4 Dosa Bartomeu di Barcelona Selain Barcagate

osc, CNN Indonesia | Selasa, 02/03/2021 21:41 WIB
Berikut sejumlah dosa Josep Maria Bartomeu selama kepada Barcelona selama menjadi presiden selain skandal Barcagate. Josep Bartomeu punya banyak dosa kepada Barcelona selain skandal Barcagate. (AFP/LLUIS GENE).
Jakarta, CNN Indonesia --

Eks presiden Barcelona, Josep Maria Bartomeu ditangkap kepolisian karena skandal Barcagate. Berikut sejumlah dosa Bartomeu kepada Barcelona selain Barcagate.

Bartomeu diketahui menyewa agensi bernama I3 Ventures sebagai buzzer. Skandal ini mulai terungkap awal 2020 lalu. Saat itu Bartomeu dituding menggunakan dana klub untuk membayar sewa jasa I3 Ventures.

Bahkan menurut laporan jaringan radio Cadena SER, Bartomeu membayar 1 juta euro atau sekitar Rp 17,2 miliar rupiah kepada I3 Ventures yang disebut enam kali lipat dari harga pasaran.


Saat itu, Bartomeu menggunakan jasa I3 Ventures itu untuk menaikkan imejnya yang ingin kembali mengikuti pemilihan presiden pada 2021. Selain itu, I3 Ventures juga diperintahkan menyerang pemain-pemain macam Lionel Messi hingga Gerard Pique, legenda macam Carlse Puyol, Xavi Hernandez, hingga Pep Guardiola dengan kampanye negatif.

Selain skandal Barcagate, rupanya Bartomeu juga punya dosa lain yang turut andil dalam kehancuran Barcelona.

Banner Testimoni

Berikut empat dosa Bartomeu kepada Barcelona.

1. Melepas Neymar

Neymar didatangkan dari Santos pada 2013. Saat itu Bartomeu masih menjadi wakil presiden.

Namun saat menjadi presiden, tepatnya 2017, Bartomeu justru 'ikhlas' melepas Neymar ke PSG dengan mahar 222 juta Euro. Kepergian Neymar jelas mendapat pertentangan dari para pemain seperti Messi sampai para fans.

Bartomeu dianggap tak punya kemampuan untuk mempertahankan Neymar yang menjadi pemain penting di Barcelona.

2. Transfer 'Ajaib'

Bartomeu selama menjabat presiden juga kerap mendatangkan pemain-pemain yang sejatinya tak dibutuhkan tim. Kebijakan transfernya terbilang aneh bin ajaib.

Kebijakan transfer itu dimulai ketika Neymar pergi. Duit 222 juta Euro terbuang begitu saja karena pembelian panik yang dilakukan Bartomeu.

Paris Saint-Germain's Brazilian forward Neymar celebrates after scoring a goal during the French L1 football match Paris Saint-Germain (PSG) vs Guingamp (EAG), on January 19, 2019 at the Parc des Princes stadium in Paris. (Photo by Anne-Christine POUJOULAT / AFP)Kepergian Neymar ke PSG tak dibarengi oleh Josep Bartomeu dengan pembelian pemain yang sepadan dan dibutuhkan tim. (Anne-Christine POUJOULAT / AFP).

Saat itu Bartomeu mendatangkan Ousmane Dembele dan Phillipe Coutinho yang ternyata tak bisa menggantikan peran Neymar.

Selain itu, Bartomeu juga mendatangkan pemain-pemain medioker yang faktanya mereka justru jarang bermain lalu dijual lagi atau dipinjamkan ke klub lain. Sebut saja Jean-Clair Todibo, Malcom, Andre Gomez, Kevin Prince Boateng, Junior Firppo, hingga Martin Braithwaite.

Di era Bartomeu pula, Barcelona membeli Antoine Griezmann yang hingga hari ini belum bisa menunjukkan tajinya sebagai pemain kelas wahid. Belum lagi pertukaran pemain muda Arthur Melo dengan pemain tua Miralem Pjanic dari Juventus juga dianggap sebuah kesalahan.

3. Pecat Valverde, Datangkan Setien

Kebijakan lainnya adalah memecat Ernesto Valverde secara mendadak. Usai Blaugrana kalah di final Super Spanyol 2019, Valverde dipecat karena dianggap gagal.

Padahal, Valverde punya torehan prestasi meski hanya di kancah domestik. Setidaknya dia memberi dua gelar Liga Spanyol buat Barcelona selama tiga tahun melatih.

[Gambas:Video CNN]

Di sisi lain, Bartomeu tak punya pengganti sepadan. Alih-alih pelatih berkelas, Bartomeu justru mendatangkan Quique Setien dari Real Betis. Jelas Setien tak punya porto folio mumpuni untuk menangani Lionel Messi cs.

Hasilnya, Barcelona nir gelar pada 2019/2020. Keok di Copa Del Rey, kalah dari Real Madrid di Liga Spanyol, dan rontok di Liga Champions dari Bayern Munchen 2-8.

4. Kisruh dengan Messi

Segudang masalah Barcelona di tangan Bartomeu sebetulnya memuncak ketika Messi mengutarakan niatnya angkat kaki. Messi menganggap Barcelona hancur total sementara dewan klub yang dipimpin Bartomeu tak melakukan pembenahan menyeluruh.

Messi kecewa dan menyampaikan keinginan itu ke dewan klub. Namun Bartomeu mencegahnya. Alasannya klausul bebas transfer di akhir musim 2019/2020 sudah kedaluwarsa.

Bartomeu sendiri kemudian menyatakan akan menempuh jalur hukum jika Messi tetap ngotot pergi dengan klausul dimaksud.

Akhirnya Messi pun bertahan. Bukan karena Bartomeu, tetapi dia tak mau melawan klub yang dia cintai di pengadilan.

(osc/sry)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK