan tidak sportif.

Rizky Pora pantas dicoret dari Timnas Indonesia.Rizky Pora pantas dicoret dari Timnas Indonesia. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Kapten Tira Kabo itu dicoret Simon setelah menanduk pemain Persebaya Surabaya, Muhammad Hidayat, pada laga delapan besar Piala Presiden 2019. Manahati pun mendapatkan kartu merah dan tidak dibawa Simon saat Timnas Indonesia menjalani laga uji coba melawan Yordania dan Vanuatu.

Simon memang baru memimpin Timnas Indonesia di tiga pertandingan, namun sejumlah keputusan yang dibuat mantan pelatih Bhayangkara FC itu pantas diapresiasi. Simon menunjukkan bahwa menjadi pemain Timnas Indonesia memiliki beban besar.

Untuk bisa menjadi pemain Timnas Indonesia bukan hanya karena faktor kemampuan mengolah bola, memiliki fisik luar biasa, bisa mencetak gol banyak, atau menciptakan assist. Untuk bisa memperkuat Indonesia di level internasional, maka sang pemain harus memiliki satu hal yang penting: Disiplin.

Timnas Indonesia Main Bola, Bukan Tinju
Disiplin justru menjadi hal pertama yang harus dimiliki seorang pesepakbola. Berawal dari disiplin, pemain tersebut bisa menjadi pesepakbola yang hebat dan layak memperkuat Timnas Indonesia.

"Kami mengharapkan tingkat disiplin tertinggi dari para pemain Timnas Indonesia. Ini telah dibahas beberapa kali dan para pemain telah diingatkan bahwa mereka adalah representasi dari seluruh pemain Indonesia. Para pemain Timnas Indonesia adalah contoh bagi semua. Ini prinsip dan saya tidak main-main dengan hal ini," kata Simon terkait keputusan mencoret Rizky Pora.

Dari pernyataan Simon di atas, pecinta sepak bola pasti setuju dengan keputusan mencoret Rizky Pora. Bagaimana bisa seorang pemain Timnas Indonesia 'mengajarkan' bermain tinju di atas lapangan sepak bola. Tugas pemain Timnas Indonesia adalah mengharumkan nama Indonesia melalui pertandingan sepak bola, bukan dengan cara memukul lawan.

Keputusan Simon McMenemy mencoret Rizky Pora pantas mendapatkan apresiasi.Keputusan Simon McMenemy mencoret Rizky Pora pantas mendapatkan apresiasi. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Kita tentunya tidak ingin tindakan seperti Rizky dan Manahati dilihat pemain-pemain muda Indonesia yang memiliki impian mengenakan lambang Garuda di dada. Sebagai pemain yang merupakan wajah Timnas Indonesia, pemain seperti Rizky dan Manahati harus menunjukkan profesionalisme yang tinggi. Memberi contoh yang benar.

Berawal dari Klub dan Kompetisi

Tindakan seperti yang dilakukan Rizky dan Manahati kemungkinan besar masih akan terjadi di masa depan. Maka dari itu dibutuhkan filter sejak dini, yakni melalui klub-klub yang diperkuat para pemain Timnas Indonesia.

Klub-klub tersebut sudah harus bersikap tegas terhadap pemain yang melakukan pelanggaran indisipliner. Klub-klub harus memberikan efek jera. Pasalnya, keputusan tegas yang dibuat Simon untuk Timnas Indonesia saja tidak akan bisa mengubah sikap pemain.

Timnas Indonesia Main Bola, Bukan Tinju
Regulasi kompetisi juga harus diperketat. Wasit tidak boleh ragu memberikan hukuman yang setimpal terhadap pemain yang melakukan tindakan kasar terhadap lawan. Sepak bola adalah olahraga yang keras, bukan olahraga yang kasar. Ada perbedaan yang signifikan antara keras dengan kasar.

Bisa Anda bayangkan pelanggaran seperti yang dilakukan Hariono terhadap Matias Conti saat Persib Bandung ditahan imbang Borneo FC pada laga Liga 1 2019, Rabu (14/8), hanya mendapatkan kartu kuning. Padahal mantan pemain Timnas Indonesia hampir membuat lawan terkapar dengan tendangan ke bagian wajah.

Masih sering kita lihat pemain berstatus Timnas Indonesia melakukan tindakan 'iseng' saat menjalani pertandingan, terutama di Liga 1. Mulai dari menyikut hingga menginjak lawan dengan sengaja. Menariknya, pelanggaran seperti itu hanya mendapat hukuman ringan atau bahkan tidak diberi hukuman.

Regulasi kompetisi harus ketat untuk membentuk pemain Timnas Indonesia yang disiplin.Regulasi kompetisi harus ketat untuk membentuk pemain Timnas Indonesia yang disiplin. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Pelanggaran-pelanggaran yang tidak perlu seperti itu tentunya akan merugikan jika mereka sedang memperkuat Timnas Indonesia. Jadi jika misalnya Timnas Indonesia sedang bermain di sebuah final bergengsi yang dipimpin wasit tegas, seperti Piala AFF, pelanggaran 'iseng' itu bisa berbuah kartu merah dan merugikan tim Garuda.

Penulis jadi teringat pernyataan legendaris mantan presiden klub bisbol Amerika Serikat Brooklyn Dodgers, Branch Rickey, ketika berbicara dengan pemain bisbol kulit hitam pertama di Liga Bisbol Amerika Serikat (MLB) Jackie Robinson.

Ketika Robinson mengatakan, "Apakah kamu mencari pemain yang tidak berani melawan?", Rickey kemudian membalas, "Tidak, saya mencari pemain yang memiliki keberanian untuk tidak melawan."

Pernyataan Rickey di atas bisa diartikan kalau tim lebih besar daripada satu orang pemain. Ego pemain tidak boleh merugikan tim, karena Timnas Indonesia akan kalah sebagai tim dan menang juga sebagai tim.

[Gambas:Video CNN] (nva)