Putra Permata Tegar Idaman
Menggemari bulutangkis dan mengagumi Roberto Baggio sejak kecil. Pernah bekerja di harian Top Skor dan Jakarta Globe. Kini menjadi penulis di kanal olahraga CNN Indonesia

Selamat Tinggal Lin Dan, Selamat Tinggal Kesempurnaan

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Senin, 06/07/2020 19:00 WIB
Lin Dan of China reacts during the men's singles final match against Chen Long of China at the Malaysia Open badminton tournament in Kuala Lumpur on April 7, 2019. SADIQ ASYRAF / AFP (Photo by SADIQ ASYRAF / AFP) Lin Dan pensiun dengan meraih banyak gelar besar di kariernya. (SADIQ ASYRAF / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lin Dan adalah salah satu sosok antagonis bagi penggemar badminton Indonesia. Namun kehebatan dan prestasi yang ditorehkan membuat banyak orang menempatkan Lin Dan sebagai salah satu sosok legenda yang layak dihormati semua orang.

Lin Dan adalah musuh utama bagi Indonesia dalam persaingan badminton dunia sejak era 2000-an. Dalam era itu, Indonesia memiliki sejumlah pemain-pemain hebat mulai dari Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, hingga Simon Santoso. Namun nama Lin Dan berkali-kali mengubur mimpi pemain-pemain Indonesia untuk memenangi turnamen bergengsi dalam seri BWF Tour.

Tak hanya itu, sosok Lin Dan adalah salah satu alasan utama Indonesia tak lagi memenangkan Piala Thomas sejak kali terakhir menjadi juara pada 2002. Dalam periode 2004-2012, Lin Dan adalah motor utama keganasan China.


Namun di luar semua persaingan yang terjadi di lapangan, di luar semua kesedihan yang timbul akibat kekalahan pemain Indonesia di tangan Lin Dan, kepergian Lin Dan dari lapangan badminton tetap sebuah kepergian yang layak diiringi dengan rasa hormat, sanjungan, terima kasih, dan tepuk tangan.

Lin Dan adalah sosok yang sudah mencuri perhatian sejak usia muda. Meski Xia Xuanze dan Bao Chunlai lebih dulu muncul ke permukaan, Lin Dan akhirnya bisa jadi pemain nomor satu dunia di 2004.

Namun kisah sukses Lin Dan tak langsung diawali keberhasilan. Di tahun-tahun awal periode emas Lin Dan, gelar di level major tournament beberapa kali direbut Taufik Hidayat.

Chong Wei Lee of Malaysia (R) is congratulated by Taufik Hidayat of Indonesia (L) at the end of their men's single final badminton match of the Hong Kong Open Badminton Super Series on December 12, 2010.  Chong beat Hidayat 21-19, 21-9. AFP PHOTO/MIKE CLARKE (Photo by MIKE CLARKE / AFP)Lin Dan berada di generasi yang sama dengan legenda lain macam Taufik Hidayat dan Lee Chong Wei. (MIKE CLARKE / AFP)

Lin Dan punya ranking lebih baik namun selalu gigit jari di beberapa turnamen besar karena Taufik ternyata selalu menampilkan peak performance di waktu yang tepat. Contohnya di Olimpiade 2004, Kejuaraan Dunia, dan Asian Games 2006.

Berbekal menelan kegagalan di beberapa tahun awal, Lin Dan lalu menjelma jadi sosok tangguh yang sulit dikalahkan di turnamen-turnamen besar. Catatan lima gelar juara dunia dan dua emas Olimpiade adalah bukti sahih kehebatan Lin Dan. Belum lagi ditambah enam gelar All England, turnamen tertua di dunia badminton.

Menjadi juara dunia satu kali saja sudah luar biasa, namun Lin Dan sukses lima kali melakukannya. Menjadi juara Olimpiade sudah jadi prestasi yang mengagumkan, namun Lin Dan dua kali menjadi pemenang.

