Dunia Olahraga Beku, Pelajaran Mahal dari Pendahulu Corona

CNN Indonesia | Senin, 30/03/2020 08:00 WIB
Dunia Olahraga Beku, Pelajaran Mahal dari Pendahulu Corona Olimpiade 2020 di Jepang terpaksa ditunda tahun depan karena pandemi virus corona. (AP/Jae C. Hong)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pandemi virus corona seolah menjadi sejarah yang berulang soal wabah yang membawa kehancuran termasuk di dunia olahraga. Sekira 102 tahun lalu tepatnya pada 1918, dunia juga pernah mendapat pelajaran berharga dari wabah flu Spanyol.

Berbeda dengan saat ini, dunia olahraga tidak sepenuhnya berhenti di tengah wabah pascaperang Dunia I tersebut. Namun, itu jadi pelajaran mahal bagi dunia olahraga dalam menyikapi pendahulu virus corona: flu Spanyol.

Pandemi flu tersebut merebak di dunia dari Januari 1918 hingga Desember 1920. Wabah itu bahkan memakan korban yang sangat banyak hingga sekitar 50 juta penduduk bumi meninggal karena flu tersebut.


Total sekitar 500 juta orang atau seperempat penduduk dunia kala itu tertular wabah flu Spanyol.

Salah satu faktor penyebabnya karena pandemi yang kini dikenal sebagai influenza tersebut sama sekali belum ditemukan penanganan medis yang tepat kala merebak kali pertama di dunia.

Wabah ini dinamakan flu Spanyol karena juga menginfeksi Raja Spanyol, Raja Alphonso XIII, sehingga menghebohkan pemberitaan di dunia saat itu.

Ilustrasi Barcelona di Liga Champions. (Ilustrasi Barcelona di Liga Champions. (AP Photo/Antonio Calanni)
Berbeda dengan virus corona atau Covid-19, flu Spanyol lebih banyak membunuh manusia dengan usia rata-rata 25-30 tahun ketimbang manula.

Meski demikian, tak seperti darurat virus corona, wabah flu Spanyol saat itu tidak serta-merta menghentikan total dunia olahraga. Di antaranya ajang paling bergengsi di Amerika Serikat itu Liga Bisbol Amerika (MLB) dan Sepak Bola Amerika (NFL) tetap berlangsung.

Padahal, dikutip dari Inquirer, sejumlah kota di Amerika Serikat termasuk di negara bagian Philadephia sudah menghentikan sejumlah event olahraga dan ajang lainnya yang mengundang kerumunan. Termasuk pula duel tinju antara Jack Dempsey vs Battling Levinsky.

Situasinya disebut mengerikan kala itu. Pasalnya, petugas kota harus mengangkut sejumlah mayat yang terkapar di jalanan karena flu itu.

Dunia Olahraga Beku, Pelajaran Mahal dari Pendahulu Corona
MLB yang kala itu tetap berlangsung hanya menerapkan larangan tertentu di pertandingan seperti meludahi bola. Korban meninggal di Amerika Serikat mencapai 675 ribu jiwa ketika itu.

Salah satu yang meninggal adalah legenda sepak bola Amerika, William Robinson.

Kerumunan di setiap ajang tersebut menjadi 'super-spreader' penularan flu yang masih mematikan waktu itu. Alhasil, gelaran MLB termasuk NFL pada 1918 dipersingkat.

Laga Chelsea vs MU di Liga Inggris. (Laga Chelsea vs MU di Liga Inggris. (AP Photo/Ian Walton)
Di Inggris, kompetisi Liga Inggris juga seolah tak terpengaruh pandemi tersebut. Kompetisi tetap berjalan seolah mengabaikan ancaman nyata dari flu Spanyol. Dilansir dari situs Chelsea, laga-laga The Blues disaksikan rata-rata penonton hingga 20 ribu.

Jumlah penonton terbesar laga Chelsea tersebut pada final Piala Kemenangan 1919 melawan Fulham di Selhurst Park. Saat itu Chelsea menang 4-0 atas lawannya. Laga itu disaksikan hingga 36 ribu fan.

Padahal, pemain Chelsea kala itu Tom Logan dan Harry Ford dilaporkan terinfeksi influenza. Keduanya pulih pada Desember. Berbeda dengan Logan dan Ford, mantan pemain The Blues, Angus Douglas meninggal karena pandemi tersebut.

Dunia Olahraga Beku, Pelajaran Mahal dari Pendahulu Corona
Banyak lagi deretan pelaku sepak bola Inggris yang terkena virus itu dan di antara mereka meninggal dunia.

Penduduk dunia sekarang pun belajar dari pandemi maut pada 1918-1920 ketika virus corona merebak. Semua ajang olahraga level dunia ditunda sementara.

Bahkan ajang terbesar seperti Olimpiade 2020 di Tokyo terpaksa diundur menjadi tahun depan. Korban meninggal disebabkan oleh virus corona memang jauh tak sebanyak flu Spanyol. Hanya puluhan ribu.

Namun, ajang olahraga terpaksa dihentikan sementara karena tak ingin mengulang tragedi 102 tahun silam. (bac/jun)