TESTIMONI

Uston Nawawi: Dari Anak Bawang ke Legenda Persebaya

Uston Nawawi, CNN Indonesia | Rabu, 25/11/2020 19:00 WIB
Uston Nawawi melalui perjuangan yang berliku hingga akhirnya bisa jadi legenda Persebaya Surabaya dan pemain langganan Timnas Indonesia. Uston Nawawi mempersembahkan dua gelar juara untuk Persebaya Surabaya sepanjang kariernya. (Dok. Persebaya)
Jakarta, CNN Indonesia --

Saya berhasil mempersembahkan dua gelar juara Liga Indonesia untuk Persebaya Surabaya semasa aktif jadi pemain. Semua itu tidak diraih dengan mudah. Butuh tekad kuat, kerja keras, dan disiplin untuk mewujudkannya.

Saya berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Bapak saya seorang wasit, bukan wasit nasional tetapi hanya wasit lokal di Sidoarjo. Profesi wasit itu jadi pekerjaan paruh waktu Bapak selain bertani.

Semasa kanak-kanak saya ikut ke manapun Bapak memimpin pertandingan. Selain itu, sejak kecil saya sudah menyukai Persebaya dan bermimpi bisa bermain di Persebaya, salah satu klub besar di Jawa Timur.


Jika Persebaya main saya jadi Bonek, nonton pertandingan Stadion Tambaksari. Tempat favorit saya nonton di bawah papan skor, dengan tiket kelas ekonomi. Waktu itu bisa nonton langsung pertandingan sudah bikin bahagia.

Saya sudah bermain bola sejak duduk di bangku Sekolah Dasar di Klagen, Sidoarjo. Seingat saya waktu itu saya masih main sebagai libero, belum jadi gelandang serang seperti yang diketahui banyak orang semasa saya masih aktif bermain.

Uston NawawiUston Nawawi sempat mengalami cedera parah semasa kanak-kanak sebelum jadi legenda Persebaya Surabaya. (Dok. Persebaya)

Orang tua memberikan dukungan penuh agar saya jadi pesepakbola karena untuk sekolah sampai jenjang yang tinggi butuh biaya besar. Dari empat bersaudara, hanya ada satu adik saya yang jadi sarjana, itu yang paling tinggi.

Secara akademis sebenarnya saya mampu, malah pas Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya masuk sekolah favorit. Semasa duduk di bangku SMP itu pula saya sempat ditertawai guru bimbingan penyuluhan.

Ini karena saya menuliskan pesepak bola saat mengisi cita-cita saya. Tekad saya semakin kuat setelah momen itu karena ingin membuktikan bermain sepak bola bisa jadi jalan hidup. Dulu profesi sebagai pesepakbola memang dipandang sebelah mata.

Perjuangan saya untuk berseragam Persebaya hingga akhirnya bisa masuk timnas Indonesia tidak mudah dan berliku. Saya pernah mengalami retak engkel kaki kanan saat masih bermain di Sekolah Sepak Bola (SSB) yang terletak di perbatasan Sidoarjo dan Surabaya.

Karena berasal dari keluarga biasa-biasa saja saya hanya melakukan pengobatan tradisional. Hampir enam bulan saya menjalani pemulihan cedera hingga bisa sembuh.

Saya sangat sedih begitu diketahui kena cedera engkel parah meski tidak sampai terpuruk dalam waktu lama. Akan tetapi saya punya tekad kuat untuk bisa bermain bola lagi. Saya ingin mewujudkan cita-cita saya jadi pemain bola untuk mengangkat ekonomi keluarga.

Selain sempat cedera parah, saya juga kerap gagal saat mengikuti seleksi. Salah satunya seleksi tim PON Jawa Timur tahun 1996. Hikmahnya tidak masuk tim PON tetapi bisa masuk Persebaya he..he..he

Proses seleksi masuk Persebaya itu tidak mudah karena seingat saya ada ratusan pemain yang ikut. Alhamdulillah saya bisa masuk setelah proses seleksi beres selama tiga bulan.