Tak mudah untuk bisa menampilkan penampilan sempurna, terutama di setiap turnamen besar. Namun Lin Dan berhasil melakukannya.

Sebagai catatan khusus, Lin Dan hadir, tumbuh, dan bersaing di salah satu era paling ketat dan paling sengit dalam sejarah dunia badminton.

Lin Dan bersaing dengan nama-nama yang bakal masuk jajaran legenda badminton seperti Taufik Hidayat, Lee Chong Wei, dan Peter Gade. Tak hanya tiga rival utama itu, masih ada nama lain yang masuk kategori pemain bintang di dekade 2000-an yaitu Lee Hyun Il, Sony Dwi Kuncoro, Chen Jin, hingga Chen Long.

Namun Lin Dan mampu menjadi raja di era yang panas dan sengit tersebut. Membuat nama-nama seperti Chong Wei dan Peter Gade tidak pernah merasakan gelar juara dunia.

China's Lin Dan (2nd L) looks on as third placed Indonesian Taufik Hidayat (2nd R) greets runner-up China's Jin Chen (L) while fourth placed Indonesian Sony Dwi Kuncoro (R) stands during the World Badminton Championships at the Gachibowli Stadium in Hyderabad on August 16,2009. Lin Dan defeated Jin Chen by  21-18, 21-16. AFP PHOTO / Noah SEELAM (Photo by NOAH SEELAM / AFP)Lin Dan berhasil memenangkan persaingan melawan rival-rival tangguh di era 2000-an. (AFP/NOAH SEELAM)

Lin Dan adalah contoh paling ideal bagi pebulutangkis muda dalam menata mental dan pikiran menghadapi karier yang naik-turun. Lin Dan sukses menjaga rasa lapar dan rasa puas atas sebuah kemenangan, sehingga ia bisa terus-menerus mendapatkan kemenangan-kemenangan besar berikutnya.

Untuk bisa menata dan menjaga motivasinya, Lin Dan sempat memutuskan rehat sejenak usai memenangkan Olimpiade 2012. Lin Dan seolah mencari cara terbaik untuk bisa mendapatkan rasa lapar yang dia inginkan. Meski diiringi protes karena ia mendapat wild card, Lin Dan sukses membuktikan bahwa ia masih jadi pebulutangkis terbaik dengan gelar juara dunia di 2013.

Melihat penampilan Lin Dan di lapangan dalam kondisi terbaik adalah melihat gambaran kesempurnaan. Lin Dan tak perlu bersusah payah menjangkau shuttlecock dari tiap serangan lawan. Ketika ia perlu menyerang, satu smes dari 'Super Dan' seolah sudah cukup mematikan lawan.

Di luar teknik yang sempurna, kekuatan mental Lin Dan jadi pembeda dirinya dengan pemain-pemain hebat lain di generasinya.

Lin Dan of China throws his racquet after loosing a point against Son Wan-ho of South Korea during their men's singles semi-final match at the Malaysia Open Badminton Superseries in Kuching on April 8, 2017. / AFP PHOTO / MOHD RASFANLin Dan lima kali jadi juara dunia. (AFP PHOTO / MOHD RASFAN)

Pemain lain seolah sudah punya beban tambahan tiap berlaga lawan Lin Dan. Lawan-lawan itu diliputi kekhawatiran dan bayangan kekalahan sebelumnya. Sedangkan justru Lin Dan sebagai raja dan penguasa malah tidak terbebani dengan statusnya sebagai yang terhebat.

Tahun-tahun terakhir karier Lin dan tidaklah menggambarkan kehebatan sejatinya sebagai seorang pemain. Menyandang label 'Super Dan', pria 37 tahun itu tetap tak bisa melawan pelemahan karena faktor usia.

Namun kekalahan-kekalahan di tahun-tahun terakhir jelas tak akan menghapus dan menodai deret prestasi panjang Lin Dan di lapangan badminton.

Sampai jumpa Lin Dan!

Terima kasih atas segalanya!

(har)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS