Memori Manis Emas SEA Games 1991 di Stadion Rizal Memorial

CNN Indonesia | Senin, 09/12/2019 22:15 WIB
Memori Manis Emas SEA Games 1991 di Stadion Rizal Memorial Timnas Indonesia saat lolos ke final SEA Games 2019. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/wsj)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jelang Indonesia vs Vietnam, legenda Timnas Indonesia Peri Sandria mengenang memori manis kala skuat Garuda meraih medali emas SEA Games 1991 di Stadion Rizal Memorial, Filipina.

Peri kepada CNNIndonesia.com mengatakan sebelum berangkat ke Filipina, para pemain digembleng selama tiga bulan di daerah Cimahi, Bandung oleh pelatih asal Rusia, Anatoli Polosin. Latihan keras dengan fokus membenahi fisik sempat membuat Peri terpikir untuk kabur dari pemusatan latihan.

"Latihannya luar biasa berat, programnya kalau dipikir tidak masuk akal. Latihan sehari tiga kali, pagi, siang dan sore. Kalau anak-anak sekarang dipanggil ke Timnas saat itu mungkin tidak ada yang mau. Latihan jarang pegang bola, naik-turun gunung tempat pengambilan baret tentara."


"Dulu pemain yang berkualitas saja tidak kuat, tidak sanggup. Saya juga tidak sanggup, mau mengundurkan diri, kabur karena tidak kuat latihan. Tapi saya pikir lagi memang kami ini ditugaskan, diberi tanggung jawab buat negara sehingga saya jalani saja," jelas Peri melalui sambungan telepon, Senin (9/12).

Selama pemusatan latihan, lanjut Peri, selain penggemblengan dari sisi fisik, pemain juga digembleng nasionalismenya. Jiwa patriot sebagai anak bangsa terus ditanamkan sehingga tidak terpikirkan hal lain, termasuk uang bonus dan lainnya.

"Kami hanya berpikir tentang lambang Garuda di dada. Meski pada akhirnya kami tampil sebagai tim yang tanpa teknik, tapi mengandalkan fisik. Selama tampil kami jadi tim yang tidak ada capeknya, kalau kata pemain Thailand seperti babi hutan," ujarnya.

Rochi Putiray rekan Peri Sandria di SEA Games 2019. (Rochi Putiray rekan Peri Sandria di SEA Games 2019. (Foto: CNN Indonesia/Jun Mahares)
Meski begitu, tekad untuk bisa membawa pulang medali emas sangat berapi-api dalam diri pemain di SEA Games 1991. Latihan keras selama di pemusatan latihan terbayar lunas dengan medali emas di Filipina.

Kekompakan pemain juga menjadi salah satu kunci kesuksesan Peri dkk kala itu. Hal itu juga yang diharapkan Peri bisa diperlihatkan Osvaldo Haay dkk di SEA Games 2019 kali ini.

"Polosin bilang waktu itu, tidak apa-apa lelah saat latihan yang penting hasilnya 100 persen manis. Benar juga, saat juara baru terpikir kalau latihan berat selama ini ada hasilnya," ungkap Peri.

Peri yang berposisi sebagai striker itu menitipkan pesan buat juniornya yang bakal berjuang melawan Vietnam di final SEA Games 2019, Selasa (10/12). Pemain Timnas Indonesia U-23 diminta untuk bangga bisa bermain di stadion di mana 28 tahun lalu tercipta sejarah membanggakan kala bendera Merah Putih bisa berkibar diiringi lagu Indonesia Raya.

[Gambas:Video CNN]
Osvaldo dkk juga diharapkan tidak terpengaruh dengan statistik yang tercipta selama pertandingan di fase grup, termasuk kekalahan 1-2 dari Vietnam yang lalu. Pemain diminta jangan lengah dan harus punya komunikasi yang baik antar lini.

"Mereka harus bangga dan berjuang keras karena main final di tempat bersejarah di mana Indonesia bisa juara tempat itu, bisa dapat medali emas. Momen ini harus diulang lagi. Mereka bisa menutup akhir tahun dengan manis dengan prestasi membanggakan," sebut Peri.

Memori Manis Emas SEA Games 1991 di Stadion Rizal Memorial
Bahkan dari segi mentalitas pemain, Peri menyebut pemain Timnas Indonesia tidak ada takutnya dengan lawan-lawan yang dihadapi. Laga final, lanjutnya, bukan soal strategi atau taktik, tapi lebih ke perang mental.

"Mental pemain kita [Indonesia] ini bagus. Kelihatannya besok lebih ke perang mental. Siapa tim yang lebih siap di lapangan, dia yang akan juara. Mereka harus diberi motivasi, jangan diberi beban. Coach Indra [Sjafri] harus mengingatkan bahwa di stadion ini [Rizal Memorial] Timnas Indonesia pernah jadi juara," tegasnya. (TTF/jun)