PODIUM HIJAB

Hajar Abulfazl, Pejuang Atlet Wanita Afghanistan

CNN Indonesia | Senin, 19/04/2021 16:00 WIB
Hajar Abulfazl merupakan generasi pertama pesepakbola wanita pertama di Afghanistan setelah jatuhnya Taliban pada 2001. Hajar Abufazl ingin perempuan bisa berpretasi di olahraga selayaknya laki-laki. (Getty Images via AFP/ROY ROCHLIN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pada 2007, gadis-gadis muda Afghanistan pergi ke stadion di Kabul dengan perlengkapan sepak bola baru. Momen itu jadi pertandingan pertama mereka setelah berlatih selama berbulan-bulan.

Salah satu pemain tim itu adalah Hajar Abulfazl. Pada momen tersebut, tim wanita muda Afghanistan melawan tim wanita Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF).

Dikutip dari Bustle, Hajar Abulfazl yang ketika itu berusia 13 termasuk generasi pertama pesepakbola wanita sejak jatuhnya rezim Taliban pada 2001.


"Kami memenangi pertandingan melawan tim wanita ISAF 5-0. Tetapi, yang lebih penting, kami memulai sesuatu yang baru di Afghanistan," kata Hajar Abulfazl.

Meskipun Taliban tidak lagi berkuasa, wanita-wanita di Afghanistan tetap kesulitan menunjukkan ekspresinya lewat olahraga.

Norma budaya dan agama di negara tersebut mendorong wanita untuk tidak keluar dari peran tradisional, yaitu menjadi ibu rumah tangga dibanding sebagai pesepakbola.

Akan tetapi, Hajar Abufzal jadi salah satu gadis yang mencoba mendobrak budaya konservatif di Afghanistan. Dia bersikeras mendalami keinginannya bermain sepak bola.

"Saya berusia 14 tahun ketika pertama kali mendaftar ke tim wanita di sekolah saya, dengan sedikit dorongan dari guru yang melihat minat saya pada olahraga," ucap Hajar.

[Gambas:Video CNN]

"Saya membutuhkan banyak keberanian untuk mendekati ayah saya terkait permintaan ini. Tetapi ketika saya akhirnya mengatakan kepadanya bahwa saya ingin bermain sepak bola, dia sangat gembira," tutur Hajar menambahkan.

Hajar bersyukur memiliki orang-orang terdekat yang mendukung keinginan dan kegiatan terhadap sepak bola yang masih dianggap pantangan di Afghanistan.

Wanita 27 tahun itu berasal dari keluarga besar. Hajar anak ketiga dari 12 bersaudara yang terdiri dari delapan perempuan dan empat laki-laki. Akan tetapi, keluarga inti Hajar sangat mendukung mimpinya menjadi pesepakbola.

"Saya beruntung memiliki saudara kandung dan orang tua yang mendukung, mendorong, dan melindungi saya, termasuk aktivitas sepak bola saya," ujar Hajar.

Hajar menuturkan, di tengah budaya tabu di Afghanistan, ayah dan ibunya mengizinkannya bermain dan berbicara dengan media. Tujuannya, agar Hajar menjadi teladan bagi gadis-gadis lain dan orang tua mereka.

"Dia [ayah] memegang tangan saya dan kami pergi ke toko olahraga membeli perlengkapan sepak bola. Di toko, dia mengatakan kepada manajer toko untuk memberikan yang terbaik dari semua yang mungkin dibutuhkan seorang pemain sepak bola. Itu adalah hari terindah dalam hidup saya," kenang Hajar.

Ketika keluarga dekat memberikan dukungan penuh, lain cerita dengan keluarga besar Hajar Abdulfazl. Ketika Hajar mulai bermain di liga, pamannya justru menentang langkahnya terjun di sepak bola.

Bukan sekadar dianggap tabu, sepak bola di mata paman Hajar merupakan kegiatan yang hina dan mendatangkan malu bagi keluarga besar mereka.

"Paman saya sangat menentang kegiatan olahraga saya. Dia mengatakan saya telah membawa aib bagi keluarga, dan bahkan dia merasa malu setiap kali dia mendengar nama saya di radio atau selama pertandingan nasional," ujar Hajar.

Banner Video Highlights MotoGP 2021

"Dia sering meminta saya tidak bermain. Dan pada suatu kali, ketika dia mengunjungi rumah kami, saya harus menyelinap keluar jendela untuk melakoni pertandingan agar terhindar dari kritiknya," ucap Hajar menambahkan.

Tekanan dari keluarga besar karena aliran kuno itu tidak menghalangi keteguhan Hajar terhadap sepak bola. Kariernya di lapangan hijau terus dijalaninya, sehingga membawanya tampil di level internasional.

Hajar bermain di timnas putri Afghanistan hampir satu dekade, sejak 2009 hingga 2017. Pada 2010 dan 21012, Hajar tampil bersama timnas putri Afghanistan di kejuaraan Federasi Sepak Bola Asia Selatan (SAFF).

Di turnamen SAFF timnas Afghanistan menorehkan beragam hasil. Setelah terpuruk pada 2010, Afganistan menang 4-0 atas Pakistan lalu imbang 1-1 dengan Maladewa.

Dalam pertandingan persahabatan, Hajar Abulfazl membawa Afghanistan menang 2-0 atas Qatar. Hajar juga ikut andil dalam laga persahabatan Afghanistan lain di Norwegia, Jerman, Sri Lanka, India, Qatar, Yordania, dan lainnya.

"Kami menelan beberapa kekalahan, tetapi juga meraih sejumlah kemenangan," kata Hajar yang semasa bermain mengisi posisi gelandang.

Mimpi Besar Hajar untuk Atlet Wanita di Afganistan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK