Uston Nawawi: Dari Anak Bawang ke Legenda Persebaya
Uston Nawawi | CNN Indonesia
Rabu, 25 Nov 2020 19:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Uston Nawawi mempersembahkan dua gelar juara untuk Persebaya Surabaya sepanjang kariernya. (Dok. Persebaya)
Jakarta, CNN Indonesia --
Saya berhasil mempersembahkan dua gelar juara Liga Indonesia untuk Persebaya Surabaya semasa aktif jadi pemain. Semua itu tidak diraih dengan mudah. Butuh tekad kuat, kerja keras, dan disiplin untuk mewujudkannya.
Saya berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Bapak saya seorang wasit, bukan wasit nasional tetapi hanya wasit lokal di Sidoarjo. Profesi wasit itu jadi pekerjaan paruh waktu Bapak selain bertani.
Semasa kanak-kanak saya ikut ke manapun Bapak memimpin pertandingan. Selain itu, sejak kecil saya sudah menyukai Persebaya dan bermimpi bisa bermain di Persebaya, salah satu klub besar di Jawa Timur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika Persebaya main saya jadi Bonek, nonton pertandingan Stadion Tambaksari. Tempat favorit saya nonton di bawah papan skor, dengan tiket kelas ekonomi. Waktu itu bisa nonton langsung pertandingan sudah bikin bahagia.
Saya sudah bermain bola sejak duduk di bangku Sekolah Dasar di Klagen, Sidoarjo. Seingat saya waktu itu saya masih main sebagai libero, belum jadi gelandang serang seperti yang diketahui banyak orang semasa saya masih aktif bermain.
Uston Nawawi sempat mengalami cedera parah semasa kanak-kanak sebelum jadi legenda Persebaya Surabaya. (Dok. Persebaya)
Orang tua memberikan dukungan penuh agar saya jadi pesepakbola karena untuk sekolah sampai jenjang yang tinggi butuh biaya besar. Dari empat bersaudara, hanya ada satu adik saya yang jadi sarjana, itu yang paling tinggi.
Secara akademis sebenarnya saya mampu, malah pas Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya masuk sekolah favorit. Semasa duduk di bangku SMP itu pula saya sempat ditertawai guru bimbingan penyuluhan.
Ini karena saya menuliskan pesepak bola saat mengisi cita-cita saya. Tekad saya semakin kuat setelah momen itu karena ingin membuktikan bermain sepak bola bisa jadi jalan hidup. Dulu profesi sebagai pesepakbola memang dipandang sebelah mata.
Perjuangan saya untuk berseragam Persebaya hingga akhirnya bisa masuk timnas Indonesia tidak mudah dan berliku. Saya pernah mengalami retak engkel kaki kanan saat masih bermain di Sekolah Sepak Bola (SSB) yang terletak di perbatasan Sidoarjo dan Surabaya.
Karena berasal dari keluarga biasa-biasa saja saya hanya melakukan pengobatan tradisional. Hampir enam bulan saya menjalani pemulihan cedera hingga bisa sembuh.
Saya sangat sedih begitu diketahui kena cedera engkel parah meski tidak sampai terpuruk dalam waktu lama. Akan tetapi saya punya tekad kuat untuk bisa bermain bola lagi. Saya ingin mewujudkan cita-cita saya jadi pemain bola untuk mengangkat ekonomi keluarga.
Selain sempat cedera parah, saya juga kerap gagal saat mengikuti seleksi. Salah satunya seleksi tim PON Jawa Timur tahun 1996. Hikmahnya tidak masuk tim PON tetapi bisa masuk Persebaya he..he..he
Proses seleksi masuk Persebaya itu tidak mudah karena seingat saya ada ratusan pemain yang ikut. Alhamdulillah saya bisa masuk setelah proses seleksi beres selama tiga bulan.
Uston Nawawi dipanggil memperkuat Timnas Indonesia saat masih berusia 19 tahun. (AFP/WEDA)
Saya jadi pemain magang di Persebaya, tim yang waktu itu bertabur bintang. Saya harus menunggu hingga pertengahan musim untuk bisa main. Alhamdulillah setelah itu prestasi meningkat kemudian dipanggil ke timnas Indonesia.
Saya masih ingat gaji pertama di Persebaya. Sebagai pemain magang saya digaji 750 ribu per bulan pada 1996. Waktu itu gaji bulanan saya malah kalah dari bonus kemenangan tim.
Bonusnya waktu itu sudah jutaan untuk sekali menang. Zaman itu, sebelum krisis moneter angka itu sudah besar. Dulu punya uang tiga juta saja sudah bisa beli motor baru.
Uang dari bonus kemenangan itu kemudian saya tabung. Tidak sampai setahun di Persebaya, saya sudah bisa beli motor baru. Senang karena bisa beli motor dari hasil keringat saya sendiri.
Setelah motor saya juga bisa beli mobil tetapi tidak yang mewah karena saya memilih berinvestasi di properti. Pikiran saya main bola tidak lama. Saya juga bantu orang tua dan adik untuk biaya sekolah. Paling tidak secara perlahan ekonomi keluarga saya bantu.
Tahun pertama saya di Persebaya juga jadi yang paling berkesan dari total 10 tahun berseragam Persebaya. Saya masuk ke tim dengan perjuangan yang tidak mudah tetapi bisa langsung juara dengan usia yang sangat muda dan bonusnya dipanggil timnas juga.
Di awal saya sempat minder karena waktu itu Persebaya bertabur bintang dan ditargetkan juara. Aji Santoso, Chairil Anwar, Aji Santoso, Bejo Sugiantoro, Anang Ma'ruf sudah ngetop waktu itu.
Apalagi ada pemain asing seperti Carlos de Mello sampai Jacksen Tiago dalam tim yang dijuluki The Dream Team. Sementara saya masih anak bawang, pemain yang masuk ke tim dengan status magang.
Tetapi berkat bimbingan pemain-pemain senior, dan kebetulan om Rusdy Bahalwan senang dengan pemain muda, proses saya masuk ke tim terbilang lancar.
Juara Liga Indonesia 1997 juga terasa istimewa karena waktu itu semua elemen mendukung. Mulai dari manajemen, tim pelatih, sampai pemain. Semuanya kompak. Kita main di kandang atau luar kandang insya Allah bisa ambil poin.
Tanpa bermaksud sombong, saya sampai sekarang masih jadi pemain lokal tersubur di Persebaya. Seingat saya ada sekitar 100 gol saya cetak selama 10 tahun di sana. Jujur sih banyaknya saya terima gol dari hasil bola muntah ha..ha..ha
Sepanjang karier saya juga termasuk beruntung tidak pernah bermain di klub yang punya masalah finansial. Semua aman. Di Persisam Samarinda, Persidafon Dafonsoro, Gresik United, lancar apalagi pas ikut Persebaya.
Gaji paling besar sebagai pemain saya dapatkan saat satu musim memperkuat PSPS. Di akhir musim saya ditawari kembali ke Persebaya dan juara untuk kali kedua tahun 2004. Kami juara bersama pemain-pemain seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Gendut Dony, sampai Yeyen Tumena.
Saya kemudian memutuskan pensiun tahun 2015 saat Indonesia dijatuhi sanksi FIFA. Karena kompetisi terhenti, saya merasa saat itu jadi waktu yang tepat untuk mengakhiri karier sepak bola di usia 37 tahun.
Saya tujuh tahun bermain di timnas Indonesia. Sayangnya memang tidak ada gelar yang bisa saya persembahkan untuk tim Garuda.
Kisah saya bersama timnas bermula dari PSSI Baretti tahun 1996. Aksi saya dilihat Om Danurwindo saat berlangsungnya Pekan Olahraga Pelajar di Jawa Timur. Saya dipanggil ke Jakarta bersama Charis Yulianto dan Agung Prasetyo.
Seleksinya benar-benar susah untuk bisa masuk PSSI Baretti. Lewat proses ketat di Jakarta, saya, Charis Yulianto, Imran Nahumarury, Elie Aiboy, dan almarhum Ngadiono berangkat ke Italia menyusul teman-teman yang sudah ada di sana.
Sampai sekarang saya juga dekat dengan Imran karena dulu kami pernah satu kamar selama di Italia. Saya juga mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman selama menimba ilmu di sana.
Uston Nawawi (kedua dari kiri bawah) saat memperkuat Timnas Indonesia di ajang internasional. (AFP PHOTO / AMIN)
Cara bermain kita ketika itu sudah sangat ketinggalan. Kita bermain bola bisa balik badan saja sudah bagus. Di Italia organisasi permainannya rapih, pintar, cerdas, dan kuat. Kalau di sini kita main bola masih bisa sambil tengak-tengok tetapi jangan harap bisa seperti itu di sana ha..ha..ha
Sepulang dari Italia saya membela Persebaya. Penampilan bagus di Persebaya mengantar saya ke timnas Indonesia. Saya jadi salah satu pemain muda yang masuk dari 18 pemain untuk memperkuat timnas Indonesia di SEA Games 1997.
Secara pribadi saya juga cukup terkesan dengan coach Henk Wullems. Dia pelatih yang suka dengan pemain muda dan seorang yang disiplin. Saat latihan dia tidak pernah bercanda. Dia menganggap latihan itu sudah seperti pertandingan.
Di SEA Games 1997, jalan kami dari penyisihan sampai semifinal terbilang mulus. Di final, Thailand telah menanti, lawan terberat di kawasan Asia Tenggara. Sayang kami gagal saat tinggal selangkah lagi menyamai sukses di SEA Games 1991, di mana timnas Indonesia terakhir kali meraih medali emas.
Kami bermain imbang hingga pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti dalam laga yang disaksikan 120 ribu penonton. Saya terpaksa jadi eksekutor penalti karena pemain-pemain senior banyak yang tidak berani.
Uston Nawawi gagal mengeksekusi penalti di final SEA Games 1997. (Dok. Persebaya)
Saya percaya diri saja meski suasananya begitu tegang. Sejujurnya, saya belum pengalaman mengambil penalti karena di Persebaya juga belum dapat jatah jadi eksekutor. Maklum saya masih anak bawang.
Pertama ditunjuk Henk Wullems saya mencoba yakin saja. Anehnya begitu jalan dari tengah lapangan ke arah gawang, badan ini terasa ringan, seperti melayang. Rasanya sudah tidak enak.
Benar saja begitu bola saya tendang, arahnya justru jauh dari gawang. Ini persoalan demam panggung dan masalah mental. Setelah penalti nggak masuk dan kami gagal juara, dua hari saya sulit tidur. Benar-benar susah melupakannya karena saya jadi pemain yang gagal bersama Ronny Wabia.
Pelatih Henk Wullems sebenarnya sudah coba membesarkan hati saya. Dia katakan 'itu sudah biasa dan tidak usah terlalu dipikirkan'. Pemain-pemain senior juga bisa menerima kegagalan saya tetapi masih saja seperti ada yang terasa mengganjal dalam hati.
Momen adu penalti itu memang benar-benar mendebarkan. Padahal kiper sudah bergerak ke arah yang salah tetapi bola yang saya tendang malah naik.
Pertama saya sempat merasa syok tetapi begitu kembali ke klub segalanya bisa berjalan kembali normal. Namun, jujur saya katakan memori tidak menyenangkan di final SEA Games 1997 sulit hilang.
Pada 2000 kami kembali bertemu Thailand di Piala Tiger. Kali ini kami kalah telak dengan skor 1-4. Saya menjadi satu-satunya pencetak gol timnas Indonesia yang harus puas jadi runner up.
Selama berseragam timnas Indonesia, saya merasa yang paling berkesan justru saat memperkuat timnas Indonesia di Pra Piala Dunia. Di sana kami bisa merasakan bermain sepak bola di level tertinggi.
Saya merasa bangga bisa ikut memperkuat timnas Indonesia di ajang ini. Meskipun hasilnya kurang bagus, masih sangat jauh dari harapan.
Saya juga punya cerita lucu saat Timnas Indonesia tandang melawan China pada Pra Piala Dunia 2002 di Kunming. Babak pertama kami menang 1-0 berkat gol Charis Yulianto.
Memasuki babak kedua, China bisa mencetak lima gol ke gawang kami dan pertandingan berakhir dengan skor 1-5. Cuaca memang begitu dingin di sana dan kami juga kalah stamina.
Di laga itu juga terlihat jelas Timnas Indonesia masih belum sanggup bermain konsisten selama 2x45 menit. Pemain kita belum bisa bermain dengan sama baiknya selama 90 menit.
