TESTIMONI

Jejak Lompatan Maria Londa

Maria Natalia Londa, CNN Indonesia | Rabu, 08/01/2020 20:19 WIB
Maria Londa telah melompat jauh dalam perjalanan kariernya. Kini ia jadi salah satu atlet terbaik yang dimiliki Indonesia. Maria Londa merupakan salah satu atlet atletik elite Indonesia. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --
Saya kenal dengan atletik sejak usia 10. Saya orang yang kurang suka berlari. Saat ke Stadion Ngurah Rai di Bali, saya melihat orang melompat. Saya melihat I Ketut Pageh yang jadi pelatih saya saat ini melatih anak asuhnya.

Karena sering bertemu, I Ketut Pageh membujuk saya menekuni dunia atletik. Awalnya saya tidak begitu tertarik, tapi I Ketut Pageh tidak menyerah dan terus merayu sampai akhirnya saya luluh.
Saya sering dipaksa pelatih untuk jadi pelari, tapi tidak mau. Bahkan untuk menghindari paksaan pelatih, saya suka mengajak pelatih berlari, biar dia tahu kalau lari itu melelahkan. Saya lebih suka tidur dibanding disuruh lari.

Setelah itu saya masuk Pusat Pelatihan Pelajar (PPLP) dan menjadi atlet di Bali. Sudah mulai ikut kejuaraan juga. Waktu latihan di Bali masih lapangan tanah yang ada kerikilnya. Belum ada lapangan sintetis. Lapangan standar nasional seperti sintetis baru dibuat pada 2016 lewat bantuan pemerintah.


Salah satu motivasi terbesar saya di lompat jauh adalah karena senior saya di Bali dapat perunggu di PON. Saya berpikir kakak itu saja bisa jadi juara di lompat jauh, masa saya tidak bisa.


Jejak Lompatan Maria LondaMaria Londa sudah menjadi penghuni pelatnas atletik sejak 2005. (CNN Indonesia/Surya Sumirat)

Karier saya berlanjut ke Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) saat 13 tahun, dapat peringkat empat. Berlanjut ke kejuaraan ASEAN School Games lalu masuk pelatnas pada 2005 hingga sekarang. Setelah masuk pelatnas, saya sudah mulai rajin naik podium.

Medali emas baru saya dapat di SEA Games 2013 di Myanmar. Saat itu saya sudah yakin. Sejak berangkat ke Myanmar yakin mendapat emas. Puji Tuhan, akhirnya benar-benar dapat emas di dua nomor, lompat jauh dan triple jump. Di SEA Games 2015 Singapura juga dapat dua emas di nomor yang sama.

Untuk pencapaian terbesar dalam karier saya tentu saja medali emas Asian Games 2014 di Incheon. Karena saat itu saya memang tidak masuk proyeksi peraih medali.

Emas di Incheon itu sangat mengesankan. Bukan saja karena level turnamennya, tetapi juga karena prosesnya. Sebelum meraih emas di Asian Games 2014 itu saya beberapa kali didiskualifikasi. Baru pada lompatan terakhir saya bisa melompat sejauh 6,55 meter dan menjadi rekor di Indonesia. Itu juga jadi catatan terbaik dalam karier saya.


Jejak Lompatan Maria LondaMaria Londa tampil di ajang Asian Games 2018. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Tapi sayangnya, setelah SEA Games 2015 saya harus berjuang dengan cedera. Dalam kualifikasi Olimpiade di Singapura saya cedera saat mengikuti lompat jangkit, padahal sebelumnya di lompat jauh saya berhasil lolos ke Olimpiade 2016 setelah mencapai limit.

Saat itu saya paksa ikut di triple jump. Padahal untuk waktu pemulihan dari dokter tidak masuk akal. Di lompat jauh saya sudah dapat emas. Dokter bilang saya tidak usah turun karena waktu pemulihannya terlalu pendek untuk ikut lompat jangkit, tapi saya memaksa. Di 2015 saya cedera ligamen lutut kanan dan kiri. Meski akhirnya saya tetap bisa tampil di Olimpiade 2016.

Di Olimpiade 2016 masih di masalah yang sama, di ligamen. Itu Olimpiade pertama saya. Tapi itu bukan keterpaksaan. Tampil di Olimpiade itu mimpi semua atlet, apalagi dengan saya lolos kualifikasi murni.

Saya benar-benar tidak mau menyerah dengan kondisi saya saat itu. Apapun yang terjadi saat saya perang, saya akan lakukan yang terbaik. Tapi hasilnya jauh dari yang diprediksi. Punya pengalaman bertarung dengan orang-orang yang juara dunia itu membuat saya bersyukur.

Di SEA Games 2017 saya gagal dapat emas, hanya dapat perak di dua nomor. Kegagalan di 2017 itu karena cedera yang saya dapat pada 2015.

Begitu juga dengan di Asian Games 2018. Sebenarnya, orang-orang terdekat tahu saya memaksakan diri. Seperti kemarin Asian Games 2018, sudah tidak dikasih turun cuma saya paksakan. Saya cuma ingin menyelesaikan apa yang saya mulai.


Jejak Lompatan Maria LondaCedera menjadi salah satu problem dalam karier Maria Londa. (CNNIndonesia.com/M Arby Rahmat Putratama H)
Mungkin juga waktu di SEA Games 2017 dan di Asian Games 2018 saya tidak dapat hasil terbaik karena lawan-lawan saya berlatih lebih keras lagi, jadi itu yang saya jadikan motivasi. Agar saya bisa melewati mereka, maka saya harus berlatih lebih keras dari mereka.

Kehilangan emas di 2017 jadi cambuk untuk saya ingin balik di 2019 ingin mengulang masa-masa terbaik saya. Itu yang jadi motivasi lebih sebenarnya.

Saya baru merasa latihan tanpa rasa sakit itu pada 2019. Di SEA Games 2019 sebenarnya karena diyakinkan orang-orang terdekat.
 
Pengalaman paling menarik dalam karier saya ya di Incheon 2014 dan kemarin emas SEA Games 2019. Itu karena dengan proses panjang dari cedera sampai saya bisa lompat saya bisa mengembalikan percaya diri lagi dan membuahkan hasil terbaik benar-benar terbayarkan semuanya.

KEPERGIAN BAPAK DAN KERAGUAN PENSIUN

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK