Aulia Bintang Pratama
Lulusan jurnalistik yang memulai kariernya di CNNindonesia.com sejak Agustus 2014. Ditugaskan mengawal isu politik dan memiliki impian menjadi wartawan kanal olahraga. Menikmati permainan Manchester United untuk menghilangkan penat.

Terima Kasih Kobe Bryant

Aulia Bintang Pratama, CNN Indonesia | Senin, 27/01/2020 15:22 WIB
Pada saya, Kobe Bryant bukan hanya 'menghadiahkan' berupa penampilan mengerikan atau serangkaian pemecahan rekor, tapi Mamba Mentality. Kobe Bryant dan putrinya, Gianna, meninggal dunia pada Minggu (26/1) karena kecelakaan helikopter. (Robyn BECK / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Bryant.... to Shaq!"

Suara komentator mengiringi assist yang diberikan Kobe Bryant pada Shaquille O'Neal. Pertandingan antara LA Lakers melawan Portland Trail Blazers di final wilayah barat NBA musim 2000 itu tinggal menyisakan beberapa detik ketika O'Neal menuntaskan umpan sempurna dari Bryant. Lakers menang. 

Saya menyaksikan momen ikonis itu lewat sebuah video. Tepatnya pada pertengahan 2004, empat tahun berselang setelah pertandingan berlangsung.


Menyaksikan video itu adalah momen ketika saya akhirnya mengidolakan seorang Kobe Bryant. Saat itu Lakers baru saja dikalahkan Detroit Pistons di Final NBA. Mereka juga gagal meraih juara empat kali beruntun.

Namun kekalahan Kobe dan Shaq itu justru membuat saya jadi tergila-gila pada Lakers, terutama Black Mamba. Seorang anak muda yang masuk NBA langsung dari SMA dan kemudian bisa menjadi salah satu pemain terbaik yang pernah ada.

Besar Bersama Kobe BryantKobe Bryant mendapatkan lima gelar juara bersama LA Lakers. (Emmanuel DUNAND / AFP)
Satu hal yang paling saya sukai dari Kobe adalah kegigihannya mencetak angka. Lepas dari apapun kesulitan yang ia hadapi, mulai dari double team, triple team, atau waktu yang hampir habis.

Meski karakternya itu membuatnya kadang dikritik karena dianggap serakah, tapi Kobe selalu membuktikannya dengan poin-poin yang ia hasilkan.

Permainan ngotot ala Kobe itu akhirnya dijuluki Mamba Mentality, istilah yang menempel di kepala saya setiap mendengar kata Kobe Bryant.

Saya masih ingat bagaimana Kobe mencetak 81 poin saat menghadapi Toronto Raptors. Bayangkan, 81 poin dalam satu pertandingan!

Torehan Kobe itu adalah yang kedua terbanyak dalam sejarah NBA setelah Wilt Chamberlain yang mencetak 100 poin.

Bahkan seorang Michael Jordan yang disebut-sebut sebagai terbaik sepanjang masa atau GOAT pun tak pernah mencetak poin 'segila' Kobe.

Saya juga ingat bagaimana Kobe memecahkan rekor poin terbanyak di Madison Square Garden pada 2009.

Saat itu dia mencetak 61 poin, meski akhirnya rekor itu dilewati oleh Carmelo Anthony beberapa tahun kemudian.

Besar Bersama Kobe BryantKobe Bryant meninggal dunia bersama dengan putrinya, Gianna, dalam suatu kecelakaan helikopter. (AP Photo/Chris Carlson)
Benak saya juga merekam raut wajah Kobe ketika Lakers dipecundangi rival abadinya, Boston Celtics, di Final NBA 2008.

Namun senyuman Kobe kembali merekah semusim setelahnya, yaitu 2009 dan 2010. Lakers meraih dua gelar beruntun setelah mengalahkan Orlando Magic dalam empat game, dan membalas dendam ke Boston Celtics satu musim berselang.

Masa-masa kejayaan Lakers dan Kobe ini tak pernah saya lewatkan. Entah itu harus streaming melalui komputer, meminjam wifi kampus, bahkan telat masuk kuliah saya lakukan untuk menyaksikan final NBA. Untuk melihat Kobe Bryant.

Ketika kondisi fisiknya menurun akibat cedera achilles pun saya tak pernah bosan menunggu penampilannya.

Saya senang bukan main saat Kobe akhirnya melewati torehan Jordan di daftar pencetak poin terbanyak di NBA.

Tentu saja saya juga sedih bukan kepalang saat Kobe memutuskan pensiun pada 2016.

Pada momen-momen terakhirnya berlaga pun Kobe masih memberikan saya dan penggemar lainnya hadiah: 60 poin!

Pertandingan melawan Utah Jazz di Stapless Center itu menjadi rekor poin terbanyak yang dicetak oleh pemain di pertandingan terakhir sebelum pensiun di NBA.

Lagi-lagi, Kobe memecahkan rekor.

Bahkan setelah pensiun pun Kobe masih memecahkan torehan lain.

Dia menjadi pemain pertama dalam sejarah NBA yang dua nomor punggungnya dipensiunkan di satu tim yang sama.

Ya, Lakers memang memensiunkan nomor 8 dan 24, dua nomor yang digunakan Kobe selama 20 tahun berkostum ungu-emas.

Besar Bersama Kobe BryantKobe Bryant juga pernah memenangi dua medali emas Olimpiade bersama timnas Amerika Serikat. (Filippo MONTEFORTE / AFP)
Dua dekade membela Lakers tentu bukan waktu yang sebentar. Dan pada masa-masa itu Kobe punya beberapa momen yang sebenarnya bisa dia gunakan untuk hengkang. Contohnya saat Lakers puasa kemenangan dari 2002 hingga 2009.

Namun dia tidak pergi. Dia tetap setia dengan satu tim hingga pensiun.

Satu kata yang saya ingat soal loyalitas Kobe adalah kata-kata yang keluar dari mulut Jeanie Buss, pemilik sekaligus Presiden LA Lakers:

"Kobe, I thank you for staying loyal to the purple and gold, and remaining a Laker for life when it might have been easier for you to leave."

(Kobe, saya berterima kasih karena kamu tetap setiap pada ungu dan emas dan tetap menjadi seorang Laker seumur hidup ketika sebenarnya lebih mudah untuk pergi)

Namun pada Senin pagi ini akhirnya Kobe benar-benar pergi. Bukan dari Lakers, tapi meninggalkan semua orang, termasuk saya yang menjadi penggemarnya sejak 2004.

Dia pergi dengan meninggalkan banyak pencapaian yang menginspirasi semua orang.

Mamba Mentality tak hanya berlaku di dunia basket, tapi di semua aspek kehidupan.

Terima Kasih, Kobe.

Today, I lost my hero. Mamba Out. (vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS