Testimoni

Mohammad Ahsan: Tertidur di Bus dan Mimpi Juara Dunia

Mohammad Ahsan, CNN Indonesia | Senin, 16/09/2019 19:25 WIB
Mohammad Ahsan meraih banyak sukses bersama Hendra Setiawan. (CNNINdonesia/ Putra Permata Tegar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saya sedang bermain di rumah Bona Septano, di Bekasi, ketika saya mengetahui kabar saya masuk pelatnas PBSI. Kami tahu dari berita di koran dan kemudian baru ditelepon, lalu resminya setelah menerima surat dari klub.

Kabar itu tentu membuat saya senang, cita-cita seorang pemain bulutangkis awalnya tentu masuk pelatnas dulu karena jenjang kariernya memang begitu. Salah satu cita-cita saya sudah tercapai. Saya sangat senang sekali. Saya ingat langsung melakukan tos dengan Bona ketika itu.

Saya jadi terkenang masa-masa saya mengenal bulutangkis. Saya mulai bermain bulutangkis di usia enam tahun karena bapak juga sempat jadi pemain bulutangkis. Awalnya, saya diajari oleh Bapak kemudian dimasukkan ke klub. Saya ada di Palembang hingga tamat SMP.


Di Palembang, banyak kenangan tentang perjuangan-perjuangan yang saya lakukan, latihan setiap hari hingga pulang malam. Dulu setelah sekolah di pagi hari, saya makan siang dan langsung berangkat latihan naik bus.

Sering naik bus tiap hari. Saya ingat sering ketiduran di bus karena kelelahan, hingga akhirnya kebablasan dari lokasi tempat latihan. Selesai latihan Magrib dan kembali ke rumah. Begitu seterusnya setiap hari.

Meski berusaha keras untuk berlatih bulutangkis, saya sempat merasa bimbang dalam karier bulutangkis. Soalnya klub saya vakum saat umur 13 tahun. Saya sempat berpikir untuk berhenti atau ganti cabang olahraga.

Mohammad Ahsan meninggalkan Palembang usai SMP.Mohammad Ahsan meninggalkan Palembang usai SMP. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)
Soalnya saat itu saya sudah latihan sendiri, tidak ada klub yang sudah vakum. Akhirnya saya tertolong ada Popnas, ada pertandingan, ada seleksi untuk masuk SMA Ragunan dan akhirnya lolos.

Di Palembang saya sudah sering juara di nomor tunggal, tetapi begitu lawan pemain asal Pulau Jawa ya memble. Orang daerah bertemu pemain yang berasal dari kiblat bulutangkis kan minder duluan.

Saat di Ragunan, saat saya sparring dengan pemain-pemain asal Jawa dan kemampuannya memang jauh.

Ketika akhirnya masuk Ragunan tahun 2001, saya punya tekad, saya jauh dari orang tua, merantau, saya ingin ada hasil, jadi tidak mau sia-sia. Tetapi itu tidak mudah, hari pertama saya sudah menangis sampai senior saya coba menenangkan saya.

Pada masa itu, saya tidak punya banyak uang. Nunggu uang saku, paling dapat Rp75 ribu sebulan tahun 2001. Jadi kehidupan saya seadanya saja. Kalau tidak punya uang, tidak jajan karena waktu itu makan sudah dapat dari Ragunan.

Mohammad Ahsan: Tertidur di Bus dan Mimpi Juara Dunia
Bila dipikir saat ini, hal-hal seperti itu bagus untuk pengalaman karena saya jadi tahu soal kerja keras.

Semasa di Ragunan, tiba-tiba ada perubahan program. Untuk bulutangkis, mereka hanya fokus di sektor putri. Siswa yang lain tetap bisa sekolah di sana tetapi hanya sekadar untuk menamatkan sekolah, tidak lagi fokus untuk prestasi bulutangkis.

Menghadapi kondisi itu, saya kembali teringat tekad awal. Saya sudah jauh-jauh merantau, saya ingin jadi sesuatu. Akhirnya saya memilih pindah dari asrama. Saya pindah ke PB Bina Bangsa lalu bergabung dengan PB Djarum beberapa tahun kemudian.

Saat pindah dari Ragunan, saya lapor ke orang tua. Bapak bilang 'Terserah, pokoknya keputusan ada di tangan saya'. Saya berpikir harus pindah, karena percuma merantau kalau hanya menamatkan sekolah biasa.

