Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia baku pukul dengan mulut besar merupakan sesuatu yang seiring sejalan. Di UFC, Conor McGregor menjadi petarung yang punya hal itu. Lewat 'congor' McGregor memberikan teror, namun punya risiko berbalik tertelan ucapan sendiri.
Sebagai olahraga yang menyajikan adu kekuatan, UFC juga tak lepas dari kehadiran petarung-petarung bermulut besar. Kehebatan dan kekuatan seolah identik dan lekat dengan kesombongan dan mulut besar.
Mulut-mulut besar petarung itu kemudian berujung pada dua cerita. Pertama, ketika sang petarung mampu mewujudkan kata-kata dari celoteh fantastis, sehingga bualan mereka tak jadi omong kosong dan bisa berwujud nyata. Kedua, ketika petarung kalah dan akhirnya mereka menjelma jadi badut yang patut ditertawakan seusai pertarungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
McGregor adalah perwujudan dari hal itu. Ia seolah menjadi petarung yang terbentuk lewat rangkaian kata-kata, yang terkadang indah dan menjual, meski tak jarang kata-katanya ofensif dan agresif.
 Conor McGregor sempat menjadi petarung yang brutal di dalam dan luar octagon. (AP Photo/John Locher) |
"Saya tidak takut siapapun. Bila kamu masih menghirup oksigen, saya tidak akan takut padamu," ucap McGregor dalam wawancara dengan MMA Sentinel di 2013 dikutip dari Bloody Elbow.
Setahun kemudian McGregor juga mengeluarkan kalimat bombastis ketika mengalahkan Diego Brandao di Dublin.
"Kami ada di sini bukan hanya sekadar untuk ambil bagian. Kami ada di sini untuk mengambil alih [UFC]," tutur McGregor dikutip dari Versus.
Kelihaian McGregor merangkai kata-kata, ditambah kemampuannya di octagon, membuat The Notorious jadi salah satu tokoh berpengaruh dalam sejarah UFC.
[Gambas:Video CNN]
Bos UFC Dana White bahkan mengakui McGregor memiliki level yang berbeda dibandingkan legenda-legenda UFC sebelumnya. McGregor adalah sosok yang bisa membawa UFC dikenal secara global.
Tak heran bila kemudian McGregor dianggap anak emas UFC oleh sejumlah petarung. Namun tahun-tahun awal karier McGregor di UFC, mulut besar McGregor memang selaras dengan kemampuannya di Octagon.
Bukan membantah atas tudingan sebagai 'Anak Emas', McGregor malah dengan bangga menegaskan ia memang jadi sosok yang mengendalikan UFC.
"Saya menjalankan semuanya. Saya mengatur New York, saya mengendalikan kapal ini [UFC]. Tanpa saya, semua ini tak akan terjadi," kata McGregor pada 2016 dikutip dari Sports Illustrated.
Nama Harum Hingga 2016
Permainan kata-kata dan mental yang diperagakan McGregor ikut sukses mengantarnya jadi juara UFC kelas bulu. Dalam duel lawan Jose Aldo, McGregor hanya butuh 13 detik untuk membungkam salah satu petarung terbaik dalam sejarah UFC tersebut.
Kemenangan itu tak lepas dari kepiawaian McGregor melakukan serangan verbal terhadap Aldo jelang pertarungan. McGregor terus mengumbar keyakinan bahwa ia bakal 'membunuh' Aldo. McGregor meyakini Aldo akan bertarung dalam kondisi kelelahan mental.
Setelah menang lawan Aldo, McGregor melakukan langkah bombastis dengan duel lawan Nate Diaz di kelas welter. Hal itu berarti McGregor naik dua kelas dan harus menghadapi lawan dengan bobot pukulan lebih besar dibanding lawan-lawannya di kelas bulu.
McGregor memang kalah di partai pertama, tetapi sukses menang angka di partai kedua. Meski sempat kalah, nama McGregor tetap harum karena ia menyajikan duel berdarah lawan Diaz.
McGregor lagi-lagi berhasil membuktikan mulut besarnya ketika ia berucap tidak takut soal berat badan dalam bertarung. Satu hal yang pasti, menurut McGregor, bayaran bertarungnya ada di kelas super heavyweight. Sebuah kesombongan yang hakiki dari McGregor!
McGregor lalu melanjutkan langkah fantastis dengan mengalahkan Eddie Alvarez. Ia menang TKO di ronde kedua dan jadi petarung pertama dalam sejarah UFC yang jadi juara di dua kelas secara bersamaan.
McGregor juga mengeluarkan serangan verbal sebelum laga lawan Eddie Alvarez.
"Saya merasa penonton akan melihat sesuatu yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Saya akan bermain-main dengan orang ini. Saya akan mengubah struktur wajahnya. Istri dan anaknya tidak akan mengenalinya lagi."
[Gambas:Video CNN]
"Teman-temannya akan memahami bahwa ia tak lagi sama setelah pertarungan. Kamu tidak akan pernah kembali sama. Anak-anakmu bakal memohon, 'Ayah, jangan pergi lagi'," tutur McGregor sebelum pertarungan.
Meski melakukan serangan agresif di setiap pra-pertarungan, McGregor menekankan dirinya adalah petarung yang rendah hati begitu hasil pertandingan diumumkan.
"Saya terlihat mengesalkan saat prediksi. Saya sangat percaya diri saat persiapan, namun saya selalu jadi sosok rendah hati, baik dalam kemenangan dan kekalahan," ucap McGregor di 2014.
Sikap itu juga ditunjukkan McGregor usai menang lawan Aldo. McGregor mengaku bersimpati pada kekalahan yang dialami Aldo.
"Meski saya mendapatkan perasaan gembira untuk menang KO, namun di saat bersamaan hal itu juga tidak terasa baik. Kalian bisa melihat hal yang terjadi di sekitar dan tentu kalian tidak ingin melihat juara dalam sejarah UFC harus keluar dengan cara seperti itu [kalah 13 detik]," ujar McGregor.
Khabib yang Mengubah McGregor
Conor McGregor mampu bangkit usai kekalahan dari Khabib Nurmagomedov. (Steve Marcus/Getty Images/AFP)
Tetapi tak selamanya McGregor benar-benar rendah hati usai menang. Tengok saja ketika ia menang lawan Eddie Alvarez dan jadi juara di dua kelas secara bersamaan.
"Saya mengejek semua orang yang ada di daftar petarung UFC. Dan saya hanya ingin mengatakan dari lubuk hati terdalam, bahwa saya ingin mengambil momen ini untuk meminta maaf... tidak pada siapapun. Juara dengan dua gelar bisa melakukan apapun yang ia inginkan!" ujar McGregor.
Kalimat tersebut jelas menggambarkan level kesombongan McGregor disertai pembuktian bahwa ia tak sekadar omong kosong.
Dimakan Mulut Sendiri
McGregor kemudian sepertinya mengalami kejenuhan lantaran sudah mendapatkan segalanya di UFC. Ia tergoda untuk mencoba hal baru, sesuatu yang baru, dan tentunya dengan pendapatan yang lebih besar.
Ia vakum dari UFC di 2017 demi persiapan duel lawan Floyd Mayweather Jr. di ring tinju. Kata-kata tajam McGregor dalam persiapan duel lawan Mayweather turut mengangkat pamor laga ini, meskipun sudah banyak yang yakin McGregor mustahil bisa mengalahkan petinju yang tak mampu ditaklukkan nama-nama tenar macam Oscar De La Hoya dan Manny Pacquiao.
McGregor akhirnya kalah TKO di ronde ke-10. Tetapi dari segi pemasaran, duel yang sejatinya 'berat sebelah' ini sukses besar. Mayweather mendapat uang dengan mudah, McGregor merasakan bayaran puluhan kali lipat dari yang biasa ia terima di UFC, dan penonton tak lagi penasaran soal duel dua raja tersebut.
Setelah meraih banyak uang di ring tinju, McGregor kembali ke UFC. Ia tak lagi berstatus sebagai juara bertahan, namun masih mendapat keistimewaan dengan langsung meraih duel perebutan gelar melawan Khabib Nurmagomedov yang saat itu sudah jadi juara kelas ringan.
Kesalahan terbesar McGregor adalah ia sempat meninggalkan UFC demi bayaran besar di dunia tinju. Hal itu membuat segala hal di UFC tak lagi berada di dalam kuasa dan kontrolnya.
Pada 2018, Khabib yang sudah berstatus sebagai juara bertahan bersikap lebih tenang jelang pertarungan. Sementara itu McGregor justru menunjukkan tingkah-tingkah tak elegan seperti melakukan penyerangan bus yang ditumpangi Khabib di Media Day UFC 223.
 Conor McGregor termakan ucapan sendiri saat melawan Khabib Nurmagomedov. (Steven Ryan/Getty Images/AFP) |
McGregor kemudian menghujani Khabib dengan segala macam sumpah serapah dan ejekan demi ejekan, termasuk serangan verbal pada keluarga dan identitas yang melekat pada Khabib sebagai muslim Dagestan.
UFC 229 yang jadi panggung McGregor vs Khabib memang terbukti sukses besar dari segi promosi. Segalanya berjalan panas. McGregor kembali mengambil peran sebagai antagonis dengan komentar-komentar pedas yang ia keluarkan.
Tetapi pada akhirnya, di kesempatan kali ini, McGregor untuk kali pertama termakan ucapan sendiri.
Setelah UFC 229 berakhir, ia malah jadi badut yang ditertawakan banyak orang. Segala sesumbar McGregor tak terbukti di octagon. Momen McGregor melakukan tap out saat dikunci Khabib jelas lebih dari sekadar momen kekalahan.
Momen itu juga simbol bahwa sesumbar kejatuhan McGregor dari takhta raja di UFC.
Mulut McGregor yang biasa jadi sumber teror bagi lawan-lawannya kali ini berbalik menyerang dirinya sendiri. McGregor dibungkam kesombongan dan terkapar sebagai pesakitan.
[Gambas:Video CNN]
Apalagi ketika McGregor mengaku tidak fokus sepenuhnya dalam persiapan duel lawan Khabib, hal itu hanya menambah semangat para pembenci McGregor yang memang sudah lama menanti kejatuhannya.
Setelah kalah dari Khabib, McGregor sempat memenangi satu pertarungan melawan Cowboy Cerrone pada Januari 2020. Kemenangan itu terbilang impresif karena hadir hanya 40 detik setelah laga dimulai.
Rasa frustrasi McGregor untuk bisa selekasnya kembali ke puncak terlihat dari ancaman pensiun yang sempat dilakukan McGregor ke UFC. McGregor kecewa karena ia tak lekas mendapat jadwal laga di saat ia mengaku sudah punya fokus sepenuhnya untuk kembali bertarung di UFC.
Kesempatan yang ditunggu McGregor akhirnya tiba. Ia mendapatkan duel lawan Dustin Poirier, lawan yang pernah ia taklukkan di ronde pertama pada 2014 lalu.
Duel ini jadi salah satu penentu jalan McGregor di UFC. Andai ia menang, McGregor bisa kembali ke puncak UFC dan berkesempatan memegang kembali sabuk juara yang sempat dimilikinya.
Karena itu McGregor berusaha mempertaruhkan segalanya yang ia punya di duel ini dan hal itu terlihat jelas dari persiapan yang dilakukan McGregor selama ini.
McGregor ingin kembali bertakhta, meskipun hal itu tak akan lagi terasa sama seperti masa kejayaan sebelumnya andai ia benar-benar tak lagi punya kesempatan balas dendam pada Khabib yang saat ini sudah memutuskan pensiun dan meninggalkan arena UFC.