Indonesia's Uston Nawawi (L) tackles Chinese captain Ma Mingyu (R) during the World Cup 2002 Asia zone group nine qualifying match at Jakarta's Gelora Bung Karno sports stadium, 27 May 2001.  China won the match 2-0 to advance to the next round.  AFP PHOTO/Weda (Photo by WEDA / AFP)Uston Nawawi dipanggil memperkuat Timnas Indonesia saat masih berusia 19 tahun. (AFP/WEDA)

Saya jadi pemain magang di Persebaya, tim yang waktu itu bertabur bintang. Saya harus menunggu hingga pertengahan musim untuk bisa main. Alhamdulillah setelah itu prestasi meningkat kemudian dipanggil ke timnas Indonesia.

Saya masih ingat gaji pertama di Persebaya. Sebagai pemain magang saya digaji 750 ribu per bulan pada 1996. Waktu itu gaji bulanan saya malah kalah dari bonus kemenangan tim.

Bonusnya waktu itu sudah jutaan untuk sekali menang. Zaman itu, sebelum krisis moneter angka itu sudah besar. Dulu punya uang tiga juta saja sudah bisa beli motor baru.

Uang dari bonus kemenangan itu kemudian saya tabung. Tidak sampai setahun di Persebaya, saya sudah bisa beli motor baru. Senang karena bisa beli motor dari hasil keringat saya sendiri.

Setelah motor saya juga bisa beli mobil tetapi tidak yang mewah karena saya memilih berinvestasi di properti. Pikiran saya main bola tidak lama. Saya juga bantu orang tua dan adik untuk biaya sekolah. Paling tidak secara perlahan ekonomi keluarga saya bantu.

Tahun pertama saya di Persebaya juga jadi yang paling berkesan dari total 10 tahun berseragam Persebaya. Saya masuk ke tim dengan perjuangan yang tidak mudah tetapi bisa langsung juara dengan usia yang sangat muda dan bonusnya dipanggil timnas juga.

Di awal saya sempat minder karena waktu itu Persebaya bertabur bintang dan ditargetkan juara. Aji Santoso, Chairil Anwar, Aji Santoso, Bejo Sugiantoro, Anang Ma'ruf sudah ngetop waktu itu.

Apalagi ada pemain asing seperti Carlos de Mello sampai Jacksen Tiago dalam tim yang dijuluki The Dream Team. Sementara saya masih anak bawang, pemain yang masuk ke tim dengan status magang.

Tetapi berkat bimbingan pemain-pemain senior, dan kebetulan om Rusdy Bahalwan senang dengan pemain muda, proses saya masuk ke tim terbilang lancar.

Banner gif video highlights MotoGP

Juara Liga Indonesia 1997 juga terasa istimewa karena waktu itu semua elemen mendukung. Mulai dari manajemen, tim pelatih, sampai pemain. Semuanya kompak. Kita main di kandang atau luar kandang insya Allah bisa ambil poin.

Tanpa bermaksud sombong, saya sampai sekarang masih jadi pemain lokal tersubur di Persebaya. Seingat saya ada sekitar 100 gol saya cetak selama 10 tahun di sana. Jujur sih banyaknya saya terima gol dari hasil bola muntah ha..ha..ha

Sepanjang karier saya juga termasuk beruntung tidak pernah bermain di klub yang punya masalah finansial. Semua aman. Di Persisam Samarinda, Persidafon Dafonsoro, Gresik United, lancar apalagi pas ikut Persebaya.

Gaji paling besar sebagai pemain saya dapatkan saat satu musim memperkuat PSPS. Di akhir musim saya ditawari kembali ke Persebaya dan juara untuk kali kedua tahun 2004. Kami juara bersama pemain-pemain seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Gendut Dony, sampai Yeyen Tumena.

Saya kemudian memutuskan pensiun tahun 2015 saat Indonesia dijatuhi sanksi FIFA. Karena kompetisi terhenti, saya merasa saat itu jadi waktu yang tepat untuk mengakhiri karier sepak bola di usia 37 tahun.

Gagal Penalti di Final SEA Games 1997

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK