TESTIMONI

Elie Aiboy: Legenda Selangor dan Tragedi Timnas Abal-abal

Elie Aiboy, CNN Indonesia | Rabu, 08/07/2020 19:01 WIB
Scott Jamison of Australia (L) looks on as Indonesia's Elie Aiboy gains control of the ball during the group B AFC Asian Cup 2011 Qualifiers at Bung Karno stadium in Jakarta on January 28, 2009. Indonesia and Australia drew 0-0.  AFP PHOTO/ADEK BERRY / AFP PHOTO / ADEK BERRY Elie Aiboy salah satu winger terbaik yang pernah dimiliki Timnas Indonesia. (AFP PHOTO/ADEK BERRY)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kisah hidup saya, Elie Aiboy, penuh kejutan tak terduga. Pemain kampung yang tiba-tiba dipanggil Popnas Papua karena kurang pemain, tapi malah terpilih masuk skuad Baretti II menuju Italia.

Semula saya hanya bocah penggemar sepak bola seperti anak-anak lain di Papua. Tiap hari bermain bola untuk bersenang-senang, tapi bakat yang terpendam terus terasah hingga mencapai puncaknya.

Talenta sepak bola saya menurun dari ayah saya bernama Hendrik Aiboy. Saya baru tahu dari ibu kalau ayah jagoan sepak bola di kampung halamannya, Serui.


Banner Live Streaming MotoGP 2020

Tapi, ayah tak sempat mengecap tim profesional karena memilih jadi guru dan tinggal di Kota Jayapura. Mimpinya sebagai pesepakbola terjawab melalui saya.

Terbiasa main bola di pantai dan pegunungan mungkin yang membuat saya lincah. Punya kecepatan dan selalu ngotot di lapangan.

Selalu terpilih jadi pemain inti di sekolah hingga sukses juara SMP se-Jayapura. Entah dari mana jalannya, saya terpilih masuk tim Papua untuk Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas), kira-kira tahun 1994.

Awalnya saya agak minder. Sebab, tim Popnas Papua sebagian besar dihuni pemain Diklat Papua seperti Ortisan Solossa dan Erol FX Iba. Namun, perlahan saya adaptasi dan menikmati permainan sesuai dengan instruksi pelatih: Jadi pelayan untuk penyerang. Saya kasih maksimal!

Bejo SugiantoroBejo Sugiantoro. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)

Tim pelajar Papua akhirnya menembus final Popnas, tapi kami kalah telak dari Jawa Timur yang kala itu diperkuat Bejo Sugiantoro dan Uston Nawawi. Dua pemain ini cukup menonjol sejak usia remaja.

Setelah pulang ke Papua saya kembali mendapat kabar mengejutkan lagi, terpilih sebagai satu di antara empat pelajar Papua untuk seleksi Timnas Indonesia U-19.

Selain saya, tiga pemain yang terpilih adalah Ortisan Solossa, David Abisay, dan Emmanuel Korey. Saya tidak tahu kendalanya apa, tapi Ortis memutuskan tidak ikut.

Tentu saya sempat takut, cemas, dan terheran-heran. Pemain kampung 15 tahun yang tak pernah ikut SSB, tapi bisa terpilih seleksi di Jakarta. "Semoga ini jalan Tuhan," kata saya dalam hati.

DanurwindoDanurwindo pencari talenta muda Indonesia di era Primavera dan Baretti. (CNN Indonesia/Surya Sumirat)

Singkat cerita kami sampai di Jakarta malam hari dan dihadapkan suasana gelap, banyak pepohonan seperti hutan. Saya bingung: katanya Ibu Kota dipenuhi gedung-gedung, tapi kami tinggal di hutan begini.

"Di mana bedanya dengan tempat kita di Papua?" gurau saya kepada David Abisay dan Emmanuel Korey.

Suasana Diklat Ragunan kala itu memang masih asri dan banyak pepohonan. Letaknya di samping Kebun Binatang Ragunan pula. Jelas saja mirip dengan hutan.

Setelah sepekan berlatih adaptasi bersama Diklat Ragunan. Om Danurwindo minta saya seleksi ke Sawangan. "Kamu ikut seleksi Timnas Indonesia U-19 ke Sawangan. Kalau tidak lolos balik ke sini, sekolah di Diklat Ragunan," kata Om Danur.

Ternyata saya lolos seleksi dan masuk Tim Baretti II yang digembleng di Italia selama setahun. Belum juga merasakan jalan-jalan di Jakarta, eh saya malah ke Italia. Satu lagi kejutan istimewa dalam hidup saya.

Digembleng di Italia

Banyak pengalaman hebat yang saya dapat dari Italia. Pertama, naik pesawat besar sekali. Saya tidak tahu boeing berapa itu. Kami naik dari Singapura tapi dalam pesawat seperti rumah.

Akhirnya kami tiba di Roma malam hari. Di situ baru saya merasakan cuaca yang dingin sekali. "Ih, dinginnya seperti di Eropa saja ya? Lho, memang di Eropa ya kita," kata saya bercanda kepada teman-teman karena kami semua memang tak pernah merasakan cuaca Eropa.

Dari Roma, kami transit pesawat ke Genoa dan naik bus lagi ke camp pelatihan di Tafarone. Kegiatan kami selama setahun di sana hanya latihan, makan, dan tidur. Itu saja dilakukan berulang-ulang seperti minum obat.

Pelatih kami saat itu asisten pelatih Sampdoria asal Swedia, Tord Grip. Sosok yang luar biasa buat saya. Berkat Grip saya termotivasi tambah porsi latihan crossing secara rutin. Masing-masing 50 lewat kaki kanan dan kiri. Hampir setiap hari saya lakukan.

Elie Aiboy di skuad Baretti II, cikal bakal skuad Timnas Indonesia yang ditempa selama setahun di Italia. (Dok. Pribadi Elie Aiboy)Elie Aiboy di skuad Baretti II, cikal bakal skuad Timnas Indonesia yang ditempa selama setahun di Italia. (Dok. Pribadi Elie Aiboy)

Saya tidak akan pernah lupa pengalaman kali pertama bermain bersama Baretti pada turnamen yang diikuti tim-tim junior Italia. Saat itu, saya bingung harus berbuat apa ketika menghadapi press ketat dari dua pemain lawan. Saya tertekan dan pilih buang bola keluar lapangan!

Kalau diingat-ingat momen itu sangat memalukan sekaligus lucu. Tapi, saya justru banyak belajar dari insiden itu. Berani pegang bola dan mengontrol situasi untuk keluar dari tekanan dan membuat keputusan cepat.

Kemudian saya belajar on time di Italia. Kita harus tahu jadwal bus, dan tidak boleh telat. Kalau telat, kita tidak tahu mau ke mana di negeri orang. Saat itu tidak punya handphone. Luar biasa disiplin dengan waktu.

Selain itu pengalaman lain yang tak terlupakan adalah menyaksikan langsung pertandingan home Sampdoria. Saya pernah tonton langsung Fiorentina, AC Milan, Inter Milan, Juventus dan tim-tim besar lainnya.

Karena PSSI kerja sama dengan Sampdoria, kami jadi punya akses duduk di tribune yang dekat dengan pemain beraksi. Saya jelas sekali melihat striker Fiorentina Gabriel Batistuta. Ganteng sekali. Mirip sosok Tuhan Yesus. Waktu itu saya masih Kristen, ya. Tapi, sekarang mualaf.

Fiorentina's goalscorer Gabriel Batistuta celebrates after the final whistle while Arsenal's Nigel Winterburn wipes his head in dejection at the UEFA Champions League match at Wembley Stadium 27th October 1999. Fiorentina won the match 1-0. (ELECTRONIC IMAGE) (Photo by ADRIAN DENNIS / AFP)Elie Aiboy kagum dengan ketajaman Gabriel Batistuta. (ADRIAN DENNIS/AFP)

Maka, ada tiga anak saya yang namanya terinspirasi pemain Liga Italia, mulai Gabriel Batistuta, Rui Costa, dan Enrico Chiesa.

Yang pasti kami banyak dapat hal di Italia. Pengalaman bertanding dengan tim-tim junior di Italia dan membuat tim Baretti solid.

Sayang kami gagal lolos Kualifikasi Piala Asia U-19 setelah hanya jadi runner up di fase grup. Hanya juara grup, China, yang berhak melaju ke putaran final.

Sejak saat itu saya rutin memperkuat Timnas U-19 dan U-23. Saya juga ikut andil mengantar Indonesia raih gelar Kejuaraan Pelajar Asia 1996 di Malaysia.

Dualisme PSSI Korbankan Pemain Timnas Indonesia

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2