TESTIMONI

Patar Tambunan: Patah Kaki dan Emas Pertama Indonesia

Patar Tambunan, CNN Indonesia | Rabu, 30/09/2020 19:00 WIB
Patar Tambunan merupakan salah satu legenda Timnas Indonesia yang sukses meraih medali emas SEA Games 1987 di Jakarta. Patar Tambunan, salah satu legenda yang membawa Timnas Indonesia juara SEA Games 1987. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Saya lahir dan di besar di Medan. Kami tinggal di kompleks Pardedetex, dan kebetulan di kompleks itu ada klub sepak bola profesional Pardedetex pada 1960 sampai 1970an.

Orang tua saya kerja di sana. Kebetulan juga dekat rumah ada lapangan bola yang setiap latihan itu pemain-pemain nasional. SMP kelas 2 atau 3 saya masuk Remtar (Remaja Taruna) Pardedetex, kalau sekarang mungkin namanya SSB. Cuma dulu belum ada SSB dan namanya masih remtar.

Waktu itu pelatih di Remtar Pardedetex sudah cukup bagus, karena di klub itu ada pelatih Frans van Balkom dan juga pelatih dari Belanda. Dulu di Pardedetex itu ada tiga jenjang: remtar, amatir, dan senior.


Saya sempat juga dikirim ke klub Warna Agung di Jakarta oleh bos Pardedetex, Jhonny Pardede. Latihannya hanya satu bulan, dari tiga bulan yang direncanakan. Pelatih Warna Agung saat itu Wiel Coerver.


Dari tim amatir Pardedetex itu saya dipanggil ke tim junior PSMS pada 1982. Saya tes pertama di junior PSMS gagal, baru bisa masuk di sana usai tes kedua. Setelah di tim Suratin PSMS, saya terpilih ke tim junior PSSI. Tim junior PSSI ini cikal bakal Garuda I.Karena Wiel Coerver ditarik ke PSSI, akhirnya saya hanya latihan satu bulan di sana. Dalam satu bulan itu saya hanya dapat latihan dasar saja.

Sehari latihan tiga kali, materinya hanya keeping bola di dalam ruangan. Latihan dua lawan dua, tiga lawan tiga. Itu saja. Lalu balik lagi ke Pardedetex amatir sekitar tahun 1981.

Sewaktu di tim junior PSSI saya mau ditarik ke tim profesional Pardedetex. Akan tetapi abang saya tidak setuju. Abang saya Tonggo Tambunan kan ada di tim Pardedetex itu juga. Jadi, kalau saya ikut latihan di tim profesional Pardedetex, abang saya enggak mau latihan. Enggak tahu kenapa alasannya.

Ketika saya libur latihan bersama PSSI Garuda, saya suka diminta ikut latihan dengan tim senior Pardedetex sama bosnya. Tetapi abang saya enggak mau saya ikut latihan.

patar tambunanPatar Tambunan pernah bermain untuk Persija Jakarta. (Dok. Istimewa)

Biasanya di PSSI Garuda itu suka dikasih pulang dua kali dalam setahun. Tapi karena abang saya enggak mau, akhirnya saya yang mengalah enggak latihan dengan Pardedetex.

Di PSSI Garuda saya dari 1982 sampai 1986, karena di 1985 saya masuk Timnas Indonesia senior di SEA Games 1985.

Begitu selesai dari Timnas Indonesia pada 1986, hampir semua dari kami ditawarkan ke klub Galatama. Saya ditawari ke Arseto, ke Pelita Jaya juga. Tapi 95 persen dari kami tidak mau karena memilih kerja.

Tahun 1985 saya sudah bekerja di Bank Bumi Daya, sudah karyawan. Jadi waktu umur 20 itu saya sudah kerja, dan memilih untuk kerja. Di tahun 1986 saya pilih gabung Persija Jakarta di Perserikatan.

[Gambas:Video CNN]


Dahulu pertimbangannya, di Galatama itu kan klub profesional, sedangkan saya statusnya karyawan. Di klub profesional zaman dahulu gajinya tidak sebesar sekarang.

Waktu di Timnas Indonesia zaman dahulu tahun 1985 saja bayarannya cuma Rp300 ribu, ada Rp150 ribu, bahkan Rp50 ribu. Sedangkan kami menjadi karyawan gajinya Rp200 ribu.

Kalau di Persija gajinya harian, sehari Rp10 ribu dibayarnya tiap minggu. Kalau tidak latihan ya tidak dibayar. Pertimbangan tidak memilih ke klub Galatama karena bayaran di perusahaan, lalu waktu yang fleksibel di klub Perserikatan.

Banner gif video highlights MotoGP

Kita ambil contoh teman-teman kami, senior-senior kami yang terlalu asyik main bola ternyata 'di belakangnya' kurang bagus. Jadi saya ambil amannya saja.

Karena perbedaan gaji di klub Galatama dengan menjadi karyawan tidak jauh. Masalah gaji itu nomor satu, pertimbangan lainnya di keluarga kami belum ada yang menjadi pegawai BUMN.

Itu juga berkaca dari pengalaman kami. Orang tua saya kerja di Pardedetex selama 25 tahun ya begitu-begitu saja, tidak ada yang bisa dibanggakan.


Kebetulan juga waktu itu lapangan Persija di Menteng dengan kantor saya di BBD Plaza dekat, hanya tinggal jalan kaki.Seandainya saya waktu itu pilih klub Galatama, maka saya harus keluar dari status karyawan. Kalau di Persija saya tidak harus keluar perusahaan, karena masih di Jakarta dan membawa nama daerah. Jadi mendapat dispensasi dari perusahaan.

Karier terakhir saya di Timnas Indonesia itu waktu Pra Piala Dunia 1990 zona Asia, ketika Indonesia satu grup dengan Korea Utara. Sedangkan di klub saya main terakhir tahun 1997 di Persija. Pokoknya Liga Dunhill I dan II saya masih main.

Imbalan Tak Sepadan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2