Bagi saya masa-masa terberat memang ada di Ragunan. Saat itu saya belum jadi apa-apa, belum tahu masa depan bagaimana. Dari segi materi saya juga tak punya pemasukan. Saya rasa rata-rata pemain mengalami hal seperti itu. Kalau mau berubah, harus diubah sendiri dengan prestasi.

Setelah pindah saya dipasangkan dengan Bona Septano yang juga sedang tidak punya pasangan dan akhirnya bisa terpilih masuk pelatnas.

Masa-masa awal di pelatnas Cipayung, saya kadang berpikir apakah saya layak atau tidak berada di sini. Namun di sisi lain hal tersebut juga memacu motivasi. Saya tak mau ada di pelatnas tetapi tidak bisa apa-apa, hanya asal masuk. Saya ingin buktikan bahwa saya layak masuk pelatnas.

Ahsan/Hendra merebut gelar juara dunia ketiga pada 2019.Ahsan/Hendra merebut gelar juara dunia ketiga pada 2019. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak)
Bisa berlatih bersama senior-senior, itu merupakan sebuah kebanggaan. Biasanya saya hanya bisa melihat di TV, sekarang bisa latihan bersama-sama.

Namun di sisi lain, tentu ada rasa sungkan berada di tempat yang sama. Ada Koh Chandra [Wijaya], Mas Sigit [Budiarto], Taufik Hidayat, banyaklah senior-senior di sini. Kalau saya melihat mereka, mau makan saja jadi sungkan. Kalau mau makan di ruang makan, tunggu kosong dulu.

Sebagai pasangan muda dan tengah mengejar prestasi, kami sadar kami belum bisa mengejar dengan cepat dan tampil konsisten. Di saat seperti itu, senior-senior justru keluar dari pelatnas.

Kondisi latihan ganda putra di pelatnas sempat tidak nyaman karena seolah nomor ganda putra terbagi dua, satu di tangan Koh Herry, satu lagi di tangan Mas Sigit. Mungkin untuk pemain senior tidak terlalu terasa, tetapi bagi pemain muda itu terasa.

Dengan kondisi itu, kami jadi seperti tidak ada yang bisa 'menarik'. Bagi saya, peran senior penting. Kalau sering sparring lawan Kido/Hendra, pasti bisa ikut keluar kemampuannya.

[Gambas:Video CNN]
Padahal pada tahun 2008 kami sudah mulai punya keyakinan bisa bersaing di level atas setelah tembus ke babak final Japan Super Series.

Saya dan Bona jadi ganda putra nomor satu pelatnas setelah Kido/Hendra keluar. Secara mental, kami belum terlalu siap karena kami belum matang, masih butuh waktu, butuh jam terbang.

Di tahun 2011, kami bisa juara SEA Games dan meraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia. Menghadapi Olimpiade kami sudah tidak lagi berpikir kami masih ragu-ragu atau tidak. Kami sudah harus bisa bersaing dan menerima tanggung jawab meski kadang masih naik-turun.

Kami pergi ke Olimpiade dengan tekad harus yakin, kami berpikir di Olimpiade apapun bisa terjadi. Kami berusaha keras dari latihan, kami berdua juga sudah digeber habis-habisan, tetapi ya begitu hasilnya, sampai di delapan besar.

Akhirnya setelah Olimpiade, saya dan Bona berpisah. Saya bilang ke Bona mohon maaf bila ada kesalahan atau hal-hal lain selama berpasangan dan dia menerima.

Koh Herry akhirnya memasangkan saya dengan Koh Hendra. Dalam pandangan saya, tentu Koh Hendra adalah sosok berpengalaman dan punya tekad untuk kembali ke level elite. Saya butuh pengalaman, butuh ada yang membimbing, Koh Hendra kan sudah memiliki semuanya. Saya yakin dia pasti bakal kembali tampil bagus.

Setahun berpasangan, kami bisa jadi juara dunia. Sebelum juara dunia, kami bisa juara Indonesia Open, terus Singapura Open. Kami mendapat kepercayaan diri dari sana dan terus berusaha.

Malam sebelum final, saya lebih banyak berdoa. Tidak banyak yang diobrolkan dengan Koh Hendra karena dia juga pasti coba fokus juga. Saya coba untuk tidur, tegang, jadi tidur tidak nyenyak.

Gelar Juara Dunia dan Kegagalan Olimpiade

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2