Jakarta, CNN Indonesia --
Saya berhasil mempersembahkan dua gelar juara Liga Indonesia untuk Persebaya Surabaya semasa aktif jadi pemain. Semua itu tidak diraih dengan mudah. Butuh tekad kuat, kerja keras, dan disiplin untuk mewujudkannya.
Saya berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Bapak saya seorang wasit, bukan wasit nasional tetapi hanya wasit lokal di Sidoarjo. Profesi wasit itu jadi pekerjaan paruh waktu Bapak selain bertani.
Semasa kanak-kanak saya ikut ke manapun Bapak memimpin pertandingan. Selain itu, sejak kecil saya sudah menyukai Persebaya dan bermimpi bisa bermain di Persebaya, salah satu klub besar di Jawa Timur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika Persebaya main saya jadi Bonek, nonton pertandingan Stadion Tambaksari. Tempat favorit saya nonton di bawah papan skor, dengan tiket kelas ekonomi. Waktu itu bisa nonton langsung pertandingan sudah bikin bahagia.
Saya sudah bermain bola sejak duduk di bangku Sekolah Dasar di Klagen, Sidoarjo. Seingat saya waktu itu saya masih main sebagai libero, belum jadi gelandang serang seperti yang diketahui banyak orang semasa saya masih aktif bermain.
Uston Nawawi sempat mengalami cedera parah semasa kanak-kanak sebelum jadi legenda Persebaya Surabaya. (Dok. Persebaya)
Orang tua memberikan dukungan penuh agar saya jadi pesepakbola karena untuk sekolah sampai jenjang yang tinggi butuh biaya besar. Dari empat bersaudara, hanya ada satu adik saya yang jadi sarjana, itu yang paling tinggi.
Secara akademis sebenarnya saya mampu, malah pas Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya masuk sekolah favorit. Semasa duduk di bangku SMP itu pula saya sempat ditertawai guru bimbingan penyuluhan.
Ini karena saya menuliskan pesepak bola saat mengisi cita-cita saya. Tekad saya semakin kuat setelah momen itu karena ingin membuktikan bermain sepak bola bisa jadi jalan hidup. Dulu profesi sebagai pesepakbola memang dipandang sebelah mata.
Perjuangan saya untuk berseragam Persebaya hingga akhirnya bisa masuk timnas Indonesia tidak mudah dan berliku. Saya pernah mengalami retak engkel kaki kanan saat masih bermain di Sekolah Sepak Bola (SSB) yang terletak di perbatasan Sidoarjo dan Surabaya.
Karena berasal dari keluarga biasa-biasa saja saya hanya melakukan pengobatan tradisional. Hampir enam bulan saya menjalani pemulihan cedera hingga bisa sembuh.
Saya sangat sedih begitu diketahui kena cedera engkel parah meski tidak sampai terpuruk dalam waktu lama. Akan tetapi saya punya tekad kuat untuk bisa bermain bola lagi. Saya ingin mewujudkan cita-cita saya jadi pemain bola untuk mengangkat ekonomi keluarga.
Selain sempat cedera parah, saya juga kerap gagal saat mengikuti seleksi. Salah satunya seleksi tim PON Jawa Timur tahun 1996. Hikmahnya tidak masuk tim PON tetapi bisa masuk Persebaya he..he..he
Proses seleksi masuk Persebaya itu tidak mudah karena seingat saya ada ratusan pemain yang ikut. Alhamdulillah saya bisa masuk setelah proses seleksi beres selama tiga bulan.
Uston Nawawi dipanggil memperkuat Timnas Indonesia saat masih berusia 19 tahun. (AFP/WEDA)
Saya jadi pemain magang di Persebaya, tim yang waktu itu bertabur bintang. Saya harus menunggu hingga pertengahan musim untuk bisa main. Alhamdulillah setelah itu prestasi meningkat kemudian dipanggil ke timnas Indonesia.
Saya masih ingat gaji pertama di Persebaya. Sebagai pemain magang saya digaji 750 ribu per bulan pada 1996. Waktu itu gaji bulanan saya malah kalah dari bonus kemenangan tim.
Bonusnya waktu itu sudah jutaan untuk sekali menang. Zaman itu, sebelum krisis moneter angka itu sudah besar. Dulu punya uang tiga juta saja sudah bisa beli motor baru.
Uang dari bonus kemenangan itu kemudian saya tabung. Tidak sampai setahun di Persebaya, saya sudah bisa beli motor baru. Senang karena bisa beli motor dari hasil keringat saya sendiri.
Setelah motor saya juga bisa beli mobil tetapi tidak yang mewah karena saya memilih berinvestasi di properti. Pikiran saya main bola tidak lama. Saya juga bantu orang tua dan adik untuk biaya sekolah. Paling tidak secara perlahan ekonomi keluarga saya bantu.
Tahun pertama saya di Persebaya juga jadi yang paling berkesan dari total 10 tahun berseragam Persebaya. Saya masuk ke tim dengan perjuangan yang tidak mudah tetapi bisa langsung juara dengan usia yang sangat muda dan bonusnya dipanggil timnas juga.
Di awal saya sempat minder karena waktu itu Persebaya bertabur bintang dan ditargetkan juara. Aji Santoso, Chairil Anwar, Aji Santoso, Bejo Sugiantoro, Anang Ma'ruf sudah ngetop waktu itu.
Apalagi ada pemain asing seperti Carlos de Mello sampai Jacksen Tiago dalam tim yang dijuluki The Dream Team. Sementara saya masih anak bawang, pemain yang masuk ke tim dengan status magang.
Tetapi berkat bimbingan pemain-pemain senior, dan kebetulan om Rusdy Bahalwan senang dengan pemain muda, proses saya masuk ke tim terbilang lancar.
Juara Liga Indonesia 1997 juga terasa istimewa karena waktu itu semua elemen mendukung. Mulai dari manajemen, tim pelatih, sampai pemain. Semuanya kompak. Kita main di kandang atau luar kandang insya Allah bisa ambil poin.
Tanpa bermaksud sombong, saya sampai sekarang masih jadi pemain lokal tersubur di Persebaya. Seingat saya ada sekitar 100 gol saya cetak selama 10 tahun di sana. Jujur sih banyaknya saya terima gol dari hasil bola muntah ha..ha..ha
Sepanjang karier saya juga termasuk beruntung tidak pernah bermain di klub yang punya masalah finansial. Semua aman. Di Persisam Samarinda, Persidafon Dafonsoro, Gresik United, lancar apalagi pas ikut Persebaya.
Gaji paling besar sebagai pemain saya dapatkan saat satu musim memperkuat PSPS. Di akhir musim saya ditawari kembali ke Persebaya dan juara untuk kali kedua tahun 2004. Kami juara bersama pemain-pemain seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Gendut Dony, sampai Yeyen Tumena.
Saya kemudian memutuskan pensiun tahun 2015 saat Indonesia dijatuhi sanksi FIFA. Karena kompetisi terhenti, saya merasa saat itu jadi waktu yang tepat untuk mengakhiri karier sepak bola di usia 37 tahun.
Gagal Penalti di Final SEA Games 1997
Uston Nawawi saat memperkuat Timnas Indonesia. (AFP/WEDA)
Saya tujuh tahun bermain di timnas Indonesia. Sayangnya memang tidak ada gelar yang bisa saya persembahkan untuk tim Garuda.
Kisah saya bersama timnas bermula dari PSSI Baretti tahun 1996. Aksi saya dilihat Om Danurwindo saat berlangsungnya Pekan Olahraga Pelajar di Jawa Timur. Saya dipanggil ke Jakarta bersama Charis Yulianto dan Agung Prasetyo.
Seleksinya benar-benar susah untuk bisa masuk PSSI Baretti. Lewat proses ketat di Jakarta, saya, Charis Yulianto, Imran Nahumarury, Elie Aiboy, dan almarhum Ngadiono berangkat ke Italia menyusul teman-teman yang sudah ada di sana.
Sampai sekarang saya juga dekat dengan Imran karena dulu kami pernah satu kamar selama di Italia. Saya juga mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman selama menimba ilmu di sana.
Uston Nawawi (kedua dari kiri bawah) saat memperkuat Timnas Indonesia di ajang internasional. (AFP PHOTO / AMIN)
Cara bermain kita ketika itu sudah sangat ketinggalan. Kita bermain bola bisa balik badan saja sudah bagus. Di Italia organisasi permainannya rapih, pintar, cerdas, dan kuat. Kalau di sini kita main bola masih bisa sambil tengak-tengok tetapi jangan harap bisa seperti itu di sana ha..ha..ha
Sepulang dari Italia saya membela Persebaya. Penampilan bagus di Persebaya mengantar saya ke timnas Indonesia. Saya jadi salah satu pemain muda yang masuk dari 18 pemain untuk memperkuat timnas Indonesia di SEA Games 1997.
Secara pribadi saya juga cukup terkesan dengan coach Henk Wullems. Dia pelatih yang suka dengan pemain muda dan seorang yang disiplin. Saat latihan dia tidak pernah bercanda. Dia menganggap latihan itu sudah seperti pertandingan.
Di SEA Games 1997, jalan kami dari penyisihan sampai semifinal terbilang mulus. Di final, Thailand telah menanti, lawan terberat di kawasan Asia Tenggara. Sayang kami gagal saat tinggal selangkah lagi menyamai sukses di SEA Games 1991, di mana timnas Indonesia terakhir kali meraih medali emas.
Kami bermain imbang hingga pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti dalam laga yang disaksikan 120 ribu penonton. Saya terpaksa jadi eksekutor penalti karena pemain-pemain senior banyak yang tidak berani.
Uston Nawawi gagal mengeksekusi penalti di final SEA Games 1997. (Dok. Persebaya)
Saya percaya diri saja meski suasananya begitu tegang. Sejujurnya, saya belum pengalaman mengambil penalti karena di Persebaya juga belum dapat jatah jadi eksekutor. Maklum saya masih anak bawang.
Pertama ditunjuk Henk Wullems saya mencoba yakin saja. Anehnya begitu jalan dari tengah lapangan ke arah gawang, badan ini terasa ringan, seperti melayang. Rasanya sudah tidak enak.
Benar saja begitu bola saya tendang, arahnya justru jauh dari gawang. Ini persoalan demam panggung dan masalah mental. Setelah penalti nggak masuk dan kami gagal juara, dua hari saya sulit tidur. Benar-benar susah melupakannya karena saya jadi pemain yang gagal bersama Ronny Wabia.
Pelatih Henk Wullems sebenarnya sudah coba membesarkan hati saya. Dia katakan 'itu sudah biasa dan tidak usah terlalu dipikirkan'. Pemain-pemain senior juga bisa menerima kegagalan saya tetapi masih saja seperti ada yang terasa mengganjal dalam hati.
Momen adu penalti itu memang benar-benar mendebarkan. Padahal kiper sudah bergerak ke arah yang salah tetapi bola yang saya tendang malah naik.
Pertama saya sempat merasa syok tetapi begitu kembali ke klub segalanya bisa berjalan kembali normal. Namun, jujur saya katakan memori tidak menyenangkan di final SEA Games 1997 sulit hilang.
Pada 2000 kami kembali bertemu Thailand di Piala Tiger. Kali ini kami kalah telak dengan skor 1-4. Saya menjadi satu-satunya pencetak gol timnas Indonesia yang harus puas jadi runner up.
Selama berseragam timnas Indonesia, saya merasa yang paling berkesan justru saat memperkuat timnas Indonesia di Pra Piala Dunia. Di sana kami bisa merasakan bermain sepak bola di level tertinggi.
Saya merasa bangga bisa ikut memperkuat timnas Indonesia di ajang ini. Meskipun hasilnya kurang bagus, masih sangat jauh dari harapan.
Saya juga punya cerita lucu saat Timnas Indonesia tandang melawan China pada Pra Piala Dunia 2002 di Kunming. Babak pertama kami menang 1-0 berkat gol Charis Yulianto.
Memasuki babak kedua, China bisa mencetak lima gol ke gawang kami dan pertandingan berakhir dengan skor 1-5. Cuaca memang begitu dingin di sana dan kami juga kalah stamina.
Di laga itu juga terlihat jelas Timnas Indonesia masih belum sanggup bermain konsisten selama 2x45 menit. Pemain kita belum bisa bermain dengan sama baiknya selama 90 menit.